Under These Skies Chapter 1

Under These Skies Chapter 1

image

Title: Under These Skies
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Hurt/Comfort, Romance, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
Length: Chaptered
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 1

~~~

Story begin..

Ryu Ye Rin POV

Selasa

Aku menyusun sendok, sedotan, dan garpu di masing-masing tempat. Kantung sampah di depan wastafel masih melirikku tajam. Aku berdehem. Koki-koki bersiul menaiki tangga, menyapaku riang seperti biasa.

Han Sa Na dan Im Na Young berjejel rapi di depan kaca. Memoles bedak, pewarna bibir, eyeliner dan entah apa. Aku menyeret kantung sampah menyapa keduanya. Dua gadis yang cantik. Dan… beruntung kurasa. Kantung sampah tersenyum senang. Aku baru saja melemparnya di tong besar.

Lantai restauran sudah mengkilat. Piring, gelas, dan mangkuk tertata rapi dan aku bisa tersenyum lega. Aku mendudukkan diri di dekat toilet, meraih kertas-kertas pembungkus yang belum dilipat. Satu lagi hari sibuk sebagai tukang antar makanan.

Shiftku selesai pukul enam belas dan punggungku seperti tertimpa beban berat. Makan siang bagai jam sibuk sedunia. Mengantar ini mengantar itu. Beruntunglah restoran berada di jantung kota. Puji Tuhan. Aku memarkirkan sepeda di halaman, berjalan ke rumah tetangga dengan sekantung penuh makanan.

“Kau tidak seharusnya menghabiskan gajimu untuk membelikanku makanan enak setiap hari.” Nyonya Min Seo menerima kantung yang kuberikan. Aku meringis. Makanan ini bahkan tidak cukup membalas kebaikan hati sepupu jauhku. Menggeleng, kami masuk rumah bersama.

Putraku menyembul dari balik pintu kamar Ha Ru–putra pertama Nyonya Min Seo–dengan pistol di tangannya begitu kami sampai di ruang tengah. Seragamnya sudah tanggal: menyisakan celana jeans selutut juga kaos biru tua. Setiap hari aku meninggalkannya di sini–tidak, maksudku–Nyonya Min Seo yang bersikeras. Beliau berkata Ha Ru butuh teman, dan adiknya Hye Ra belum bisa dikatakan sebagai teman bermain.

Aku membiarkan jagoan kecilku beraksi selagi aku meladeni ocehan nyonya rumah. Song Min Seo. Sepupu jauh yang kurasa memiliki kehidupan seperti karakter Mary Sue. Dari keluarga berada lalu menikah dengan pengusaha kaya. Tidak perlu bekerja keras untuk bertahan hidup, hanya duduk manis di rumah menjaga putra-putri mereka. Sungguh sempurna. “Kurasa wanita itu benar-benar menyukai suamimu,” sahutku menanggapi. Ini konyol. Aku bukanlah seorang yang pandai menggosip namun pengecualian saat bertemu wanita ini.

Ia tertawa keras membenarkan rambut. Bahkan rambut hitam itu terlihat tidak pernah kusut. Sangat jauh berbeda dengan milikku yang setiap hari hanya dikuncir asal. Oh sial. Aku baru saja membandingkan diriku dengan seorang nyonya besar.

***

Pukul empat tiga puluh tiga menit. Sudah lebih dari dua puluh menit kami membicarakan omong kosong dan seharusnya aku sudah ada di rumah sekarang. Aku memanggil Sung Jin, berterima kasih sekaligus meminta maaf telah merepotkan hari sang nyonya besar kembali. Kami berjalan beriringan dengan tangan saling bertaut.

Melepas alas kaki, aku menggiring pria kecilku ke kamar mandi. Aku baru sadar bajunya penuh dengan noda lumpur kering. Meski aku tidak melarangnya bermain apa saja yang ia inginkan, namun ini terlihat cukup mengerikan.

***

“Ibu, apa kau juga berpikir rumah kita akan semakin keren jika gazebo kita diperbaiki?” ia memelukku dari belakang, membenarkan kunciran rambutku yang mengendur. Kuangkat bahu singkat melanjutkan kegiatan memanaskan makanan. Decak sebal mampir di telingaku bagai nada yang terus diulang.

Sial. Aku sudah mencoba untuk tidak menuruti permintaannya namun raut bocah itu semakin membuatku bersalah. Aku benci ini tapi aku benar-benar tidak bisa menolak permintaannya. “Baiklah. Setelah ibu pikir-pikir memang gazebonya butuh perbaikan,” sahutku dan bocah kecil itu langsung berbinar.

“Benarkah? Benarkah?” Sung Jin melompat-lompat girang. Aku mematikan kompor, memeluknya. Bocah ini memang selalu menjadi prioritasku.

Rabu

Kami melakukan jabat tangan khas setelah Sung Jin turun dari truk kesayanganku. Aku parkir tidak jauh dari gerbang sekolah hari ini. Semoga saja tukang kebersihan belum membunyikan klakson sampai putra tampanku masuk dengan selamat.

Aku menyandar di pintu truk mengamati buah hatiku yang tengah dirangkul pria sebayanya intens. Ia melambaikan tangan padaku. Aku tahu ia akan baik-baik saja. Aku tahu Sung Jin bisa menjaga diri dengan baik.

Klakson menggema membuyarkan lamunanku. Tidak hanya satu kali kurasa aku mendapat teguran tidak langsung seperti ini. Trukku menghalangi jalan. Aku tahu itu.

Kamis

Jam makan siang dan kondisi ban motor dinasku yang kempes bukanlah komposisi baik. Aku sudah memompanya lebih dari dua kali tapi sekali lagi ban itu sudah kempes kembali. Beruntunglah pelanggan hanya memberiku petuah–mungkin karena mereka terlalu lapar–dan aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk ganti rugi.

Aku kembali ke restoran lebih lama dari biasanya. Memakan jatah makan siang di dekat wastafel. Aku makan sendirian dan sesungguhnya aku tidak peduli.

Jum’at

Aku mengajak Sung Jin makan malam di luar. Ini adalah satu malam setiap minggu di mana aku tidak membelikan makanan restoran pada putraku. Aku buruk dalam hal memasak. Hanya bisa menggoreng telur dadar untuk sarapan kurasa bukan termasuk hitungan. Dan di saat bersamaan aku merasa tidak berguna sebagai seorang ibu.

“Sebenarnya aku ingin memakan seafood. Tapi…,” Sung Jin menjeda ucapannya. Aku memutar mata. Sangat kontras mengingat aku sama sekali tidak bisa makan seafood.

Tanganku mengusap rambut tebalnya. “Aku tahu restoran yang menyediakan menu seafood dan daging asap. Kau tidak perlu khawatir, Sayang.”

***

Restoran penuh sesak sangat jauh dari perkiraanku. Ini adalah satu-satunya restoran serba ada dengan lahan parkir luas. Kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkan truk kesayanganku, tapi… aku benar-benar harus makan dan mengantri bukanlah ide yang bagus.

Sung Jin menarikku membelah kerumunan, mencari satu meja kosong untuk kami berdua namun nihil. Aku mengatakan padanya untuk berganti restoran tapi ia tidak menggubris. Mata kecilnya sangat serius mengamati satu per satu meja pelanggan dan itu membuatku mendesah pasrah.

“Aku tahu tempat kosong, Ibu.” Ia kembali menarikku. Mengajak kaki-kaki kami meniti lorong-lorong sempit antar meja menuju sebuah meja dengan satu orang pria dewasa dan anak kecil seumuran Sung Jin. Aku ingat. Anak ini adalah anak yang merangkul bahu Sung Jin setiap hari. “Sang Hyun, bisakah kami bergabung di mejamu?”

Anak kecil itu menoleh, menghentikan sejenak aktivitasnya memandangi gadget canggih. “Sung Jin?” bola matanya berbinar ceria. Aku memasang tatapan memohon begitu pula putra tampanku. Inilah yang dinamakan jurus tatapan kucing minta makan.

“Restoran sangat penuh, kami tidak mendapat kursi satu pun. Jadi… bolehkah kami bergabung?” Aku memutar mata. Sung Jin memang seorang penjilat ulung–oh sial–itu adalah kemampuanku. Sejujurnya aku tidak terlalu berharap mereka mengijinkan kami bergabung karena ini bukanlah wilayah kami berada. Meja ini adalah meja khusus, orang-orang yang mendudukinya juga khusus di mana jas dan gaun menjadi objek dominan di irisku. Tak terkecuali pria dewasa dan putranya yang bernama Sang Hyun itu.

Dan lihatlah, kami berpakaian informal. Terkesan penuh kebebasan. Aku harus menambahkan setelan jas dan gaun jika berbelanja bulanan nanti.

Anak kecil itu mengangguk antusias. Mendongak, ia juga memasang tatapan sama dengan kami berdua. Oh. Rupanya jurusku juga menguasainya. “Ayah?” pintanya merajuk dengan suara manis. Anak kecil yang terlihat dingin namun pandai berekspresi.

Pria dewasa di sampingnya merotasikan netra. Mengangguk tanpa tambahan kata apa pun. Pria dingin.

Aku bersyukur bisa mengisi perut dan tidak perlu pingsan di sini.

Sabtu

Hari ini aku mengirimkan surat ijin tidak masuk kerja ke rumah Sa Na. Sekolah Sung Jin libur dan kami sudah merencanakan segala sesuatu tentang memperbaiki gazebo. Kami akan berbelanja keperluan di warehouse lalu siangnya mulai mengerjakan perbaikan.

Kami akan membeli kursi dan meja kayu baru, satu set sound tape yang bisa diputar di gazebo dan beberapa pernak-pernik. Tidak banyak yang akan direnovasi mengingat telepon ayah dua hari lalu yang berjanji akan datang dan membelikan lebih banyak bahan untuk renovasi.

Tuan Dong Hae, Nyonya Min Seo, dan Ha Ru ikut membantu. Dan sejujurnya Tuan Dong Hae-lah yang banyak mengerjakan pekerjaan berat seperti menurunkan bangku dan meja. Ia adalah direktur perusahaan tapi di sini, ia adalah tetangga yang baik.

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “Under These Skies Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s