Breathe [BTS Version] Chapter 5

Breathe [BTS Version] Chapter 5

image

Title: Breathe
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young, Han Sa Na
Genre: Marriage Life, Angst, Romance, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Mengandung kekerasan dan bumbu ‘Marriage Life’ lain jika tidak kuat silakan klik tombol BACK, Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 5

~~~

Story begin..

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Sa Na memukul keras tembok kamar mandi. Pikirannya kembali kacau setelah ia tidak menemukan sang suami melingkupkan lengan di sekelilingnya. Pria itu pasti tidur di kamar Na Young, pikirnya menghentak-hentak kaki. Kesal. Ia sungguh kesal dengan sikap Jung Kook.

Segera ia bergerak, melenggang dari kamar, menuruni tangga dengan tergesa. Di pikirannya hanya satu: bagaimana cara menyingkirkan wanita jalang yang kini bersenang-senang dengan suaminya. Sebuah seringai terbit. Seringai tajam dan berbahaya.

“Antara cepat dan lambat sepertinya aku memilih yang pertama.” Sa Na mendekati pantry, mengambil kotak susu hamil, gelas dan termos air panas. Menyendok susu sesuai takaran lalu menuang air panas. “Karena akan lebih menyenangkan jika aku bisa bermain-main lebih lama.” Ia merogoh saku, mengambil botol kecil, membubuhkannya ke dalam gelas. Tak lupa ia juga menuang semua isi botol ke susu bubuk Na Young, mengaduk dengan sendok yang juga ia keluarkan dari kantungnya.

“Permainan baru saja dimulai, Im Na Young.”

***

Sebuah tepukan ringan mendarat di bahu Jung Kook membuatnya sedikit terlonjak. Konsentrasinya pecah mengingat kekesalan pada atasannya belum juga hilang. Jung Kook mendongak, pagi buta ia mendapat telepon dari lab dan mau tidak mau ia harus beranjak meninggalkan sang istri tercinta. Teman satu lab–yang tadi menepuk pundaknya–memberikan cengiran lebar seraya mengangkat dua dus makanan. Ia mengangguk. Hampir saja pria calon ayah ini lupa dengan sarapan paginya.

Prodigy Jeon mengucap terima kasih menyahut satu kotak yang disodorkan untuknya. Pekerjaan yang masih menumpuk sejenak ia lupakan. Menyantap menu makanan pagi di tempat, Jung Kook bahkan enggan meninggalkan ruang kerjanya meski lima menit saja.

Ponsel dalam sakunya bergetar panjang, menandakan ada lebih dari satu pesan di akun Line-nya. Ia mendecih sebal, merogoh saku mengangkat ponsel. Pesan dari Sa Na, gumamnya menyuap kembali sesendok makanan. Menggeser kunci, lantas ia beralih membuka notifikasi yang baru saja ia terima.

Dua buah foto dengan keterangan berbeda terpampang di sana. Foto Na Young bersama seorang lelaki yang menepuk pucuk kepalanya dengan tulisan ‘Istrimu tersayang sedang bersenang-senang’. Lalu foto kedua masih objek yang sama hanya saja sang lelaki nampak tengah membelai perut Na Young. Posisinya yang membelakangi kamera dengan tangan di sekitar area perut sang wanita sungguh menguatkan alibi. ‘Aku kasihan padamu, istri yang kaupuja, kaubela dan kauagungkan tidak lebih dari jalang yang haus perhatian. Apa kau sekarang percaya padaku?’ Kata-kata itu sukses membuat Jung Kook membulatkan mata.

“Brengsek!” umpatnya meninju meja kuat-kuat. Tangannya memerah, hatinya mendidih. Luapan amarah terasa menguar bagai ada aura gelap mengelilingi setiap inci tubuhnya. “Kim Tae Hyung,” senyum licik terpetak di bibir merah itu. Sekali lagi ia mengadu kekuatan tangan dengan meja. Sarapan yang masih separuh ia buang begitu saja.

###

Kantin khusus tenaga pengajar merupakan surganya guru-guru. Bagaimana tidak, semua yang mereka butuhkan tersedia lengkap. Mulai dari makanan cepat saji seperti burger dan spaghetti sampai steak dan daging asap yang baru masak. Tidak hanya itu, kopi, milkshake, jus dan buah-buahan juga tersedia. Semua bisa didapatkan secara gratis. Salah satu fasilitas sekolah yang sangat memanjakan tenaga pengajar.

Kantin para murid juga memiliki sistem demikian. Bisa mengambil apa saja dan berapa saja tanpa dipungut biaya. Sekolah elit dengan bayaran mahal tentu adalah faktor utama mengapa Shining Star Academy menghadirkan fasilitas semewah ini.

“Satu jus apel dan sandwich cokelat,” Ye Rin berseru pada si penjaga counter. Seorang dengan pakaian koki mengangguk, mengambil nampan menghidangkan pesanan. Tiga menit dan Ye Rin sudah membawa nampan pesanannya ke meja ujung dekat taman.

Ia mendudukkan diri di kursi yang tersedia. Di hadapannya Na Young tengah menikmati cheese cake khidmat. “Apa aku melewatkan sesuatu?” Ye Rin menopang dagu setelah menata makanan.

Na Young mendongak, berlengkung kecil menatap sahabat karibnya. “Kurasa ya.”

“Oh, ya? Dan kau tidak berusaha memberitahuku?” Ye Rin menyeruput jus apelnya. Memotong kecil sandwich, segera melahapnya.

Kekehan menggema dari bibir Na Young. Ia meletakkan sendok, menyeruput ocha hangat seraya menepuk punggung tangan sahabatnya. “Semalam… dia begitu berbeda. Aku tahu dia sedang mabuk tapi…,” Na Young mengisyarat Ye Rin merendahkan telinga. Ia berbisik, “Kami bercinta dengan sangat lembut dan tidak tergesa-gesa dan itu membuatku seperti melakukan malam pertama untuk kedua kalinya.”

Semburat merah bukan hanya menghiasi pipi putih Na Young, tapi gadis di hadapannya pun demikian. Demi semua partitur kekasihnya, Ye Rin bahkan belum menikah dan tidak mengerti bagaimana rasanya malam pertama. Sungguh. Sahabatnya sejak memakai popok ini memang terkadang bisa sedikit berpikiran mesum.

‘Aku tidak mendengarnya, aku tidak mendengarnya, aku tidak mendengarnya,’ rapal Ye Rin dalam hati.

“Lebih dari itu Ye Rin-ah, ia bahkan membuatkanku susu meski ia bangun pagi-pagi buta untuk pagi ke lab. Dia mengirimkan pesan untukku sepuluh menit setelah ia berangkat.” Bibir Na Young tak henti menyunggingkan senyum. Ye Rin paham sekarang. Pantas saja sejak berangkat tadi sahabat karibnya begitu berbeda–sering tersenyum bahkan terkekeh sendiri.

Ye Rin berdehem baru saja kembali dari fantasy otaknya. “Oh Tuhan. Aku akan membatalkan niatku menyuruh kalian bercerai jika Jeon Jung Kook mempertahankan sikap manisnya sampai satu bulan ke depan.”

Na Young memutar mata jengah. Tidak bisakah sahabatnya tahu ia sedang dalam mood baik dan tidak mau memikirkan hal yang aneh-aneh? “Aku hanya khawatir padamu Jeon Na Young. Boleh saja kau bergembira tapi…,” Ye Rin menghela napas. “Kau juga harus siap siaga. Aku tahu siapa yang kauhadapi. Dan priamu, jangan lupakan bahwa dia adalah pria arogan yang sering berubah-ubah.”

***

Semua masih baik-baik saja. Pikir Na Young melepas alas kaki. Suaminya belum pulang dan Sa Na, ia tidak tahu dan tidak mencoba mencari tahu keberadaan wanita itu. Na Young melangkah, meniti undakan tangga lalu masuk di kamarnya sendiri. Melepas setelan dinas, ia berniat memasak makan malam berhubung moodnya masih dalam keadaan baik.

Tak bisa dipungkiri pernyataan Ye Rin terus berputar-putar di otaknya. Ia yang harus lebih berhati-hati terhadap orang lain: jangan terlalu percaya dengan orang baik. Ia yang harus memperketat penjagaan dari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan terjadi. Na Young jadi paranoia dengan teman tinggalnya sendiri.

Mengingat betapa keras gambar tangan suaminya di pipi, Na Young sudah meringis ngeri. Saat itu bukan hanya fisiknya yang terluka. Melainkan hatinya juga ikut andil besar. Ia mengencangkan tali celemek pada tubuhnya.

Na Young mengeluarkan bahan-bahan dari lemari pendingin, menyusun rapi dan segera mengambil pisau. Memotong sayuran dan daging ayam namun pikirannya berkelana. Melalang buana hingga ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.

Tepat ketika sup ayamnya masak terdengar deru mesin memasuki pelataran mansion tingkat dua itu. Tak lama kemudian samar Na Young bisa mendengar percakapan Jung Kook dan Sa Na. Ia tidak tahu mereka membicarakan topik apa tapi tiba-tiba saja jantungnya sudah bertalu-talu. Berbagai kemungkinan buruk sudah membengkak di otaknya dan ini bukanlah hal yang bagus.

Ia menuang sup dalam wadah, segera menyimpannya di meja. Melepas celemek, ia mendudukkan diri di salah satu kursi ruang makan. Kakinya mendadak lemas. Ia tidak tahu tapi firasat mengerikan selalu hadir membelenggunya.

“Lihat. Istrimu tersayang sudah repot-repot menyuap kita dengan makanan,” suara Sa Na yang menggelegar sampai di telinga Na Young. Diikuti decih sebal yang Na Young hafal. Decihan suaminya.

Wanita yang tengah mengandung itu mengedarkan pandang, menumpu pada dua insan berbeda gender yang kini berhenti tak jauh dari pintu pantry. Jung Kook tidak menatapnya. Pria itu menatap objek lain–apa saja–terlihat jelas bahwa ia tengah menghindari tatapan Na Young. Sementara Sa Na berdiri angkuh dengan tangan melipat di depan dada, memancar tatapan kebencian seperti biasa.

“Kita.ke atas.sekarang.” Bersamaan suara menusuk yang terucap, Jung Kook memimpin langkah. Sa Na di belakangnya mengembangkan senyum menang. Mereka tidak peduli efek yang ditimbulkan bagi Na Young.

Batinnya kembali tersayat sembilu. Begitu dalam hingga ia rasa bisa meremukkan jantungnya. Setetes sari mata menuruni pipi gembilnya. Seingatnya baru tadi pagi ia mendapat perhatian lebih namun belum juga satu hari terlewat pria favoritnya sudah kembali bersikap kasar. Ia tidak tahu lagi alasan apa yang mendasari perubahan sikap suaminya secepat ini. Ia tidak tahu.

Maka ketika kaki-kakinya sudah mendapat kekuatan kembali ia melangkah. Membuka kunci, menelusup ke kamar utama di mana Jung Kook tengah membaca buku setebal lima senti dilatarbelakangi suara guyuran shower. Na Young tidak tahu dari mana ia mendapat kekuatan melangkah sejauh ini. Namun pantang untuknya menyerah mengingat Jung Kook sudah menatap tepat pada maniknya beberapa detik setelah ia mendaratkan pijak.

“Kita harus bicara.” Suara Na Young bergetar, sangat berbeda dengan keberaniannya melangkah sejauh ini.

Shower masih menyala dan Na Young bersyukur dalam hati. Jung Kook menatapnya intens. Enggan menjawab namun matanya terlihat lebih gelap. Ia sedang marah, Na Young tahu itu.

“Kumohon, aku tidak ingin ada kesalahpahaman di sini.” Na Young masih memohon. Ia hanya berani menatap mata itu selama lima detik, selebihnya ia menunduk.

Terdengar suara buku ditutup, buru-buru Na Young menumpu pandang. “Tidak ada yang perlu dibicarakan dan jangan pernah bicara tentang kesalahpahaman denganku.”

Dahi Na Young sukses mengerut bingung. Ucapan dingin Jung Kook menyebar cepat bagai ikut mengalir di tiap pembuluh darahnya. “Apa maksudmu? Kau jelas-jelas marah padaku tanpa alasan yang jelas. Kita perlu bicara Jeon Jung Kook, kumohon.”

Sebuah senyum licik terbit di bibir Jung Kook. Menyibak selimut, segera ia mendekati sang istri tercinta, mencengkeram pergelangan tangannya, mengajaknya keluar dari kamar utama.

Jung Kook menyeret Na Young memasuki kamar wanita itu. Segera setelah menutup pintu, Jung Kook menyudutkannya ke dinding, meletakkan satu tangan melingkari pinggang sang istri dan satu lagi tepat di samping kepala.

“Katakan. Katakan padaku sejak kapan kau berselingkuh dengan Tae Hyung.” Obsidian kelam bertemu cokelat gelap. Mata Na Young melebar tanpa bisa ia cegah. Berselingkuh? Apa ada hal yang begitu konyol sampai suaminya bisa menyimpulkan demikian?

“Apa maksudmu?” Ya. Apa maksudmu. Kali ini Na Young tidak ingin kalah. Ia akan menatap sungguh-sungguh manik dengan kilat amarah ini selama mungkin.

Gelak tawa hambar Jung Kook umbar. Ia menirukan apa yang dilakukan rival abadinya–Tae Hyung–di foto yang ia dapat tadi pagi. Mengusap kepala Na Young lembut, ia berujar. “Dia melakukan ini.”

Lalu tangannya turun di depan perut sang istri yang sudah membuncit, sekali lagi membelaikan tangannya di sana. “Dia juga melakukan ini. Sangat lembut. Seolah tengah membelai buah hatinya sendiri, Nyonya Jeon. Atau aku harus memanggilmu Nyonya Kim?”

Deg. Bagai mendapat serangan benda keras mendadak jantung Na Young berdetak menyakitkan. Lelehan bening tak terelakkan, merangsek keluar tanpa bisa ia cegah.

“Sekarang aku benar-benar ragu bayi ini adalah putraku.” Jung Kook masih tak mengalihkan pandang. Tangan kecil istrinya melayang, menampar keras pipinya tanpa kata-kata. Mata yang ia puja masih mengeluarkan air mata–ia tidak peduli. Kemarahan menguasai diri juga hatinya sekarang.

“Kau.” Rengkuhan Jung Kook terlepas. Ia memegang pipinya yang masih berdesir panas. “Berani menampar suamimu sendiri?”

Na Young menurunkan tangan. Sungguh. Ia tidak bermaksud melakukannya namun sesuatu dalam dirinya menyuruh ia bertindak demikian. “Aku… tidak….” Na Young menghentikan ucapannya melihat tangan Jung Kook melayang ke arahnya. Ia memejamkan mata, namun urung mendapat tamparan.

Dinding di sampingnya bergetar, sontak membuatnya membuka mata. Darah mengalir dari tangan Jung Kook yang masih mengepal di samping kanannya. Tanpa berkomentar ia keluar ruangan dengan bunyi gebrak pintu. Pria itu meluapkan kemarahannya pada tembok. Na Young merosot. Menangkup telapak tangan di wajah, air bening kembali mengalir deras menjadi penghias pipi-pipi putihnya.

###

“Na Young?” Tae Hyung sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja tertangkap retina matanya. Ia menepikan mobil, bergegas menuju wanita yang tengah menangis di halte.

Ini sudah pukul dua puluh dua enam belas menit. Seharusnya wanita itu tidak ada di sini.

“Kuantar pulang?” Taehyung mendudukkan diri di samping Na Young. Gelengan kecil ia tangkap sebagai respon penolakan wanita hamil itu. Ia mendesah. “Aku tidak tahu apa masalahmu tapi… kau harus benar-benar pulang. Pikirkan kesehatanmu dan bayimu.”

Na Young masih menggeleng. Menendang-nendang tas yang baru Tae Hyung sadari ada di depan kaki wanita itu. ‘Apa Na Young diusir?’ pikirnya dangkal.

“Hah…” sekali lagi Tae Hyung menghela napas. “Ikutlah denganku jika kau tidak mau kuantar pulang.”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

A/N: Maaf telat update >

Advertisements

7 thoughts on “Breathe [BTS Version] Chapter 5

  1. Akhirnya terbit juga ini ff πŸ™‡
    Eonni, kenapa membuatku semakin penasaran dan kesel setengah hidup sama sana??? 😰 udah, nayoung sama taehyung aja gih. Kasihan banget hidupnya
    Next ditunggu πŸ˜‰

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s