What If [BTS Ver] Chapter 6

What If [BTS Ver] Chapter 6

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Romance, Fluff, Angst, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab/? *loh

Copyright2016 Nadhea Rain

Chapter 6
A Prince’s True Self

~~~

Story begin..

Aku meminta Yoon Gi memberiku waktu lima belas menit untuk memperbaiki penampilan di kamar mandi universitas. Ia tidak menyarankan kami kembali ke apartment sekadar berganti pakaian jadi kurasa aku akan baik-baik saja dengan gaun polkadot biruku. Aku mempengaruhi otakku sendiri agar ‘tak melepaskan hormon ketakutan berlebih. Ini hanya pesta perayaan keberhasilan. Aku mematut diriku sekali lagi sebelum beranjak menemui Yoon Gi.

“Kau sudah siap?” tanyanya menyambut kedatanganku. Aku mengangguk dan tiba-tiba saja ia sudah menautkan jemari kami. Jantungku berdesir hebat saat aku menatap iris hitamnya lima detik. “Kurasa kita perlu membiasakan diri. Kita harus berakting sebaik mungkin.”

Aku kembali mengangguk, mencoba mengabaikan fakta kami-sedang-bergandeng-tangan dengan menatap pemandangan malam Seoul. Sejujurnya ini tidak mudah karena kinerja jantungku belum juga menampakkan tanda-tanda akan normal.

Kami tiba di ballroom hotel sepuluh menit kemudian. Aku tersenyum canggung saat lengannya menggamit lenganku. Keadaan ini benar-benar membuatku gugup, aku ingin melempar diriku ke mana saja sekarang. Ini bukan perkara mudah dan aku harus tetap fokus. Priaku menunduk membisikkan ‘persiapkan aktingmu dengan baik’ dan dengan satu tarikan napas serta tiga usapan di lenganku aku sudah kembali percaya diri.

Kami melangkah beriringan, menyapa tamu-tamu yang sudah hadir, berbincang ringan maupun sekadar berjabat tangan. Yoon Gi bahkan tak segan mengenalkanku sebagai istrinya dan keuntungannya mereka akan mencekal kami lebih lama untuk menceritakan kisah asmara kami. Aku rasa Yoon Gi benar-benar tertutup dengan kehidupan percintaannya jadi wajar saja jika banyak yang bertanya sejak kapan kami berpasangan.

Berpindah dari satu kolega ke kolega lain, sejujurnya aku terganggu dengan tatapan gadis-gadis muda juga wanita dengan gincu semerah darah yang terasa menguliti punggungku. Aku mendesah. Mungkin mereka bagian dari penggemar setia priaku. Kami kembali berjalan menyapa kolega yang tersisa.

Satu jam berlalu dan kakiku sudah seperti jelly. Sial. Aku butuh istirahat tapi kolega Yoon Gi masih terus berdatangan. Aku mendengus. Sadar gerakan kakiku lebih lambat-cenderung diseret-priaku memalingkan wajah, menatapku intens dengan dua manik hitam jelaganya.

“Kita istirahat,” ia memberikan titah mutlak. Menarik diriku menuju pintu yang menghubungkan langsung dengan balkon. Aku mengangguk diam-diam berterimakasih. Ia benar-benar tahu apa yang sedang kupikirkan.

Yoon Gi membawaku duduk bersama di sebelah kiri balkon. Ada satu meja dan kursi panjang yang kurasa khusus disediakan untuk para tamu yang kelelahan. Ia mengambil dua lemon tea dari pelayan yang kebetulan melewati kami, menyerahkan salah satunya untukku. Butuh sekali teguk untuk menandaskan setengah dari gelas panjang itu. Oh sial. Bahkan aku terlihat seperti kekurangan pasokan air.

Memandang bintang yang nampak begitu memesona jika dilihat dari sini, kami terlibat obrolan ringan. Tidak sampai aku menjawab pertanyaan tentang bagaimana sekolah adik lelakiku seseorang menginterupsi kami. Mengatakan bahwa Yoon Gi sudah ditunggu Professor Torimaru dari Chuo School of Pharmacy di dalam. Aku mengangguk saat ia beranjak dan menyuruhku tetap tinggal selagi ia berbincang-bincang.

Pandanganku kembali menumpu pada langit. Gugus-gugus bintang seolah menghipnotisku untuk memandanginya lebih lama. Lalu ingatanku berputar begitu saja. Hotel ini, Kim Seok Jin. Seharusnya kami mengadakan pesta pasca pernikahan di sini tapi …. Aku menghela napas mengusir segala ingatan tentang pria pecundang itu.

“Nyonya Min?”

Aku menegang. Segera kubalikkan tubuh melihat siapa yang dipanggil nyonya dengan marga sama seperti marga Yoon Gi. Aku berdiri tersenyum kaku mendapati Profesor Ki Hoon berdiri tak jauh di hadapanku.

“Aku sempat meragukanmu sebagai istri Yoon Gi. Kau ‘tak menyahut ketika kupanggil dengan marganya beberapa kali,” Profesor Ki Hoon mendekat, menduduki ujung kursi panjang sebelah kanan, persis menghadap pemandangan kota serta langit malam.

Aku menunduk. Menggigit kecil bibirku berulang-ulang. Sial. Kenapa aku tidak mempertajam pendengaranku tadi? “Ma-maaf. Aku belum terbiasa menggunakan marga Yoon Gi,” akuku membuang napas. Meraih gelas lemon tea, kembali meminumnya. “Tidak masalah. Lagi pula aku hanya bercanda.” Profesor Ki Hoon tertawa lebar, mungkin menertawai ekspresi berlebihan yang kupasang. Aku ikut tertawa kecil. Mungkin aku harus belajar sedikit trik humor pada Ho Seok.

“Jadi, sejak kapan kalian berkencan?” Profesor mencecar pertanyaan setelah tawanya mereda. Gawat. Aku dan Yoon Gi belum pernah membicarakan ini sebelumnya. Topik ini memang merangkak naik di kalangan koleganya tadi tapi priaku memilih tersenyum ‘tak menjawab apapun. Kuteguk saliva dengan susah payah.

“Enam bulan,” jawabku memilin ujung bolero. Memberi senyum simpul yang dibalas anggukan Profesor Ki Hoon.

Di kepalaku sedang memutar skenario buruk, cecar tanya berlebih, tak bisa menjawab, Profesor tahu aku bukan istri sungguhan Yoon Gi, pesta kacau dan …

“Aa, enam bulan. Dia terlalu tertutup dengan masalah percintaannya, meski dengan ayah angkatnya sendiri.” Profesor Ki Hoon tertawa kecil. Dahiku mengernyit seolah tertulis pesan siapa-yang-dimaksud-ayah-angkat lalu profesor kembali bersua, “Aku mengangkatnya sebagai putraku.”

… apa ini berarti aku lolos dari interogasi hubungan?

Aku mengangguk mengerti. Wajar saja siang tadi profesor begitu antusias memberi selamat. Ia menceritakan segala tentang Yoon Gi. Mulai dari kedatangan Yoon Gi ke Korea sejak umur sembilan belas tahun, bagaimana kerja keras serta ketekunan Yoon Gi dalam riset hingga profesor mengangkatnya sebagai seorang putra, sampai masalah terpenting seperti bagaimana teman-teman Yoon Gi selalu menaruh iri padanya. Priaku termasuk dalam jajaran the most wanted researcher karena kerja kerasnya dan ya, orang sukses selalu dikelilingi haters ‘kan?

Sejujurnya aku terkejut tapi aku menutupinya dengan mengangguk paham beberapa kali. Tersirat kekaguman luar biasa pada Yoon Gi dari dasar hatiku. Ia memang pangeran kerajaan tapi tidak pernah setengah-setengah dalam pekerjaan. Aku benar-benar beruntung jika menjadi istri sungguhannya.

“Aku bersyukur Yoon Gi memiliki istri sepertimu. Kau tahu sendiri pekerjaan menuntutnya ‘tak selalu berada di rumah dan aku yakin kau adalah salah satu wanita yang sudah benar-benar paham seluk beluk putraku,” Profesor Ki Hoon berujar menepuk-nepuk pundakku. Membuatku mau tidak mau tersenyum menampilkan deretan gigi. “Tetap berikan dia dukungan penuh. Meski Yoon Gi tidak pandai berekspresi tapi aku yakin ia sangat membutuhkan dukungan darimu, Ye Rin-ah.” Sekali lagi aku mengangguk memberi senyum cerah. Kurasa dalam hal dukungan, aku memang harus terus mendukungnya.

Perbincangan kami ‘tak berlangsung lama karena sama seperti Yoon Gi, Profesor Ki Hoon juga salah satu personil penting di pesta ini, jadi wajar jika sekarang beliau dicari kolega lain. Sebelum Profesor Ki Hoon kembali ke dalam, aku mengutarakan niat ingin kembali bertemu dan membahas lebih lanjut obrolan kami tentang Yoon Gi. Beliau menghadiahiku senyum manis yang kuartikan sebagai jawaban ‘ya’.

Aku mendesah menatap gelas lemon tea di sisi kiri meja. Sekarang aku benar-benar penasaran riset apa yang sedang Yoon Gi kerjakan. Melalui cerita Profesor Ki Hoon, aku yakin ini bukan riset tentang tanaman obat biasa. Namun aku juga tidak mempunyai hipotesa apapun mengenai masalah ini.

Aku menilik sebentar ponsel sekadar melihat sudah berapa lama Yoon Gi menjamu kolega. Sudah satu jam dan priaku belum juga menampakkan gerak-gerik akan menemuiku secepatnya. Aku menimang keputusanku sebentar, melupakan fakta aku harus menjadi seorang istri teladan lalu kaki-kakiku sudah mengajak beranjak dari balkon.

Pandanganku mengedar, sepenuhnya mencari sosok pria blonde sejuta pesona-priaku tepatnya. Namun nihil, hingga sudut-sudut tertentu aku tak jua menemukan rupa Adonisnya. Aku menghela napas. Pandanganku tertumbuk pada rekan satu lab Yoon Gi yang berjalan sempoyongan ke arahku.

Jari telunjuknya menunjukku sengit dengan seringai tajam melingkupi sudut bibirnya. Dari jarak setengah meter aku bisa mencium bau alkohol pekat, refleks kututup hidung menghalau bau menyengat itu. Ia berteriak, menyuarakan umpatan keras untuk Yoon Gi. Mengatakan bahwa priaku adalah anak emas yang selalu dibanggakan Profesor Ki Hoon. Aku mendengus menahan kepal tanganku yang semakin mengerat.

Lima menit berlalu dan pria itu masih mengumpat. Aku sudah tidak tahan berdiam diri menonton kekonyolan ini begitu saja. Ia harus menyudahi omong kosong itu secepatnya jadi aku berteriak. Menyuarakan protes dengan kepal tangan yang semakin mengeras. Jika ini bukan pesta, aku mungkin sudah melayangkan tinjuku sekeras mungkin.

“Kau tidak tahu apapun tentang Yoon Gi jadi hentikan omongan kosongmu!” Aku memungkasinya dengan sekali makian. Membuat sebagian besar tamu yang hadir menengok ke arah kami. Bertepatan dengan hal itu juga Yoon Gi datang menyelamatkanku. Memberi tatapan datar pada pria di hadapanku, tangannya bergerilya mencari pinggangku. Mendekapku erat seraya berkata kita-pergi-sekarang masih dengan ekspresi datar yang seolah benar-benar paten di wajahnya.

Sepanjang perjalanan aku menunduk, ‘tak berani menatap manik sekelam malam yang ia miliki. Aku salah. Pesta itu adalah pesta untuk Yoon Gi dan dengan bodohnya aku mengacaukan segalanya. Ia pasti menanggung malu karena ulahku tadi. Ugh. Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati.

“Bulan di atas jauh lebih menarik dari wedgesmu.” Aku menengadah kikuk, Yoon Gi menunjuk bulan dengan dagunya, membuatku ikut menatap dewi malam yang kini bersinar terang. Aku menghela napas, “Aku minta maaf.”

Tatapanku sudah kembali bergulir menatap wajah Yoon Gi, tapi tetap belum berani menatap mata hitam yang seakan menyedotku ke dalamnya. “Aku minta maaf telah mengacaukan pesta, seharusnya kau tetap di–”

“Bukan masalah besar,” ia menarik sudut bibirnya, menampilkan senyuman samar. Mengacak-acak rambut mengkilapku dengan tangan besarnya. Aku mendesah lega. Mengawali topik tentang apa saja kecuali pria gila yang hampir jadi alasan perceraianku. Apa? Perceraian? Kenapa aku berpikir terlalu jauh?

Kami terus mengobrol sampai Yoon Gi membuka pintu apartment. Ia menjawab pertanyaan mengenai berapa jumlah pasangan kencan yang ia miliki semasa sekolah selepas menutup pintu. Membuatku terkikik geli karena ia menyebutkan pernah ada seorang guru yang terang-terangan mengajaknya berkencan. Jika aku jadi guru itu aku juga akan melakukan hal yang sama. Priaku memiliki pesona penuh dalam hal ini.

Tawaku tak berlangsung lama karena setelahnya aku dikejutkan oleh Randa yang duduk di lantai ruang tengah apartment. Yoon Gi mengklarifikasi perihal keterlambatan waktu kami pulang saat aku meletakkan tas tangan di meja. Aku mengingat sesuatu tentang Randa siang tadi dan tubuhku langsung menegang. “Apa yang kaulakukan di luar siang tadi?” ujarku menatap Randa serius. Bukannya menjawab ia justru berpamit ingin kembali ke apartmentnya. Sekilas aku melihat wajahnya yang berubah panik. Kurasa dia benar-benar aneh.

Aku dan Yoon Gi memutuskan untuk kembali ke kamar tepat pukul sepuluh lebih delapan menit. Ia menyuruhku membersihkan diri terlebih dahulu dan aku mengangguk. Aku kembali sekitar dua puluh menit kemudian dengan piyama biru panjang serta handuk melilit rambut basahku. Tanpa berujar Yoon Gi langsung masuk kamar mandi sesaat setelah aku mendudukkan diri di depan meja rias.

Aku sudah selesai dengan kesibukanku mengeringkan rambut saat Yoon Gi keluar dari kamar mandi. Ia menarik sleeping bag selagi aku naik ke atas ranjang. Aku melihatnya menata tempat tidur dengan helaan napas kasar.

“Apa kau tidak lelah tidur di sana setiap malam?” Aku berkata jujur dan itu membuatnya cukup kaget. Priaku mendongak menatapku terkejut. Aku melanjutkan perkataan, “Aku bisa berbagi ranjang denganmu.”

Ia menggeleng tegas menolak permintaanku. Pria itu bahkan sudah menenggelamkan tubuhnya pada sleeping bag, berbaring membelakangiku. Aku mendesah sekali lagi. Menyamankan tubuhku di ranjang, sebelah tanganku tergerak mematikan lampu.

“Besok kita pergi ke kebun binatang.” Ulur tanganku belum sampai menekan saklar. Kepalaku memutar mendapati Yoon Gi kembali duduk menatapku. “Aku juga ingin kau membuatkanku bento. Anggap saja besok adalah kencan pertama kita.”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

4 thoughts on “What If [BTS Ver] Chapter 6

  1. Aaaaaaaaaaaaa seneng bgt bisa baca ff favoriteku ini. Maaf ya ka aku baru comentar di chapter ini saking ga sabaranya baca kelanjutan ini ff. Aku suka bgt jalan ceritanya. Yoongi seorang pangeran. Omo daebak sekali hehe gasabar buat baca kelanjutanya oiya ff breath nya jangan lama2 ya okeoke
    Keep writing yah ka. Fighting😊😊😊😊😊😊😊

    Liked by 1 person

    1. Hihi iyah gakpapa kok ^^ ehh? Udah dibaca sampai chapter 6? >< hehe ditunggu yah ^^ ini masih ngetik kok ^^

      Hehe iya Breathe juga masih dalam tahap pengetikan nih ditunggu ya ^^
      Makasih sudah baca dan komentar πŸ˜‰

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s