Breathe [BTS Version] Chapter 3

Breathe [BTS Version] Chapter 3

image

Title: Breathe
Cast: Jeon Jung Kook, Im Na Young, Han Sa Na
Genre: Marriage Life, Angst, Kekerasan, Romance, AU
Length: Chaptered
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING: Mengandung kekerasan dan bumbu ‘Marriage Life’ lain jika tidak kuat disarankan menekan tombol BACK, lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai ekspektasi kalian saya tidak bertanggungjawab/? *loh

Chapter 3

~~~

Story Begin..

Tirai bening berderai membasahi bumi. Menjatuhkan jutaan molekul cair yang terasa menyayat kobar semangat Na Young pagi ini. Ia mendesah. Hasil respirasinya tercetak di kaca bening tempatnya terpaku.

Genggaman pada kotak oranye di pangkuan Na Young sedikit memudar. Manik cokelatnya mengedar, meniti pandang pada orang-orang yang berteduh di halte maupun emperan toko. Sebentar lagi, rapalnya dalam hati. Ia mendesah lagi dan lagi.

“Kau harus mengambil sikap jika tidak mau terus ditindas. Beranikan dirimu. Aku yakin Jung Kook akan luluh. Kau hanya perlu sedikit sentuhan percaya diri.” Sekali lagi Na Young menghela napas. Tidak perlu diperingatkan, ucapan Ye Rin sudah berdengung-dengung di kepala.

Ya. Semalam ia menginap memang berencana mencurahkan keluh kesah pada sahabat cokelatnya. Dan anak tunggal Ryu itu menyarankan agar ia harus lebih membentengi diri. Ia tahu ia lemah-cenderung takut melawan-namun petuah sahabatnya sejak memakai popok berhasil memantik nyala api kecil yang tersembunyi di dasar hatinya.

Bagaimanapun ia tidak bisa selalu mengalah.

“Sudah sampai, nona.” Ucapan supir taksi membuyarkan lamunan Na Young. Segera ia membayar tarif yang tertera, keluar setelah mengembangkan payung, lalu membungkuk singkat.

Ia menghela napas-tidak terhitung berapa kali kegiatan itu menjadi hobby sendiri baginya-melangkah menuju lobby, membuat laporan kunjungan di meja resepsionis. Merapatkan mantel bulu, Na Young berjalan tenang ke arah lift di ujung koridor yang akan membawanya ke lantai lima.

Gugup kembali menguasai diri wanita manik cokelat itu. Berulang kali ia menutup mata, menstabilkan napas hingga mengusap pelan tangannya sendiri. Setelah usapan ke sepuluh, cengkeraman pada kotak oranye-nya sudah tidak sekuat tadi. Dan ketika pintu besi itu terbuka, Na Young sudah sangat siap.

“Tidak peduli jika nanti kautolak, aku akan mengatakannya,” ia berujar pelan. Menyapa tanaman di pot besar penghalang terakhir-sebelum pintu masuk-dengan ruangan kerja Jung Kook.

Na Young mengetuk pintu, menunggu dengan gelisah sembari menghentak-hentak sepatu kulitnya. Pukul delapan lebih dua belas menit. Ia masih punya empat puluh lima menit sebelum jam mengajarnya dimulai.

Pintu dibuka dan tanpa diperintah jantung Na Young berdegup kencang. Manik cokelatnya bersirobok obsidian kelam milik sang suami. Tiba-tiba lidahnya kelu. Jung Kook menaikkan sebelah alis menatap istri tercintanya yang hanya diam.

“Masuklah,” perintah pria sejuta pesona di hadapan Na Young. Mengangguk, Na Young melangkah kaku mengekor tubuh suaminya yang sudah lebih dahulu menghilang di balik pintu.

Mendudukkan diri di sofa kecil, keduanya masih bergeming-tidak ada yang mau mengawali percakapan. Atmosfer berubah canggung, Na Young merutuki dirinya yang mendadak gugup. Ia menghela napas, memberanikan diri menatap manik kelam sang suami. “Aku membawakanmu makan siang. Semoga kau tidak ada rencana makan siang di luar hari ini.” Senyum terbit di wajah ayu Na Young. Lekas menyodorkan kotak oranye yang sedari tadi ia bawa.

“Aku minta maaf baru mengatakannya sekarang-mungkin kau sudah tahu dari orang lain tapi aku akan mengulanginya.” Sejenak Na Young mengambil napas, senyum masih merekah di bibir tipisnya. “Aku mengandung. Dia sudah ada di sini dua belas minggu,” Na Young mengusap perutnya yang terlihat membesar. Senyum senantiasa hadir di sana.

Ia merogoh tas yang terselempang di lengan, mengambil amplop cokelat, menyerahkannya pada Jung Kook. “Itu adalah surat persetujuan dari dokter untuk pemeriksaan kandungan rutin. Hanya berlaku jika kau menandatanganinya.”

Jung Kook mengangguk. Perlahan, senyum yang Na Young pamerkan ikut menular padanya. Tanpa ia sadari tangan besarnya bergerak kaku, tepat di depan perut Na Young ia berhenti. Sudah lama ia merindukan hal ini. Di mana ia bisa leluasa menyentuh istrinya tanpa harus melukai orang lain.

Kepalanya menengadah, meminta persetujuan Na Young dengan tatapan tulus. Setelah mendapat ijin, tangannya langsung meluncur, membelai sayang perut sang istri. Rasanya masih seperti dulu. Rasanya masih sebahagia dulu. Ditambah bangga yang kini tersemat di dada manakala ia akan menjadi seorang ayah. Tidak ada yang lebih baik dari ini. Jung Kook masih tersenyum.

Na Young menggigit kecil bibir ranumnya sendiri. Fantasi tentang bagaimana lembut tangan Jung Kook membelai sayang calon putranya terealisasi. Ia bahagia. Bibirnya berkedut menyunggingkan senyum manis.

“Tumbuhlah dengan baik sayang. Ayah menantikan kelahiranmu.” Jung Kook kembali mendekat, mendaratkan ciuman panjang di perut istrinya. Setetes air bening terjatuh di pipi Na Young. Ini benar-benar nyata bukan? Ini Jung Kook suaminya ‘kan?

***

Bunyi lonceng bergemerincing memaksa Sa Na menghentikan sejenak aktivitasnya menyiram bunga. Ia mendongak, mendapati seorang pria menatap lekat satu per satu bunga pajangan. Sa Na mendekat, mengucapkan salam seraya tersenyum manis. Sepertinya hujan pagi ini tidak membuat moodnya berantakan.

“Apa di sini menjual bunga Hyacinth putih? Aku sudah berkeliling sejak hujan tadi dan belum menemukannya,” pria di hadapan Sa Na menggaruk tengkuk. Ekspresinya penuh harap, seolah jika di toko Sa Na juga tidak ada, pria itu akan menegak racun tikus. Baiklah. Jangan salahkan pikiran Sa Na yang tiba-tiba ingin membuat lelucon.

Sa Na mengangguk. Membalikkan badan berjalan di antara rak pajangan. “Kau beruntung hari ini tuan. Hyacinth-ku tersenyum manis dan siap dilegalkan,” Sa Na mengacungkan Hyacinth putih yang disambut senyuman lega pria manis itu.

“Puji Tuhan. Aku benar-benar kehabisan akal jika di sini tidak ada.” Pria itu masih tersenyum lega. Mengatakan pada Sa Na keinginannya membungkus semua Hyacinth putih yang ada. Dengan segera Sa Na melesat, mengambil Hyacinth-hyacinth-nya dengan hati-hati. Membungkus sesuai kehendak pria yang ia perkirakan lebih pendek dari suaminya.

“‘Aku berdoa untukmu’. Terdengar begitu dalam,” Sa Na berujar, menaikkan dua jari telunjuknya membentuk tanda kutip pada kata dalam. Selesai, Sa Na tersenyum manis menatap hasil karyanya sekali lagi. Ia memang ahli merangkai bunga. Bukan hal tabu baginya menyelesaikan pekerjaan tidak lebih dari sepuluh menit.

“Seorang gadis menyeberang saat aku menerima telepon. Kurang konsentrasi menyebabkan kecelakaan terjadi. Sampai saat ini gadis itu belum juga siuman padahal sudah lewat lima hari sejak kejadian tersebut. Kata temanku bunga bisa mewakili ucapan seseorang jadi aku memutuskan untuk mencari arti bunga di internet. Terdengar bodoh tapi aku melakukannya.” Sekali lagi pria itu tersenyum. Meraih buket yang ia minta setelah menyerahkan beberapa lembar uang. “Ah, sepertinya aku terlalu banyak bicara hari ini.”

Sa Na tertawa kecil menatap pria di hadapannya yang lagi-lagi menggaruk tengkuk. “Kau baru saja membuatku berpikir jika sehari-hari kau menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi.” Sa Na terkikik geli begitu pula pria di hadapannya. Mungkin kau juga sedang membayangkan seorang pria tampan berbicara dengan bahasa isyarat ‘kan? Mengaku saja.

“Kau melukai harga diriku nona,” pria itu kembali tertawa. Sa Na bahkan memegangi perutnya tak bisa menahan tawa yang membuncah. “Senang bertemu denganmu nona….” ia menggantungkan kalimat setelah berhasil menetralkan tawa.

“Jeon Sa Na,” Sa Na mengangguk, ikut berjalan di belakang pelanggannya dengan senyum manis.

“Baiklah, nona Jeon. Terima kasih atas bunganya.” Ia membungkuk diikuti Sa Na. Bunyi lonceng kembali bergema setelah pria itu menutup pintu.

###

Matahari sudah condong ke barat saat Na Young keluar dari ruang guru. Tidak ada awan pekat menggantung seperti hari-hari biasa. Membuat wanita yang tengah mengandung itu tersenyum cerah.  Mengingat percakapan pagi dengan sang suami, sungguh tidak ada hal yang membuatnya sebahagia ini sekarang.

Menyusuri koridor demi koridor dengan hati riang, sesekali Na Young membalas sapaan murid-murid yang masih aktif melaksanakan ekstrakurikuler. Menyapa tukang sampah yang lewat dengan tong besar mengingatkannya pada memori masa sekolah menengah atas. Hari ini ia terlampau bahagia. Bahkan jika ia bisa menggaris takdir, tentu ia akan menulis hari-hari selanjutnya dengan tinta bahagia saja.

Tiba di lobby, Na Young dikejutkan oleh Jung Kook yang sudah berdiri di samping Rolls-Royce Hyperion Pininfarina warna biru-mobil dengan model antik teman sejati suaminya-dengan segurat senyum. Pria itu mendekati Na Young, mencium pucuk kepala wanita surai hitam seraya menggumam selamat sore, membuat gurat kemerahan tercetak jelas di pipi-pipi Na Young.

Mereka melangkah. Jung Kook menelusupkan tangan besarnya pada tangan Na Young yang segera dibalas dengan genggaman erat sang istri. Berjuta kupu-kupu yang bersemayam di perut mereka berhamburan. Menebar benih-benih bahagia di sepanjang langkah yang mereka lalui.

Tae Hyung yang baru saja hendak menegur Na Young mengurungkan niat. Ia tersenyum. Ikut tertular sepasang insan yang baru saja kembali dilanda asmara. Turut merasa bahagia dengan hadirnya Jung Kook yang bisa membuat senyum Na Young begitu damai.

Jeon Jung Kook membuka pintu mobil untuk istrinya, mempersilakan permaisurinya masuk terlebih dahulu. Hanya sebatas itu namun wajah Na Young kembali tersipu hebat. Ia tidak tahu kapan terakhir kali diperlakukan semanis ini. Ia sudah lupa. Dan setelah Jung Kook melakukannya lagi, rasanya dadanya enggan berhenti berdebar kencang.

***

Panggilan ke dua puluh tujuh namun masih jua terlewat. Sudah kiranya Sa Na berdiri, memutar-mutar ikal rambutnya, berjalan ke sana ke mari, bahkan berbaring namun risau hatinya belum juga surut. Ia hanya memastikan mengapa Jung Kook tidak menjawab panggilan. Itu saja. Ya. Itu saja.

Sudah pukul lima lebih dua puluh tiga menit. Artinya sudah lebih dari setengah jam seharusnya toko bunganya tutup. Namun Sa Na masih enggan. Biasanya Jung Kook datang pukul empat lebih tiga puluh. Membantunya beres-beres lalu menghabiskan waktu pulang bersama. Namun hari ini, kemana pria itu berada?

“Jeon Jung Kook kumohon angkat teleponku,” ia gigiti sendiri bibir merahnya. Sa Na masih mencoba. Pada panggilan ke tiga puluh dua ia menyerah. Mendudukkan diri di sofa, pikirannya terbang entah ke mana.

Bagaimana jika Jung Kook pergi meninggalkannya? Bagaimana jika Jung Kook kembali pada Na Young dan menceraikannya?

Ia meremas rambutnya frustasi. Teriakan keras menggema begitu saja dari bibirnya. Air bening mengalir deras. Otaknya dipenuhi konklusi-konklusi negatif tentang kealphaan Jung Kook. Sa Na takut. Benar-benar takut sekarang.

###

Na Young melepas pelukan dari salah satu teman sekolahnya yang kini menjabat sebagai dokter kandungan. Bibirnya membentuk kurva lengkung, mengucap terima kasih atas waktu dan saran yang diberikan Ahn Hyo Rin mengenai kandungannya. Ya. Hari ini ia sudah bisa memulai pemeriksaan rutin-yang sejujurnya sudah telat tiga bulan-setelah pagi tadi amplop cokelat yang ia berikan pada Jung Kook sudah tergeletak di meja rias.

Pria itu menandatanganinya.

Tak dapat dicegah senyum manis merekah dari bibir Na Young. Sejak pagi tadi hingga siang ini moodnya benar-benar baik. Meski Sa Na melihatnya dengan delikan tajam, Na Young tetap bersiul-siul ceria. Menyenandung lagu favorit untuk calon putra yang ada dalam kandungan.

Menutup pintu setelah berpamit pada Hyo Rin, Na Young segera memulai langkah. Ia sudah memilah-milah rencana menghabiskan akhir pekan dengan belanja bulanan dan membeli beberapa potong baju hamil. Sorenya ia akan memasak sesuatu spesial untuk Jung Kook. Sangat spesial mungkin mengingat Na Young benar-benar bahagia. Ia menghela napas lega.

Meski pemeriksaan kali ini Na Young tetap melakukannya seorang diri ia sudah bahagia. Setidaknya bukan hanya dirinya saja yang menginginkan sang bayi. Tapi Jung Kook-sang ayah-juga menginginkannya.

Na Young membenarkan letak tas tangan. Melangkah menyetop taksi yang lewat, ia mengucapkan tujuannya pergi. Berlalu dengan lekuk manis menghias bibir tipisnya.

Butuh sekitar dua puluh tujuh menit menempuh perjalanan ke pusat perbelanjaan yang Na Young tuju. Sejujurnya ada pusat perbelanjaan ‘tak jauh dari rumah sakit, hanya saja Na Young memang sedang ingin berbelanja cukup jauh. Keinginan si calon buah hati, yakinnya dalam hati jika saja nanti Jung Kook tiba-tiba menanyakan keberadaannya. Wanita surai hitam itu terkikik geli dekan pikirannya sendiri.

Berbelok di mesin ATM depan pusat perbelanjaan, Na Young mengambil sedikit uang cash lebih. Takut jika nanti naluri wanitanya kambuh melihat barang-barang bagus. Matanya membulat, tidak percaya dengan saldo terakhir rekening yang terpampang jelas di layar. Sejak kapan Na Young memiliki tabungan sebanyak ini?

Bibirnya kembali berkedut memasang senyum. Pikirannya langsung berpusat pada Jung Kook. Ini sungguh jauh dari ekspektasi Na Young. Biasanya Jung Kook memang tidak memanjakan dirinya dengan uang bulanan seperti istri-istri lain. Komitmen yang mereka pegang teguhlah yang mendasari hal itu berlangsung.

Na Young sudah berkecukupan dengan gaji mengajar yang ia terima. Belum lagi gaji freelance-nya di bagian editor salah satu penerbit. Itu sudah lebih dari cukup mengatasi segala kebutuhan yang Na Young siapkan untuknya dan keluarga. Namun hari ini. Jung Kook memberikan nafkah pertamanya. Tidak bisa dicegah senyum bahkan tidak pernah luntur dari wajah Na Young.

###

“Kuharap kau punya alasan yang bagus karena keterlambatanmu kemarin, Jeon Jung Kook!” Sa Na mendelik ke arah Jung Kook yang baru saja selesai mandi. Menyeka rambut basah dengan handuk, Jung Kook sungguh ‘tak berniat menghadapi keluhan istri pertamanya sekarang.

Jung Kook masih diam saat Sa Na berjalan tergesa ke arahnya, merebut handuk dari genggaman, membuang benda itu kasar. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakannya menjemput Na Young benar. Bukan kesalahan besar seperti apa yang Sa Na cekoki padanya.

“Jeon Jung Kook jawab aku!” Sa Na masih berteriak. Urat-urat kemarahan jelas tercetak di leher jenjangnya. Wanita itu kalap memandang Jung Kook yang masih mematung seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengerang, mendorong seluruh peralatan kosmetik di meja riasnya hingga hancur. Benda-benda berbahan kaca itu memburu menabrak lantai berserakan meninggalkan bunyi nyaring.

Jung Kook menatap arah lain tak memperdulikan amarah Sa Na yang memuncak. Detik berikutnya tangis pilu terdengar dari bibir wanita yang kini sudah memerosotkan tubuhnya ke lantai. Tangan putihnya bergetar hebat. Masih dengan kesadaran penuh wanita itu meraih pecahan kaca terdekat, mengarahkan tepat di urat nadinya.

“Bunuh saja aku Jung Kook! Bunuh! Kau sudah menghancurkan semuanya dan sekarang… kau melakukannya lagi! Kau penjahat. Pembunuh!” linangan air mata masih menguasai Sa Na saat ia menekan pecahan kaca itu di nadinya. Darah segar mengalir, ia kembali terisak dalam. Bibirnya meraung getir. “Kau tahu aku bisa lebih nekat dari ini.”

Mengetahui Sa Na tidak main-main dengan ancamannya, Jung Kook membuang pecahan kaca itu. Memeluk tubuh ringkih yang mengingatkannya pada peristiwa yang terus menghantui tidurnya. Hati pria tampan Jeon sesak. Ia tidak tahu lagi apakah perbuatannya salah atau benar.

“Maafkan aku. Maaf,” ujar Jung Kook serak. Diam-diam air mata jatuh membasahi pipi. Pikirannya tidak lagi koheren. Membenarkan tindakannya sedikit memperhatikan Na Young atau justru menyalahkannya ia tidak memiliki pegangan apa pun sekarang.

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *ngilangbarengSuga wkwk

Advertisements

8 thoughts on “Breathe [BTS Version] Chapter 3

  1. Baru nemu ini ff dan sukaaaaa bangeeeett….. Itu si sana bisa pergi aja gak sih? Ngeselin banget. Sampe nangis aku bacanya lohh.. Next chap nya ditunggu ^^

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s