Breathe [BTS Version] Chapter 4

Breathe [BTS Version] Chapter 4

image

“Aku bisa menemanimu ke Ilsan jika kau tidak keberatan,” seloroh Na Young mengganti dasi yang Jung Kook kenakan. Hitam garis-garis biru, sangat cocok dipadupadan dengan kemeja slimfit warna biru tua. “Kau tahu ‘kan kemampuanmu memadukan dasi sangat buruk.”

Jung Kook mengulas lengkung. Tangan besarnya mengusap lembut surai hitam sang kekasih. Tak lupa ia curi sedikit ciuman pucuk kepala yang membuat Na Young mendesis sebal. “Berdiri tegak, Jeon Jung Kook. Ini tidak akan lama jika kau tidak usil bergerak,” tegas Na Young sedikit menarik ujung dasi. Mendelik memamerkan sepasang iris cokelat yang sengaja dilebarkan.

“Baiklah. Aku kalah.” Jung Kook menaikkan bahu menuruti perintah si calon istri. Ia berubah pendiam. Tidak lagi bergerak selagi Na Young mengikat simpul dasi.

Wajah serius sang sulung Im begitu memesona. Bibir yang menggerutu kecil karena licin material dasi menyulitkannya, atau gembungan pipi mempertegas kesan cantik sekaligus manis yang ia tawarkan. “Selesai.” Na Young tersenyum gembira. Segera membalikkan badan pria terkasihnya menghadap cermin besar. “Lihat betapa tampan dan gagahnya calon suamiku,” Na Young melingkarkan lengannya dengan lengan Jung Kook, ikut menatap cermin seperti apa yang dilakukan pria di sampingnya. Yang bisa pria itu lakukan hanya tersenyum menatap pantulan keduanya di cermin. Membayangkan betapa cantiknya Na Young dalam balutan gaun putih panjang juga tudung kepala dan bunga mawar putih di genggamannya.

Jung Kook menghela napas. Enam bulan lagi ia akan jadi seorang suami. Enam bulan lagi ia akan mengucap sumpah setia di hadapan Tuhan. Enam bulan lagi… namun rasa gugup sudah menyerangnya. “Aku dipindah tugas riset hanya tiga bulan. Fokuslah dengan skripsimu. Aku janji akan hadir di pesta kelulusanmu nanti.”

.
.
.
.

Title: Breathe
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young, Han Sa Na
Genre: Marriage Life, Angst, Romance, AU
WARNING: Mengandung kekerasan dan bumbu ‘Marriage Life’ lain jadi jika tidak kuat disarankan untuk menekan tombol BACK, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dengan ekspektasi kalian saya tidak bertanggungjawab *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 4

~~~

Story Begin..

Jung Kook tersentak dari tidurnya. Mengusap kasar wajah lalu memalingkan pandang ke arah jam digital dengan angka lima lebih dua puluh satu menit tercetak di sana. Ia mendesah, menatap Sa Na yang masih bergelung dengan selimut hingga batas dada. Wanita cantik itu menggeliat pelan, mengeratkan kembali rengkuhan pada guling kesayangannya.

“Mimpi itu…,” desis Jung Kook bergerak dengan suara seminim mungkin. Jika bisa ia tidak mau dicekal Sa Na pagi ini. Ia bangkit. Matanya menumpu pada kekacauan yang terjadi semalam: pecahan kaca masih berserakan, juga bekas darah mengering yang tampak mengerikan.

Bau parfum Sa Na juga parfumnya terkumpul jadi satu, belum lagi alat-alat make-up yang berceceran keluar. Benar-benar terlihat mengerikan. Ia mengacak surai hitamnya kasar. Segera melesat ke kamar mandi sekadar membersihkan diri.

Cermin. Ia menatap bayangannya sendiri. Jung Kook terlihat begitu kuyu, sayu, dan menyedihkan. Sekelebat bayang muncul di perempat bagian otaknya. Di mana ia sedang menatap cermin-ukurannya lebih besar-dengan tuxedo hitam juga dasi yang sudah terpasang rapi di lehernya. Detik-detik sebelum ia mengucap sumpah suci di hadapan Tuhan. Detik di mana ia gugup bukan main.

Sekali lagi bibirnya memaksakan desahan. Beranjak, ia memutar shower, membawa tubuh masih berbalut pakaian itu ke bawah kucuran air. Lelehan bening menyeruak dari netra kelamnya. Sedikit. Tercampur bersama air yang kini membasahi seluruh tubuhnya. Ia menangis.

“Maaf belum bisa terbuka denganmu, Na Young-ah.”

***

Dua buah roti mencuat dari mesin pemanggang. Cokelat sempurna, persis seperti apa yang Na Young inginkan. Wanita cantik itu segera mengangkat keduanya, kembali meletakkan dua potongan roti antrian selanjutnya sembari melengkungkan senyum. Butuh sekitar tujuh menit sampai semua roti yang ia bawa sudah berwarna cokelat.

Jung Kook masih mengaduk gelas susu saat Na Young meletakkan sepiring penuh roti panggang. Pantry dengan sepasang suami istri dalam mood baik merupakan kombinasi sempurna. Wanita surai hitam segera menarik kursi, mendudukkan diri lalu membuka selai cokelat, mengolesinya dari satu roti ke roti lain. Melirik sebentar ke arah sang suami, ia menghadiahi sebuah lengkung manis.

“Susu untuk calon jagoanku.” Jung Kook tersenyum simpul. Ikut menarik kursi di samping Na Young, mengangsur gelas susu di tangannya.

Na Young berbinar. Ujung-ujung bibirnya berkedut membentuk segaris senyum. Ia tersipu. Segera mengambil gelas dari tangan Jung Kook lalu menandaskannya. “Terima kasih.”

Jung Kook mengangguk. Mengambil roti cokelat yang sudah selesai diolesi, menggigit penuh-penuh. Tidak dipungkiri senyum yang terbit di wajahnya benar-benar tulus. Ia meyakinkan diri bahwa tindakannya benar. Tidak ada salahnya memperhatikan sang istri kedua. Tangan besarnya menelusup, membawa tangan berukuran lebih kecil ke arah bibirnya, mengangsur satu ciuman lembut di punggung tangan putih itu.

Sementara di ujung tangga Sa Na menggeram, mengepal dua tangannya kuat-kuat. Rasa takut dan marah tercampur di otaknya sekarang. Ia tidak menyangka absennya Jung Kook di kamar malah melibatkannya pada drama opera sabun yang kini bermain di hadapannya.

Wanita dengan kilat amarah itu tersenyum sinis, “Jadi… sedang mengandung ya,” ujarnya masih dengan tangan yang mengepal. Sebuah seringai hadir di wajahnya. Entah apa yang ia rencanakan yang jelas ia terlihat begitu senang. Sa Na mengambil langkah pelan, kembali ke atas seolah tidak pernah terjadi hal menakutkan dalam hidupnya.

###

Sore kembali menyapa Na Young dengan hujan deras. Berbeda dari sebelumnya ketika hujan ia akan segera melangkah menikmati guyuran membasahi tubuhnya, sekarang wanita marga Jeon itu memilih berteduh. Halte bus lima ratus meter dari tempatnya mengajar jadi pilihan. Ia mengusap sayang perut yang sudah membuncit sembari bersenandung pelan.

Senandungnya semakin mendayu, mengalun seirama tetes-tetes tirai bening yang semakin deras. Ia menghela napas. Respirasinya mengepul membentuk uap tipis sebelum menghilang bersama partikel udara.

Ingatan Na Young berkelana, menggali sepotong memori pagi yang sejujurnya masih memberi tanya tersendiri bagi dirinya. Saat berangkat mengajar tadi, jelas ia tahu tatapan marah Sa Na tertuju padanya. Tatapan menusuk, tajam, serta mengintimidasi. Jika penusukan bisa lewat tatapan mata, Na Young yakin ia sudah terbaring di rumah sakit dengan luka parah.

Namun masalahnya bukan itu. Ia sudah paham, mengerti bagaimana Sa Na menatapnya sedemikian bengis sejak kali pertama wanita itu masuk rumah. Tapi kali ini, wanita cantik itu memberi ucapan selamat. Selamat karena Na Young telah mengandung. Bukankah sebuah kejanggalan luar biasa sampai wanita yang jelas-jelas membencinya memberi selamat?

Sekali lagi Na Young menghela napas. Menjatuhkan kepala pada sandaran kursi. Menggeleng cepat mengusir segala pemikiran buruk tentang Sa Na. Mungkin saja wanita itu sudah berubah. Gumamnya sambil lalu.

“Aku ingin tahu apa yang sedang dikerjakan wanita hamil di tempat seperti ini,” suara husky menyeruak pendengaran Na Young. Segera ia menoleh, mendapati Tae Hyung yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya seraya menopang dagu. Senyum khas itu melengkung, memberi kesan luar biasa tampan di sana. “Apa yang kaulakukan di tempat ini?” ulang Tae Hyung melepas tangan dari topangan dagunya. Manik cokelatnya ‘tak henti barang satu detik menatap objek di hadapannya.

Na Young menggeleng, kembali menatap air bening yang masih bertumpah. “Hanya menatap objek yang kusuka. Dan kau? Kebetulan lewat jalan ini?” Ia jelas tahu arah rumah Tae Hyung berbanding terbalik dengannya. Dan untuk apa pria itu ada di jalan ini tentu pertanyaan yang wajar.

“Ah. Aku benar-benar ketahuan sedang mengikutimu ya?” Tae Hyung tak bisa menghentikan tawanya. Menggaruk belakang kepala, ia masih berkelakar hambar. “Jika aku berkata aku ingin mengajakmu pergi ke cafe, apa kau setuju? Kurasa lebih baik menatap hujan dari jendela cafe yang hangat dari pada menggigil di ruang terbuka seperti ini.”

“Aku sudah memiliki suami, Kim Tae Hyung. Jangan mengajakku berkencan,” kekeh kecil tercipta dari bibir Na Young. Tidak disangka ia justru bangkit, berjalan terlebih dahulu mendekati mobil BMW Z4 Coupe metalik merah Tae Hyung yang berhenti tepat di depan halte. “Dua porsi cheese cake dan aku akan menyetujui ajakan kencanmu.”

Tae Hyung tersenyum lagi. Menggeleng ‘tak percaya dengan perkataan teman mengajarnya. Tanpa basa basi ia merogoh saku, meraih kunci mobil lalu menekan tombol unlock. Berjalan cepat, membuka pintu depan untuk Na Young lalu berbalik membuka pintu untuk dirinya sendiri.

Lagu Lost Stars milik Adam Levine mengalun dari speaker membuat Na Young ikut bersenandung pelan. Ia ingat lagu ini. Lagu yang Jung Kook persembahkan saat natal ketika keluarga besar mereka berkumpul tahun lalu. Lagu yang berhasil menghipnotis keponakan-keponakan kecilnya untuk berhenti merengek menanyakan kapan datangnya Sinter Klaus. Lagu yang diam-diam ia puja karena suaminya benar-benar bisa menyanyikannya dengan baik.

“Paman hebat. Ayah bahkan tidak bisa mengatakan which dengan baik.” Itu komentar Eun Kyo, putri tunggal kakak iparnya. Wajahnya dipenuhi icing biru kue yang baru saja dibagikan. Cantik. Dengan mata hitam berbingkai bulu mata lentik alami.

Perapian menyala, setumpuk kado di bawah pohon natal, kulit kacang berserakan di segala tempat, Tuan Boneka Salju dan segalanya. Na Young masih mengingat semua dengan jelas. Ia mendesah. Kembali fokus pada Tae Hyung yang sudah memarkirkan mobil, menunggunya untuk ikut keluar.

Mereka berjalan dalam diam. Sejujurnya Tae Hyung benci keadaan di mana ia tidak bisa banyak membicarakan omong kosong-basa basi-seperti sekarang namun ia menghargai privasi wanita di sampingnya. Sejak panggilan di mobil yang sama sekali tidak disahuti oleh Na Young, ia berpikir istri Jeon Jung Kook ini memang butuh sebuah ketenangan. Jadi ia hanya bisa mendesah. Meniti langkah yang sama lebarnya dengan sang wanita.

Mereka mendapat tempat duduk sesuai yang diharapkan. Tepat di dekat jendela yang menyuguhkan panorama hujan. Indah. Pejalan kaki yang berciuman mesra di ujung jalan, anak-anak bermain dengan jas hujan serta sepatu bot mereka, juga tidak sedikit orang berteduh karena tidak membawa payung. Omong-omong air bening itu masih turun deras meski pesanan mereka sudah datang-dua belas menit terhitung sejak mereka menjajaki cafe-seolah mengerti perasaan yang sedang bergelayut di hati si bungsu Im.

“Cafe ini menyediakan Americano yang sangat lezat-oh Tuhan-aku akan membayar berapa pun untuk mendapat rasa kopi seenak ini di setiap kedai yang kujumpai,” Tae Hyung memulai, menyeruput kopi seperti pria malang yang tidak pernah mendapat pasokan kopi satu tahun penuh. Mencoba mengalihkan rasa canggung yang hanya dihiasi desah napas berulang-ulang sejak tadi.

Na Young terkikik, menyendok cheese cake di hadapannya khidmat. Sendok bekas suapannya ia arahkan menunjuk Tae Hyung, memutar-mutar seolah dengan sendok itu ia bisa membuat Tae Hyung terhipnotis. “Kau menggelikan, Kim Tae Hyung.”

Pria Kim menaikkan bahu. Masa bodoh dengan komentar Na Young, ia tetap mengagungkan Americano cafe ini lebih dari apa pun.

**

Satu teguk Brandy kembali menghangatkan tenggorokannya. Pria itu kembali mengisi gelas shot, menandaskannya dalam sekali teguk. Surai hitamnya kacau: mencuat ke sana ke mari seolah baru saja terkena badai. Bibir merah merekahnya mulai meracau, menggumamkan satu nama diiringi kata aku mencintaimu berulang-ulang.

Air matanya jatuh. Ia tarik lagi surai hitamnya kasar, menenggelamkan kepala pada meja di hadapannya. Perlahan tangan kirinya mengepal kuat, sementara tangannya yang lain mengambil kembali botol Brandy. Tidak butuh shot atau apa pun pria itu langsung menegaknya dari botol sekaligus.

**

Sa Na mengerang di pintu depan. Merutuki ke mana lagi suaminya pergi sehingga lupa agenda menjemputnya di toko bunga. Sudah pukul lima empat puluh dua namun pria itu ‘tak juga berada di rumah. Rak tempat pria itu selalu menyimpan sepatunya kosong. Setidaknya fakta itulah yang menguatkan Sa Na akan opininya.

Belum sempat wanita surai cokelat itu melepas alas kaki, deru mobil menghentikan aktivitasnya. Sa Na menyibak tirai, terpaku dengan pemandangan luar biasa yang terjadi di luar sana. Segera ia merogoh tas, membuka kecil pintu lalu mengarahkan kamera ponselnya setelah mengatur zoom.

“Kena kau, Na Young.”

**

“Kau tidak perlu menghadapi semuanya dengan mabuk, Jeon Jung Kook.” Wanita dengan gincu semerah darah memapah Jung Kook yang masih meracau. Rambut pria itu masih berantakan-lebih berantakan dari sebelumnya. Membuka pintu belakang mobil, ia membaringkan tubuh Jung Kook di sana.

“Na Young-ah, aku mencintaimu,” racau Jung Kook sebelum wanita merah itu menutup pintu. Sang wanita hanya menggeleng pelan, membuka pintu depan untuknya sendiri.

Menyalakan mesin mobil, lagi-lagi wanita merah itu menghela napas. Ia memperhatikan Jung Kook yang kembali meracau dari kaca yang terpasang di depannya. “Kau terlalu banyak menyimpan beban itu sendirian. Pria Menyedihkan, haruskah aku ikut andil dalam masalahmu?” Wanita itu kembali mendesah. Melajukan mobil Ferrari LaFerrari keluar dari kawasan pub.

###

Hal pertama yang Jung Kook ingat adalah ia menghabiskan dua botoh Brandy lalu meminta bartender menghubungi Jo Sae Na sahabat sekaligus pemilik pub malam tempatnya mabuk. Ia ingat tubuhnya dipapah dan dibaringkan di kursi belakang mobil dengan posisi telentang. Setelah itu ia merasa kepalanya seperti dipukul besi panjang. Sakit terus menjalar, menyebar hingga ia tidak sadarkan diri.

Pukul sebelas dua belas malam, ia menemukan dirinya berbaring di sofa rumah yang sudah tidak asing lagi. Rumah Jo Sae Na. Ia mengusap wajah, berlalu membuka pintu setelah menekan sederet angka kunci yang ia hafal di luar kepala.

Pria malang itu muntah di dekat pagar. Berjalan sempoyongan kembali ke rumahnga yang hanya berjarak tiga rumah saja, ia menyeka wajah. Bau khas alkohol masih menyelimuti dirinya dan ia tidak yakin apa yang akan dilakukan Sa Na setelah ia kembali mangkir dari tugas.

Pintu rumahnya tidak dikunci. Sama seperti kebiasaan Na Young jika ia sibuk lembur di lab. Meletakkan sepatu setelah menutup dan mengunci kembali pintu, pria itu berjalan menjaga keseimbangan. Butuh usaha keras agar tidak terhuyung ketika ia menjajaki tangga. Jung Kook menghela napas.

Kakinya melangkah melewati kamar utama. Di pintu selanjutnya ia baru menarik tuas, membuka cukup pelan lalu kembali menjajaki langkah. Pria itu melihat Na Young yang terlihat damai dalam tidurnya, ia ikut merangkak naik, mencium bibir tipis menggoda istrinya.

Awalnya hanya ciuman biasa, panjang dan tidak tergesa-gesa, namun ketika mata Na Young membuka, wanita cantik itu ‘tak bisa menahan untuk tidak membalasnya. Sesuatu dalam diri Jung Kook meledak. Suhu tubuh mereka meningkat drastis. Mereka menginginkan lebih dari sekadar ciuman panjang.

Manik hitam itu terselubung gairah besar begitu pula mata cokelat yang tidak henti menatapnya sejak ciuman panjang mereka berlangsung. Kebutuhan rindu yang membelengu juga efek alkohol bercampur menjadi satu. Malam panjang di mana mereka meneriakkan nama masing-masing. Malam panjang, di mana cahaya bulan menelusup jadi saksi penyatuan mereka.

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

8 thoughts on “Breathe [BTS Version] Chapter 4

  1. Tbc nya nanggung banget :v
    Betewe, ini siapa sih istri yg sebenarnya? Kok nayoung istri kedua? Terus apa yg disembunyiin sama jungkook? Banyak banget pertanyaan muncul di otakku. Ok abaikan #plak
    Ditunggu kelanjutannya, penasaran banget nih soalnya hihihi
    Oya nanya dikit, author line berapa? #pertanyaananeh wkwkwk

    Liked by 1 person

  2. Tunggu….
    Jungkook pergi ke ilsan 6 bulan sebelum menikah dengan Na Young…apakah di ilsan jungkook menikah dengan Sa Na? Tp menurutku bukan karna cinta deh nikahnya….lanjutkan baca deh….hehe

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s