What If [BTS Ver] Chapter 7

What If [BTS Ver] Chapter 7

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Marriage Life, Fluff, Romance, Angst, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 7:
First Date at the Zoo

~~~

Story begin..

Aku sudah mengucapkan selamat pagi pada seluruh alat-alat dapurku sejak satu setengah jam yang lalu. Pagi yang cerah. Cahaya matahari menelusup lewat celah-celah kecil ventilasi apartment secerah moodku yang meningkat tajam. Ini mungkin sedikit gila karena aku bahkan ‘tak bisa tertidur nyenyak hanya sekadar memikirkan menu bento apa yang akan kumasak hari ini. Bahkan jika kau memerhatikanku sedari tadi, senyum bodoh ini ‘tak jua lekang dari bibirku. Oh tidak-tidak, jangan katakan aku sudah gila.

Satu setengah jam dengan berbagai ide masakan sejujurnya membuat otakku sedikit lebih sesak. Tapi aku tidak terlalu peduli. Mungkin saja ucapan Yoon Gi tentang kencan pertama sudah meracuniku sejauh ini. Aku mengerjap beberapa kali menatap bento penuh di satu kotak, juga ayam goreng, gratin dan Chicken Doritang di masing-masing kotak lain di hadapanku. Apa aku baru saja membuat konsumsi untuk sepuluh orang? Tanpa sadar tawa kecil menguar dari bibirku. Mungkin memang benar aku sedikit kurang waras.

“Pagi,” suara khas bangun tidur priaku cukup mengejutkan. Aku menoleh tepat ke arah rambut blondenya yang berantakan. Ia melangkah mendekati kulkas, mengambil satu botol air mineral dingin, menegak setengahnya. Aku tersenyum membalas sapaan paginya dengan antusias.

Setelah menutup kembali pintu kulkas, dahinya mengernyit menampilkan garis-garis lurus. Manik seindah jelaga itu seakan mengebor makanan-makanan yang sedang kususun rapi dalam kotak. “Tidak lupa dengan kencan pertama kita ‘kan?” ujarku memutar bola mata jengah. Apa ia sedang mengajakku bercanda dengan tatapan intimidasi itu?

“Aa. Aku masih sedikit mengantuk. Ingatanku setelah bangun tidur benar-benar payah.” Yoon Gi memasang senyum kaku. Membuatku ikut mendengus geli. Beberapa jam lalu ia yang getol mengajakku kencan dan sekarang justru sebaliknya. Kudorong tubuhnya menjauhi pantry, mengatakan bahwa ia harus segera mandi sekarang juga namun ia justru berbalik. Meraih daguku, mendekatkan wajah tepat sepuluh senti di depanku. Aku bersumpah bisa merasakan deru napasnya menggelitik kulitku. Ini tidak baik untuk kesehatan jantung.

Refleks aku memejamkan mata. Bukan apa-apa hanya saja otakku terus mencipta konklusi aneh seperti… priaku akan menciumku misalnya. Sial. Kurasa wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang.

Aku merasa tangan besar Yoon Gi menyapu pipi kiri. “Ada telur di wajahmu,” ujarnya cukup pelan. Membuatku membuka mata, tertawa hambar dengan pikiran dangkal yang tiba-tiba meracuni otakku. Lagipula untuk apa Yoon Gi menciumku?

Aku kembali menata kotak bento saat Yoon Gi berjalan keluar pantry. Tidak sampai lima menit, kotak-kotakku sudah membentuk tingkatan rapi. Kulepas celemek, melipatnya ke tempat semula.

Randa masuk apartment kami saat aku meletakkan kotak biru di meja ruang tengah. Ia cukup terkejut mendengar pernyataan Yoon Gi tentang kencan kami hari ini. Mengatakan-atau tepatnya merengek-untuk ikut serta tapi segera saja Yoon Gi dengan tegas menolak. Priaku bahkan mengatakan bahwa hari ini adalah jadwal kencan kami jadi tidak ada siapapun selain kami yang akan ikut serta.

Aku tersanjung.

Tiba di kebun binatang pukul tujuh lewat lima puluh tujuh menit, tangan Yoon Gi menelusup di tanganku, menggenggamnya erat. Aku mendongak cukup terkejut mendapati reaksi priaku memasang senyum manis. Jantungku bergemuruh. Berdetak kencang yang mungkin saja dengan sangat tidak etis Yoon Gi mendengar ritmenya.

Tidakkah ia tahu bahwa sentuhannya memengaruhiku?

***

Aku merasa Yoon Gi patut menjadi tour guide pribadi di sini. Pengetahuan yang ia miliki benar-benar luas. Sepanjang perjalanan, ia selalu memberitahuku informasi-informasi penting mengenai hewan-hewan yang kami jumpai. Seperti bagaimana cara menenangkan induk gajah yang stress, hingga tata cara memilah makanan yang baik untuk jerapah. Aku tidak percaya Yoon Gi berbicara sebanyak ini, namun senyum yang terus menerus hadir di wajahnya menyurutkan keraguanku. Ini adalah sisi lain priaku yang dingin.

Tiba di kandang kelinci, jari telunjuk Yoon Gi menunjuk satu di antara kelinci-kelinci lain yang tidak ikut memburu wortel. Aku bertanya-tanya apa yang akan priaku lakukan sampai ia mengambil si kelinci malang dan menggendongnya. Merogoh saku celana, mengambil sebuah botol kecil seukuran sirup obat batuk anak-anak.

“Pencernaannya bermasalah sejak satu bulan lalu. Kurasa ia masih merasa kesakitan.” Priaku mencekoki kelinci malang itu dengan satu tutup takar sirup-entah apa namanya-lalu mengembalikannya ke kandang. “Obat Herbal, lihatlah,” Yoon Gi berujar menunjuk kelinci malang yang sudah ikut menyantap wortel.

“Dia sudah mau makan?” Mataku berbinar ceria. Obat herbalnya bekerja secepat ini dan astaga. Apa herbal tadi sejenis dengan tanaman-tanaman riset priaku? Yoon Gi mengangguk memamerkan lengkung manis.

Yoon Gi mengajakku kembali berpindah tempat. Gunung kera adalah pilihan selanjutnya sekaligus anjungan terakhir di kebun binatang ini. Aku mengetahuinya dari brosur yang ‘tak sengaja kuambil di dekat pintu masuk.

Priaku menunjuk arah kera berbadan gemuk dan menyuruhku menebak. Otakku memproses dengan cepat lalu sebuah ide sudah menghampiriku. “Mirip tuan Manajer?” ujarku disambut tawa renyah Yoon Gi. Ia sungguh mengucap syukur karena bukan hanya dia saja yang berpikiran seperti itu. Aku ikut tertawa. Jika dipikir-pikir memang mirip tuan manajer. Kurasa jika Ho Seok dan yang lain pun akan mengatakan hal yang sama.

***

Kami pergi ke toko suvenir sebelum makan siang. Sejujurnya aku tertarik dengan keychain panda merah yang terletak di sudut kanan ruangan tapi Yoon Gi sudah lebih dahulu menarikku keluar. Desah napas kecewa kulepas begitu saja. Kurasa ia tidak berniat membeli satu pun oleh-oleh.

Priaku membawa kami ke bangku khusus yang sudah disediakan untuk menikmati makan siang. Sebelum ritual kami dimulai, aku meminta Yoon Gi duduk manis menungguku membeli minuman dingin. Tuan Angin mempermainkan rambutku selagi aku berjalan tenang. Cuaca sangat cerah dan aku benar-benar menyukainya.

Mengambil dua botol soda, aku bersumpah melihat seseorang tengah mengintai gerak-gerikku. Terlihat seperti… Randa karena kepala abu-abunya begitu mencolok. Aku mendengus, kembali menyusul Yoon Gi yang-kurasa-sudah kelaparan.

“Apa kau melihat-um-apa kau juga berpikir jika Randa memantau kita?” Aku bercicit setelah duduk di hadapan priaku. Responnya masih tetap sama-datar-hanya menggeleng pelan dan itu sukses membuatku menghela napas.

Mungkin hanya perasaanku saja.

Aku membuka kotak biru tingkat empat dengan antusias, menjejer tiap-tiap kotak di hadapan Yoon Gi dengan senyum cerah. Priaku sedikit terkejut terbukti dengan mata kecilnya yang membulat beberapa saat disusul bibir membentuk huruf o kecil. Aku terkikik. Mempersilakan priaku makan lebih dahulu, aku memandanginya lebih lama dari biasa.

Cara makan yang benar-benar sopan, tidak ada percakapan-namun tidak formal-mengingatkanku dengan status aslinya sebagai seorang pangeran. Aku mendengus menghalau pikiran tidak-tidak yang baru saja hinggap di otakku dengan memasukkan telur gulung. Priaku sedang menikmati gratin dan mencari-cari di mana aku menyembunyikan brokoli. Dia benar-benar mengira brokoli adalah momok mengerikan. Itu hiburan yang menyenangkan.

***

Cakrawala terbungkus mega pekat, Tuan Angin bergerak cepat menerpa daun-daun kering yang teronggok begitu saja. Pukul lima belas lebih tiga puluh dua menit. Masih sekitar dua puluh delapan menit sebelum shiftku dimulai.

“Tunggu di sini lima menit,” Yoon Gi berkata setelah kaki-kaki kami menginjak pintu keluar. Aku mengangguk, menatap punggung besarnya menjauh kembali memasuki area kebun binatang. Menyisakan aku yang berdiri di dekat kotak penjualan loket.

Hujan turun begitu saja membuatku menengadah. Tanganku terulur menggapai molekul-molekul cair yang berjatuhan serempak. Sungguh kontras dengan keadaan beberapa jam lalu di mana matahari bersinar angkuh. Aku menghela napas.

Priaku datang tepat setelah aku memeriksa ulang arloji. Sebagian bajunya basah karena payung yang ia pegang sama sekali tidak terkembang. Aku menghadiahi delikan tajam namun ia hanya mengangkat bahu. Menyodorkan keychain panda merah dengan segaris lengkung tipis, meletakkannya tepat di atas tangan kananku.

“Aku juga punya satu. Oleh-oleh untuk pasangan,” sahutnya mengetahui kebingunganku. Dari tangan kirinya terulur keychain yang sama dan sejujurnya senyum yang ia pasang membuatku gugup. Bagaimana pria itu bisa bersikap normal meski sedang mencoba hal romantis?

“Sepayung denganku?” Yoon Gi mengembalikan kesadaranku. Aku menengadah sekali lagi, awan hitam masih menumpahkan isinya dan aku akan terlambat jika menunggu hujan yang sepertinya tidak akan reda dalam waktu dekat. Mengiyakan ucapannya dengan anggukan, priaku segera mengembangkan payung biru gelap, menuntunku mendekat dan merapatkan tubuh kami.

Dari jarak sedekat ini, Aftershave-nya benar-benar menusuk-nusuk indera penciumanku. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya cekatan, merapatkan diri seraya berdoa agar ruam kemerahan tidak mengisi penuh pipi-pipiku. Jangan tanyakan bagaimana keadaan jantungku karena sejujurnya aku bingung mendeskripsikan tabuhan bertalu-talu yang kurasakan ini.

Aku menghela napas. Bersyukur karena detak jantungku sudah kembali normal ketika kami sampai di Shin Ki’s Bar.

Kami masih melangkah beriringan-dengan jarak tidak terlalu dekat-masuk ke bar dan paman Shin Ki menunjukkan ketertarikan lebih terhadap interaksi kami. Ada Ji Min, Tae Hyung, Jung Kook juga tuan Manajer yang lagi-lagi menonton pertandingan sepak bola. Godaan demi godaan mereka layangkan untuk kami-terutama Yoon Gi-yang hanya kubalas dengan lengkung manis. Aku menggigit bibir selagi berjalan ke meja bar.

Kaki-kakiku memberat, langkahku semakin tidak terkontrol-cenderung diseret-dan aku merasa suhu tubuhku sudah naik beberapa derajat. Air conditioner, meja bar, gelas, segalanya terasa berputar-putar. Tubuhku kehilangan pijakan. Aku mendengar Yoon Gi menyuarakan namaku namun semuanya buram lalu menggelap.

***

Mata seindah jelaga adalah hal yang pertama kali merangsek lensaku. Aku terkejut. Jantungku seakan ingin melompat dari tempatnya, wajah Yoon Gi terlalu dekat-hanya berjarak kurang dari tiga puluh sentimeter.

“Syukurlah kau sudah bangun.” Senyum Yoon Gi terukir, membuat parasnya terlihat seribu kali lebih tampan. “Kau pingsan seharian dan Shin Ki benar-benar tidak bisa diam menyuruhku ini dan itu.”

Aku menghela napas, menggigit bibir bagian dalam seraya menunduk. “Aku minta maaf,” ujarku pelan berbisik pada angin. Tangan besarnya mengangkat daguku, menyuruh netra cokelatku menatap gelengan kepalanya.

Sekali lagi ia memangkas jarak, menaruh tangan yang semula menyentuh daguku menuju pundak, merapatkan kening kami. Tanpa kuperintah kelopak mataku mengatup, detak jantungku terdengar jelas di telinga. Ini memalukan tapi aku tidak berniat melepas kungkungannya.

“Suhu tubuhmu belum berkurang,” priaku melepas tautan kening kami. Dengusan napas terekam jelas di indera pendengaranku. Wajahnya terlihat kecewa. Ia beringsut turun, menimbulkan derit kecil di ranjang kami. Mengatakan bahwa ia akan segera kembali dengan senyum paksa. Kuanggukkan kepala mengiyakan ucapannya.

Tidak sampai lima menit priaku menepati janji, kembali dengan mangkuk di tangan kanan juga gelas air putih di tangan kiri. Ia membantuku bangun-menyender di kepala ranjang-meski aku bersikeras bisa bangun sendiri. Aroma bubur ayam yang ia bawa menguar, membuat isi perutku seakan menguap. Priaku mengambil kursi rias, meletakkannya di samping ranjang.

Menghempas beban tubuhnya di kursi, Yoon Gi mengambil satu sendok penuh bubur, menuntunnya ke depan mulutku. “Kau tidak perlu melakukan ini, Yoon Gi,” tolakku menekan ujung sendok. “Aku bisa makan sendiri.”

Ia menggeleng menjauhkan tanganku. Mengetuk-ngetuk bibirku dengan ujung sendok, priaku benar-benar seorang yang keras kepala. Aku mengalah. Bibirku membuka dan ia langsung memasukkan sendok penuh. Kunyahan demi kunyahan benar-benar kunikmati, rasanya menakjubkan.

Senyum Yoon Gi terbit manakala aku mengomentari bubur yang ia bawa. Ia kembali mengisi sendok, berusaha menyuapiku lagi namun dengan cepat aku menolak. Mengerti permintaanku tidak dapat ditolak ia mendengus, menyodorkan mangkuk dengan ekspresi yang sulit kubaca. Ia memerhatikanku selagi aku menandaskan bubur.

Butuh sekitar lima menit untukku menghabiskan isi mangkuk. Gelas minumku tandas sejak buburku tinggal separuh namun aku masih sangat haus. Dengkuran halus Yoon Gi menginterupsiku. Membuatku mendongak menatap wajah tampan yang kini terlelap. Aku beranjak tanpa mengganggu ketentraman tidurnya.

Langkahku masih terasa cukup berat. Mungkin efek demam yang menyerang belum sepenuhnya memudar. Aku merutuki kebodohanku sendiri. Seharusnya aku tidak memaksakan diri berlarian di bawah hujan.

Mengambil botol air mineral dari dalam kulkas, aku mengerang mendapati kekacauan yang terjadi di pantry. Panci yang ditengkurapkan tidak pada tempatnya, sendok pengaduk di wastafel, potongan bumbu berserakan, serta kerak menempel di kompor. Aku mendesah.

“Lady Ye Rin? Seharusnya anda masih beristirahat.” Aku menoleh mendapati kepala abu-abu Randa menunduk singkat. Kuletakkan jari telunjuk di bibir mengisyarat agar Randa memelankan suara.

“Yang mulia benar-benar mengkhawatirkan anda, Lady Ye Rin,” Randa mengedarkan pandang, tersenyum menatap peralatan dapur yang berserakan. “Sebelumnya beliau tidak pernah peduli dengan orang lain. Tapi anda, yang mulia bahkan membuatkan bubur untuk anda.”

Mataku membulat terkejut. Fakta baru yang Randa ucap benar-benar mengejutkan. Bubur tadi… hasil jerih payah Yoon Gi? “Jadi bukan kau yang membuat?” tanyaku memastikan. Randa menjawabnya dengan gelengan penuh, membeberkan rahasia Yoon Gi yang tadi pagi mendatanginya untuk menanyakan resep bubur.

Aku kembali ke kamar diikuti Nathan. Menyuruh pria abu-abu itu membaringkan Yoon Gi di sampingku namun justru ia menarik sleeping bag. Membopong dan membenarkan posisi tidur priaku di sana. Mengucap selamat tidur setelah aku kembali bergelung dengan selimut, Randa mematikan saklar lampu seraya membungkuk. Aku harus berterima kasih pada Yoon Gi besok pagi.

###

Pagi cerah dengan kondisi tubuhku yang sudah lebih baik. Kerjapan mataku berhenti di hitungan ke lima. Aku mengerang kecil. Bersiap menyibak jendela menikmati desau angin pagi namun tangan yang melingkari pinggulku membuatku memucat. Aku menggeser tubuh dan dunia terasa berhenti berputar saat ini juga.

“Selamat pagi.” Cokelat bertemu hitam kelam beberapa saat. Yoon Gi kembali menenggelamkan wajahnya di rambutku, mengeratkan rengkuhannya di tubuhku.

“Y-Yoon Gi?” ujarku terbata. Semalam aku jelas tahu Randa memindahkan Yoon Gi di sleeping bag tapi… bagaimana ia bisa ada di sini?

Ia mendongak, menyibak anak rambut yang mengganggu area pandangku. “Aku sedang membuktikan teori. Induk kera akan memeluk anaknya yang demam untuk menurunkan panas. Semalam suhu tubuhmu kembali naik saat aku terbangun dan aku memutuskan untuk memelukmu.” Tangan besarnya beristirahat di keningku. Segaris tipis senyum tercipta. “Dan teori itu berhasil.”

Aku tersenyum canggung. Jantungku sudah berdetak ‘tak berirama sekarang. Ini adalah pengalaman pertamaku berbagi ranjang dengan seorang pria. Kugigiti bibir menetralkan rasa canggung.

“Hangat,” ujarnya lagi. Mataku kembali bergulir menatap obsidiannya. Meminta jawaban atas kata yang baru saja tercipta dari bibirnya. “Tidur denganmu… rasanya hangat dan… nyaman.”

Kutelan ludah dengan susah payah. Ini gila. Wajahku pasti terlihat seperti kepiting rebus.

“Bisakah kita berbagi ranjang setiap hari?” pintanya menggenggam erat tanganku. Mendekatkan bibirnya di telingaku, ia kembali berujar, “Selamat ulang tahun, Ye Rin-ah.”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

One thought on “What If [BTS Ver] Chapter 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s