Officially Yours

Officially Yours

image

Title: Officially Yours
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: School Life, Fluff, Romance, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Setting tetap di Korea Selatan tapi menggunakan asas/? sekolah menengah atas Indonesia. Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Dedicated to MrD Event K-Pop Fanfiction

Copyright2016 Nadhea Rain

~~~

Story begin..

Shining Star Academy adalah awal pertemuan Na Young dengan Jung Kook.

Masa Orientasi Siswa di mana senior Jeon menjadi salah satu pembina di kelasnya. Membagikan beberapa potongan buah (yang sudah adik-adik kelas kumpulkan sehari sebelumnya), Na Young ingat ia berteriak keras saat telapak tangannya tersentuh dinginnya potongan buah yang-entah-apa-namanya-saat itu semua murid harus menutup mata. Jung Kook hanya menyuruhnya tenang. Tidak boleh khawatir karena sekali pun ia tidak berusaha melukai junior-juniornya.

Bagaimana Jung Kook meneteskan air mata manakala senior inti memaki junior-juniornya hanya karena membawa kosmetik di tas berujung pemecatan secara tidak hormat. Hari itu dipenuhi tangis. Junior meminta maaf dan menyuruh senior inti untuk tidak memecat OSIS kelas sebelas, bahkan Na Young secara spesifik meminta maaf pada Jung Kook. Semua tidak tahu bahwa itu hanya akting dan ya. Bisa ditebak apa yang dirasakan Na Young dan angkatannya saat itu. Shock terapy.

Lalu kemudian Lapangan Basket.

Semula Na Young tidak tahu seluk beluk senior Jeon. Ia meyakinkan diri hanya memiliki rasa sebatas kagum dengan senior di masa orientasi. Hal itu wajar, mungkin kau juga pernah mengalaminya bukan? Namun ternyata pikiran dangkal Na Young salah besar.

Berbekal ajakan teman karibnya Ye Rin menonton salah satu senior pujaan bermain basket, fokus Na Young justru berbanding terbalik. Jika Ye Rin mengelu-elukan senior Min Yoon Gi, maka mata Na Young akan bergulir menatap objek di sebelah kanan senior Min. Senior Jeon Jung Kook.

Rambut lepek karena keringat yang diterpa angin, senyum tipis yang terasa begitu menggelitik, ditambah sinar surya yang terasa menonjolkan Jeon Jung Kook seorang. Sungguh. Tidak ada pemandangan indah lain yang mampu menyaingi objek yang Na Young tatap sekarang. Tanpa sadar jantungnya berdegup kencang.

Na Young segera mengubah mindset otaknya. Bahwa ia telah menyukai senior Jeon lebih dari yang ia bayangkan.

Ruang OSIS

Organisasi Intra Sekolah periode baru setiap tahun memang banyak diisi oleh nama-nama baru ‘tak terkecuali Im Na Young. Tidak tanggung-tanggung bungsu keluarga Im bahkan menyabet gelar Sekretaris OSIS bersama partner setianya Ryu Ye Rin.

Sebenarnya niat untuk ikut salah satu ekstra kurikuler sekolah yang tidak pernah sepi peminat ini memang sudah mengakar sejak ia masuk ke sekolah ini tiga bulan lalu. Namun ia juga tidak memungkiri bahwa sebagian persen niat lainnya untuk ikut diisi oleh nama Jeon Jung Kook. Baiklah. Sepertinya kau sudah mengaku terkena demam Jeon Jung Kook, Na Young-ah.

Untuk pertama kali setelah rapat Na Young masih betah berlama-lama di ruangan tiga kali empat meter itu. Berkutat dengan ponsel menonton music video dari salah satu boyband favoritnya yang baru saja meluncurkan album baru. Alasan klasik karena di kelas ia tidak akan leluasa menjerit mengelu-elu pentolan group tersebut.

Awalnya memang Na Young sendiri-anggota OSIS lain sudah membubarkan diri setengah jam lalu, namun ketika pintu ruangan kembali dibuka, Na Young tak bisa menghentikan keterkejutannya. Di depan pintu, Jeon Jung Kook tersenyum manis menghampirinya.

“Streaming?” ujarnya mendudukkan diri di salah satu kursi ‘tak jauh dari Na Young. Anggukan singkat Na Young layangkan. Buru-buru gadis dengan manik cokelat kembali fokus dengan tontonannya.

“Boleh pinjam satu kali? Ponselku kehabisan daya.” Sekali lagi Jung Kook membuat desir darah Na Young ‘tak beraturan. Hei Jeon Jung Kook, jangan dekat-dekat. Kau bisa membuat Na Young pingsan.

Na Young menoleh, ia berdoa dalam hati agar pipinya tidak dilingkupi ruam kemerahan. “Tentu saja,” sahutnya menyentuh ikon cari. Tak butuh waktu lama untuknya menemukan video yang Jung Kook maksud.

Jung Kook mendekat, mensejajar kepalanya dengan Na Young. Dan Na Young bersumpah ia bisa menghirup aroma Aftershave menguar dari tubuh Jung Kook. Susah payah ia menelan ludah. Menahan rona merah yang kemungkinan besar sudah timbul di kedua pipinya.

Berada dalam jarak sedekat ini, sungguh Na Young ingin melompat kegirangan sekarang juga.

Kantin

Istirahat dan mengisi perut memang pilihan terbaik setelah berkutat dengan dua kali empat puluh lima menit pelajaran Logaritma. Na Young bukan bagian dari anak pembenci matematika tapi ia sungguh menyerah jika sudah menyangkut bab Logaritma. Bab yang mengerikan.

Menghabiskan satu piring salad buah dengan lelucon tentang dahi guru kesiswaan yang lebarnya sama seperti landasan pacu Bandara Incheon membuatnya terpingkal. Tawa Na Young membuncah tanpa bisa ia cegah. Tidak berbeda, lima temannya yang lain juga ikut tertawa.

“Ini hanya perasaanku saja atau memang senior Jeon sedang mengamati Na Young?” Lima menit setelah tawa mereka terhenti, salah satu teman Na Young berujar.

Na Young yang penasaran segera membalikkan badan. Bersamaan dengan Jung Kook mengalihkan pandangan menatap langit-langit, menggaruk tengkuk yang entah gatal atau tidak. Lalu koor suara ciee dan ihiy menggema memenuhi meja Na Young saat itu. Bolehkah Na Young menaruh harap?

Atap Sekolah

Besok adalah hari tersulit bagi Na Young. Ikut ekstra kurikuler musik sementara ia sendiri dari jurusan tari modern bukanlah hal sepele. Tak terhitung berapa cacian ia dapat baik dari kakak tingkat, teman satu angkatan maupun juniornya. Biasanya ia tidak akan ambil pusing. Menurutnya mencoba hal baru di luar kemampuan utama merupakan hal luar biasa.

Namun tidak untuk hari ini. Ia merasa tidak percaya diri dengan hasil latihan kerasnya berhari-hari. Na Young takut salah memindah tangan di kunci selanjutnya, takut hafalannya buyar karena intimidasi orang-orang yang mencaci dirinya. Ia berlari menaiki tangga, menangis di atap sekolah ‘tak peduli perutnya berteriak minta di isi. Na Young terlalu kalut untuk sekadar mengisi perut.

Di saat seperti ini ia butuh Jung Kook. Butuh seberkas senyum tipis dari bibir merah alami itu. Butuh setidaknya menatap wajah pria tampan itu sebentar saja, namun ia tak kunjung jua bertemu. Hari ini pria itu sangat sulit ditemui.

Lapangan basket tempat pria itu biasanya unjuk kebolehan kosong. Di ruang OSIS pun Na Young tidak menemukan sang pujaan hati. Ia tidak tahu. Hatinya terasa begitu hampa. Satu-satunya pengobar semangat pergi entah ke mana.

“Im Na Young?” Suara itu. Na Young mendongak masih dengan leleh bening menghias pipi gembilnya. “Kau menangis,” suara itu syarat akan nada khawatir. Lalu tanpa bisa ia bendung Na Young mencurahkan semua kemelut hatinya. Pada Jeon Jung Kook yang entah sejak kapan berdiri di dekatnya.

Remedial Ujian OSIS Periode Selanjutnya

Na Young tidak pernah sebahagia ini kembali diberi kesempatan mengikuti ujian ulang tes tulis pertama seleksi pencalonan diri sebagai ketua OSIS. Ia membuka pintu dengan hati-hati. Rasa bahagia yang menguar tiba-tiba saja berganti gugup manakala maniknya menatap langsung obsidian Jeon Jung Kook. Susah payah ia menelan ludah. Mengatasi rasa kurang percaya diri dengan beberapa kali tepukan tangan.

Wajah Jeon Jung Kook benar-benar serius. Diapit oleh Min Yoon Gi dan Kim Nam Joon, ketiganya bagai monster yang meluluhlantak bongkah-bongkah bahagia si bungsu Im. Ia mengambil napas. Membuka lembar soal lalu menuliskan jawaban di kertas folio yang sudah tersedia.

Mata Na Young membulat, hampir tidak percaya dengan perintah yang tertulis pada soal nomor enam jadi ia kembali membolak-balik kertas. Min Yoon Gi dan Kim Nam Joon sudah keluar ruangan sejak tujuh menit yang lalu. Ia gugup. Haruskah Na Young benar-benar melaksanakan perintah untuk menghadap ke depan-ke arah senior Jeon? Ia tidak mau ambil resiko tapi dalam hati ia merutuki keputusan sesaatnya. Bagaimana jika soal nomor enam dibawa senior Jeon?

Ia mengembuskan napas. Segera mengarahkan pandang tepat ke arah Jeon Jung Kook dengan mata membulat tajam. Yang pertama kali Na Young lihat adalah banner bertuliskan ‘Would You be My Girlfriend?’ yang dicengkeram erat tangan Jung Kook, juga pipi seniornya yang tiba-tiba bersemu merah. Apa ia sedang bermimpi?

***

6. Yes!

p.s: Itu artinya aku juga lulus seleksi pertama ‘kan?

p.p.s: Kau tahu kau hampir saja membuatku terkena serangan jantung. I love you more!

Na Young membungkuk memberikan kertas hasil jawaban. Pipinya masih bersemu merah merapal jawaban nomor enam yang membuat bibirnya berkedut memasang senyum.

“Pulang bersamaku,” ujar Jung Kook sebelum Na Young benar-benar keluar ruangan. Na Young berbalik, mengangguk canggung lalu melanjutkan langkah.

Ya. Mungkin besok akan ada berita heboh tentang mantan Ketua OSIS menyatakan cintanya pada adik tingkat. Mungkin juga Na Young akan diserang oleh ratusan penggemar Jeon Jung Kook. Atau mungkin banyak pria-pria single yang akan patah hati karena salah satu dara cantik sekolah sudah menemukan tambatan hati. Ia tidak peduli.

Yang penting baginya, besok ia akan meneriakkan pada dunia bahwa Jeon Jung Kook adalah miliknya. Jeon Jung Kook adalah kekasihnya.

“Finally, I’m Officially Yours,” seru Na Young dalam hati.

-FIN-

Pembaca yang baik adalah Pembaca yang meninggalkan jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s