Look At Me Now

Look At Me Now

image

Di sebuah ruangan cukup besar, dinding berwarna kuning gading dengan tempelan kertas program kerja, daftar anggota inti maupun non inti, jam digital disertai termometer suhu di kiri ruangan serta tiga almari besar, empat belas muda-mudi berjas biru tua bergelung dengan aktivitasnya meneliti lembar jawaban. Tak ada yang bersuara. Hanya tangan serta otak yang bekerja-salahkan ketua tim mereka yang ada di barisan ujung yang tak membiarkan mereka mengeluarkan sepatah katapun. Mereka hanya bisa mendesah maklum, sang ketua bukanlah orang yang bisa diajak tawar-menawar dengan baik.

Namun kondisi kondusif itu tidaklah berlangsung lama, tepat di menit ke tiga puluh empat terhitung sejak mereka mulai mengerjakan, teriakan pria bibir tebal bersurai cokelat segera menggema. Menggegerkan seluruh jajaran inti Organisasi Intra Sekolah Shining Star Academy yang sedang termenung di tempat. “Gawat! Target INY1 mendapat nilai hampir sempurna!” Ia acung-acung lembar jawaban di tangannya yang segera diambil rekan-rekan sejawatnya. Tak jauh berbeda dari ekspresi yang ia tampilkan, mereka tampak terkejut terlebih sang ketua yang bahkan mengangsur senyum kecewa.

“Adakan ujian ulang saja khusus untuknya,” pria lain bername tag Kim Tae Hyung menyarankan. Dua belas lainnya saling pandang, mengangguk setuju dengan argumen pria tampan itu.

Sang ketua menghela napas. Memandang lagi kertas jawaban di tangannya, menimbang keputusan apa yang akan ia ambil. “Jangan biarkan aku menyesal telah bersusah payah memberi soal yang bobotnya lebih sulit dibanding peserta lain,” tambah pria berlesung pipi menautkan kedua tangan di depan dada.

.
.
.

Title: Look At Me Now
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young
Genre: School Life, Romance, Fluff, AU
Length: Oneshoot
Rate: T
Cover By: GreenLatte Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

ⓒ2016 Nadhea Rain

~~~

Story begin..

Orang bilang cinta tak ada logika, bisa mengubah yang jahat jadi baik, yang dulunya pendiam jadi urakan, dan lebih lagi. Cinta juga tak bisa ditebak, bagaimana dan kapan persisnya cinta itu datang serta dengan siapa kita tidak tahu. Bisa saja ia hadir dalam kurun waktu singkat, katakanlah cinta pada pandangan pertama atau yang lebih parah; love within three seconds. Bisa juga setelah sekian lama mengenal satu sama lain baru merasakan.

Cinta memang gila, namun tak ada yang mampu menampiknya.

Lalu, apa yang tuan muda kita alami pun sama. Awalnya Jeon Jung Kook-tuan muda kita-sendiri tak percaya dengan rasa yang tumbuh mekar di hatinya. Apakah ini yang disebut cinta? Ia sungguh tidak mengerti-tepatnya ia terlalu pecundang untuk mengaku mengagumi seorang gadis sementara penggemar-penggemar fanatiknya tak pernah memberikan efek sedemikian dahsyat.

Jung Kook merasa seperti pria bodoh.

Mereka bertemu di kantin sekolah satu tahun lalu. Ia yang tengah asyik melahap menu makan siang terhipnotis dengan gelak canda di seberang meja.

Tanpa sadar matanya bergulir menatap bagaimana tawa kecil lolos dari bibir tipis itu. Bagaimana mata indah berbingkai bulu lentik melekuk membentuk petak kecil senyum, bagaimana rambut sepinggang bergoyang manakala tubuh ramping sang gadis ikut bergerak menahan tawanya yang kian membuncah. Bahkan ia tak sadar jika sedari tadi kunyahan di mulutnya telah habis. Jung Kook segera mengisi kembali sendok, melahapnya penuh-penuh.

Sekali lagi iris hitamnya menyisir, menelisik paras ayu yang terlihat bersinar di antara lima gadis lain. Seolah gadis cantik itu sebuah bintang yang ada di cerita dongeng masa kecilnya, yang mampu memancar sinar ketika hatinya bahagia. Bibir Jung Kook berkedut memancang senyum. Ia kembali menyumpal mulutnya dengan satu sendok penuh makanan.

Ia tak mengerti mengapa kekaguman pertamanya pada seorang gadis berujung candu yang tak kunjung jua surut. Pagi-pagi sekali ia sudah repot merengek pada sang ibu tercinta, meminjam sebentar akun dan password khusus website data sekolah berencana mengambil sedikit data dari gadis yang membuatnya keluar dari zona normal. Tentu ia bisa dengan mudah mengakses mengingat sang ibu adalah kepala sekolahnya. Ia bahkan rela Nyonya Jeon Hae Rim menggodainya habis-habisan setelah mengetahui tujuan utamanya meminjam akun. Yah. Meski begitu setidaknya ia sudah menemukan nama gadis cantik itu ‘kan?

Im Na Young.

Lalu entah sadar atau tidak kebiasaan Jung Kook sekarang berubah. Jika kelas kosong ia tidak lagi terobsesi dengan latihan dancenya, melainkan berpura mengelilingi kelas-kelas junior. Berhenti dan mengamati mimik serius Na Young mendengarkan penjelasan, sesekali mengangguk mengerti seraya menulis catatan-catatan kecil di buku sampul merah muda. Atau ketika pelajaran olah raga berlangsung ia akan menyempatkan diri menilik sang pujaan hati yang memang berolah raga di hari yang sama.

Ia harus berterima kasih pada staff sekolah yang bersedia menuruti keinginannya mengganti beberapa jadwal pelajaran sang gadis-tentunya dengan imbalan yang menggiurkan. Satu bulan penuh golden cardnya diperas paksa membelikan belanja kebutuhan nona In Young. Belum lagi tagihan kue beras tiap istirahat makan siang baik Jung Kook sibuk atau tidak harus ada di meja sang staff.

Semua datang begitu tiba-tiba. Jung Kook mungkin tak sadar banyak jerat tali cinta yang mengikatnya kuat. Ketika iris mereka beradu, Jung Kook merasa ada gelenyar lain memenuh-sesaki dinding-dinding hatinya. Membuat dadanya menghangat ketika senyum secerah matahari melengkung di antara gembil pipi sang gadis cantik. Membuat degup jantungnya tak beraturan, sadar atau tidak Jung Kook menyukainya.

Im Na Young, sosok menawan itu bagaikan magnet. Magnet yang terus memaksa matanya hanya terpaku pada rupa cantiknya saja. Yang mendesaknya mengantar bungsu keluarga Im-tentu dengan jarak cukup jauh-hingga selamat sampai kelas. Menuntutnya melebarkan mata pada pria-pria lain yang mencoba mengamati molek tubuh sang pujaan hati.

Tuan muda kita bahkan tak sadar jika ia telah dikuasai perasaan baru-perasaan asing-yang sebelumnya tak pernah bersarang di relung hatinya.

Hari itu awal musim semi. Seperti kebanyakan sekolah menengah lain, Shining Star Academy-sekolah mereka-juga akan mengadakan festival musim semi tahunan. Dan Jung Kook benar-benar beruntung mendapat jabatan sebagai ketua panitia tahun ini.

Ia melangkah, ditemani beberapa panitia lain menunjuk satu murid dari tiap kelas untuk mendapat bimbingan khusus mengenai festival. Jantungnya berdetak cepat tanpa bisa ia cegah manakala kikisan jarak kelas gadisnya semakin dekat. Ia menarik napas sekadar menetralisir gelora di dada.

Netra kelam itu menemukannya. Duduk di bangku ke dua dengan buku terbuka di atas meja. Bibir yang merapal tiap-tiap kalimat, dahi mengernyit yang Jung Kook perkirakan mengeja istilah asing. Begitu tenang, serius, seolah tak terusik dengan kedatangan sepuluh panitia di depan kelas sebelas dance satu.

Jung Kook berdehem pelan masih betah memandangi objek menarik di hadapannya. Sadar Na Young mendongak, buru-buru menutup buku yang baru saja ia baca.

Mengumumkan tujuan awal mereka datang, semua murid tampak benar-benar antusias dengan festival musim semi. Tak terkecuali Im Na Young, ia bahkan mengode singkat lima temannya yang lain. Kepal kecil tangan di udara, menyelipkan rambut di balik telinga, senyum tulus bagai oase di padang kering, Jung Kook sudah hafal ekspresi itu. Ekspresi bahagia seorang Im Na Young.

“Aku menunjuk Im Na Young sebagai ketua panitia festival musim semi kelas sebelas dance satu. Setelah ini bergabunglah dengan kami di aula,” binar kebahagiaan semakin ia rasa menguar dari gadis pujaannya. Memaksa bibirnya berkhianat dengan memamerkan senyum kecil sebelum berbalik diikuti rekan-rekannya yang lain.

Keramahannya …

Bagaimana setiap hari Na Young akan menyapa, bukan saja teman-teman satu angkatan, tapi juga kakak tingkat, guru bahkan karyawan sekalipun.

Bagaimana dia membantu pustakawan merapikan tatanan buku selepas makan siang-yang tentunya berantakan ulah murid-murid sekolah. Bagaimana ia akan menyelinap diam-diam keluar kelas ketika pelajaran fisika dimulai. Bukan tanpa alasan membolos, ia hanya beranjak ke perpustakaan melanjutkan kegiatan menekuni bahasa Mandarin. Materi fisika sudah ia pelajari sewaktu liburan musim panas lalu.

Bagaimana suara merdu menyapa hangat pendengar-pendengar setianya di radio-untuk hal ini Jeon Jung Kook tak pernah absen mendengar radio, dan kuberi tahu rahasia, Jung Kook jarang mendengarkan fasilitas satu ini. Bagaimana ia terkikik geli membacakan salam-salam pendengar. Bagaimana … dan bagaimana yang lain.

Im Na Young dengan segala sifatnya telah membuat Jeon Jung Kook bertekuk lutut.

Pernah ketika Jung Kook menyambangi atap sekolah-ia selalu menyempatkan diri berada di atap tiap hari-ia dikejutkan isak tangis yang entah sejak kapan menggelitiknya menelisik lebih jauh. Kaki-kakinya melangkah, cukup pelan, ia tak ingin membuat si-gadis-menangis ketakutan-Jung Kook menyimpulkan isakan itu pastilah dari bibir seorang gadis. Dan selepas belokan pertama Jung Kook melihatnya.

Dua kakinya ditekuk, wajah yang disenderkan di lutut, bahu bergetar seolah benar-benar tertimpa beban berat masalah. Jung Kook menghela napas kembali melanjutkan langkah. “Im Na Young,” sapanya pelan. Namun yang dipanggil tetap bergeming, terisak pedih.

Sekali lagi Jung Kook mendesah. Mengambil langkah tepat di hadapan Na Young, tangan besarnya tergerak menepuk puncak kepala sang gadis pujaan. Ingin rasanya Jung Kook berkhianat, meredam tangis dengan memeluknya erat. Namun ia sadar ini bukan waktu yang tepat. Ia benar-benar menahan hasrat yang kelewat membuncah di dada. Menghela napas kasar.

“Hei,” ia masih mengusap puncak kepala gadis Im sayang. Perlahan Na Young mendongak. Menampilkan dua iris berair yang sejak tadi terkatup rapat.

Binar ceria itu redup, berganti kosong, pedih, yang entah bagaimana membuat Jung Kook merasa getir. Tatap hangat itu menghilang terenggut sekelumit nyinyir luka. Jung Kook menghela napas sekali lagi, “Kau menangis.”

Na Young mengangguk lirih, “Aku…aku tidak percaya kemampuanku sendiri. Aku…takut,” berusaha menunduk kembali menyembunyikan air mata yang kian membuncah, namun Jung Kook menahannya. Ibu jarinya ia gunakan menyeka leleh bening itu. Mengisyarat semua-akan-baik-baik-saja dan Na Young kembali mengangguk.

“Ada kelas tambahan yang kuikuti, kelas musik. Besok ada praktek dan aku…aku tidak bisa. Semua mengatakan aku akan gagal karena aku dari jurusan dance.” Air bening kembali meluncur bebas meski tak sederas tadi. Jung Kook tersenyum maklum. Diusapnya lagi anak sungai kecil di pipi gembil sayang.

“Memutuskan masuk di kelas itu saja kau sudah berani. Lalu sekarang apa yang kautakutkan? Berhenti menangis, the harder you get the more you should smile. Semua orang akan menyukai sihir pesonamu. Kau mengerti?” Jung Kook kembali mengusap air mata Na Young dengan kedua ibu jarinya. “Jika dipikirkan memang terasa berat, tapi percayalah kau pasti bisa melakukannya.”

Perlahan senyum kembali mengembang di wajah cantik itu. Hanya berkat sepatah dua patah kata dari Jung Kook perasaannya kembali membaik. Ia bisa. Na Young percaya bahwa dirinya dapat berdiri lebih tegak, melangkah lebih mantap, dan berlari lebih cepat.

Melihat pancar wajah Na Young kembali bersinar, Jung Kook mengusap puncak kepala sang gadis lembut, menarik tangannya bangkit. “Ayo. Aku akan mengajarkanmu satu lagu.”

Jung Kook tersenyum, mengetuk-ngetuk bolpoin di tangan kanannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa menjadi pribadi berbeda di hadapan Na Young. Sangat Out Of Character dan anehnya ia tidak dapat menghentikannya. Baik perasaan mengerikan yang tengah bertandang atau adiksinya pada gadis bungsu keluarga Im tersebut.

Tidak ada yang menyadari perubahan Jung Kook, selain ibu dan juga ayahnya tentu saja. Tapi lama kelamaan, seiring berjalannya organisasi intra sekolah yang ia pimpin, beberapa orang menyadari keanehan sikap Jung Kook. Tepatnya enam orang yang memperhatikan gerak-gerik keduanya, yang melihat kejanggalan Jung Kook ketika berada di dekat Na Young.

“Rupanya Adik Kecil kita sedang jatuh cinta,” sindir salah satu di antara keenamnya setelah Jung Kook selesai menulis. Merebut kertas biru yang dipegang Jung Kook, membacakan keras-keras untaian kata-kata manis dari gores tangan seorang Jeon Jung Kook. Tak membiarkan sang empunya merebut surat cinta itu.

Mereka tertawa. Mengusap kepala si bungsu, terkadang memukul pelan lengan juga merangkul Jung Kook. Ikut bahagia dengan apa yang Jung Kook rasakan. “Berhenti menggodaku, hyung,” yang digoda hanya mampu mengelak meski pipinya nampak bersemu merah. Hm, mencoba berbohong eh Jeon Jung Kook?

***

Pagi ini Na Young begitu bersemangat kembali ke sekolah. Pukul enam pagi ia bahkan sudah mencium tangan kedua orangtuanya lalu berpamit berangkat. Hari penting, tuturnya pada sang ibu yang tentu saja dihadiahi kerutan di dahi wanita paruh baya itu. Na Young mengambil motor maticnya dengan hati riang.

Di setiap jalan ia bersenandung, menyapa siapa saja yang ia lalui meski banyak yang tak ia kenal. Ia gembira, tentu saja. Hari ini ia akan menerima hasil tes tulis pertama seleksi pencalonan diri sebagai ketua organisasi intra sekolah periode selanjutnya. Dan Na Young begitu optimis. Ia bisa menyelesaikan soal-soalnya dengan baik jadi tidak ada salahnya berbesar hati kan?

Memarkirkan motor, ia kembali bersiul riang menuju papan pengumuman yang menurut Ryu Ye Rin-sahabatnya-sudah dipasang. Na Young membuang napas sekali lagi, melangkah tenang, ikut berdesakan dengan peserta lain.

Namun sayang seribu sayang, gayung tak bersambut, bahu Na Young merosot begitu saja menatap nilainya yang tak sesuai harapan. Ditambah tulisan ‘ulangi’ yang dicetak besar terasa begitu mengejek mencabik-cabik perasaan gembiranya. Tunggu. Matanya kembali bergulir membaca satu persatu hasil nilai peserta lain namun yang ada hanya lulus dan tidak lulus.

Artinya hanya ia seorang yang mendapat hasil ulangi.

Dahinya mengernyit, memikirkan konklusi tepat mengenai masalah ini namun belum selesai, suara baritone sudah menginterupsinya. Mengatakan padanya bahwa ia sedang ditunggu anggota inti OSIS lama untuk melakukan ujian tulis ulang. Membuat jantungnya tak henti berdebar kencang, takut jika ia benar-benar tak lolos seleksi awal ini. Kemana rasa percaya dirimu yang tadi, Na Young? Innernya bersunggut-sunggut kesal.

Yang pertama kali Na Young tangkap dari iris cokelatnya adalah Ji Min dan Ho Seok-senior yang juga merupakan anggota inti OSIS-yang duduk di depan pintu ruang tes kemarin. Ho Seok mengangguk singkat, menyerahkan satu paket soal, mempersilakan Na Young masuk. Gadis cantik itu mengangguk gugup. Ia bersumpah tak pernah segugup ini sebelumnya.

Pandangan Na Young mengedar, menatap sekali lagi ruang tes yang kemarin terasa begitu nyaman untuknya. Hanya ada satu bangku tersisa di sana, dengan Jeon Jung Kook menduduki kursi pengawas, diapit Yoon Gi serta Nam Joon. Na Young meneguk ludah, tangan ia kepal kuat-kuat di samping tubuhnya, menyalurkan energi positif bahwa ia bisa. Im Na Young tidak akan menyerah! teriaknya dalam hati.

Ia duduk di bangku yang disediakan setelah membungkuk pada ketiganya. Membuka lembar soal, diam-diam ia tersenyum lebar. Soal dengan bobot sama seperti kemarin, batinnya menjerit bahagia.

“Kami memberikan satu kesempatan lagi untukmu karena kami menilai kau memiliki banyak potensi. Jadi, jangan kecewakan kami yang memberimu kesempatan untuk memperbaiki nilai,” pria berlesung pipi dengan nametag Kim Nam Joon berujar tegas diikuti anggukan dua rekannya yang lain. Na Young ikut mengangguk mengerti, kembali menghadap lembar soal di hadapannya.

Soal-soalnya meski membingungkan dan terkadang membuat dahi berkerut tapi Na Young selalu dapat menjabarkan solusinya. Inilah alasan mengapa ia lebih menyukai soal essay dibanding pilihan ganda. Kemampuan mengarang ditambah pengetahuan luas Na Young tentu membuatnya mudah mengerjakan. Ia tersenyum menyelesaikan lembar pertama soal.

Na Young mendengar bangku ditarik lalu gesek sepatu menggema. Mendongak, ia mendapati Nam Joon dan Yoon Gi meninggalkan ruangan. Tak ambil pusing ia mengangkat bahu, membalik lembar soal, membacanya teliti. Dahinya mengernyit, beberapa kali ia membaca perintah soal namun masih tak percaya dengan apa yang tertulis di kertas tersebut.

6. Lihat ke depan.
Lihat aku sekarang.

J.J.K

p.s : Kau boleh jawab “tidak”, tapi konsekuensinya kau tak akan melihatku lagi karena aku akan berangkat ke Busan besok.

p.p.s : Aku mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu denganmu di kantin, asal kau tahu.

Dan Na Young semakin gelisah manakala ia mencoba tak terlihat konyol dengan mengangkat kepala. Ia merasa debaran jantungnya sungguh memalukan, berdetak dengan kencang tak mengerti situasi dan kondisi. Sementara di depan sana, di meja pengawas, Jeon Jung Kook menenteng banner cukup besar bertuliskan ‘Would You Be My Girlfriend?’ dengan menggaruk tengkuknya yang entah gatal atau memang hanya bentuk pengalihan rasa canggung.

**

Jung Kook hanya bisa tersenyum membaca ulang kertas lembar jawaban yang ditulis sang pujaan hati. Ia benar-benar harus berterima kasih pada enam temannya yang telah memberikan dukungan penuh.

6. Yes!

p.s : Itu artinya aku juga lulus seleksi pertama kan?

p.p.s : Kau tahu kau hampir saja membuatku terkena serangan jantung? I love you more!

-FIN-

A/N: Jungkook stan jangan rajam saya ><v

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s