What If [BTS Ver] Chapter 5

What If [BTS Ver] Chapter 5

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Marriage Life, Fluffy, Romance, Angst, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggungjawab *loh

(C)2016 Nadhea Rain

Visit https://haeseoland.wordpress.com for more story

.
.

Chapter 5
My Husband Wears a Lab Coat

~~~

Story begin..

“Master Yoon Gi, Lady Ye Rin, kalian tidak tidur satu ranjang?”

Mataku membuka sempurna-membulat penuh meski sejujurnya aku belum mencapai tahap kesadaran seratus persen. Kutengok kiri tepat pada pintu dan apa yang kucemaskan benar-benar terjadi; Randa berdiri di sana dengan wajah-super-terkejut yang menurutku benar-benar mengerikan. Aku menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana bisa pria itu ada di sini sepagi ini?

Di kepalaku sudah memutar hipotesis-hipotesis yang pasti terjadi selanjutnya. Randa tidak percaya pernikahan kami, mengadu pada orangtua Yoon Gi, dan oh sial. Ayah ibuku bagaimana? Aku tidak bisa berpikir jernih!

“Siapa yang tidak tidur satu ranjang eh, Randa?” aku kembali tersentak dari lamunanku. Kepalaku otomatis memutar mencari sumber suara, di mana Yoon Gi sudah berdiri menyeka rambut basahnya dengan handuk kering. Bahkan ia sudah repot-repot memakai setelan kemeja putih dan celana kain-siap untuk pergi ke lab mungkin?

Randa menggaruk tengkuknya, membuat rambut belakangnya sedikit bergoyang. Aku menggunakan kesempatan ini untuk membebaskan diri dari selimut tebal nyaman milik Yoon Gi. “Err … Sleeping bag di sana?” ia menunjuk arah sleeping bag yang terlihat seperti seusai dipakai tidur. Aku mendesah pelan memberi kode pada Yoon Gi lewat tatapan mata.

Namun justru ia tak membalas. Setelah menaruh handuk di kursi rias ia menyisir surai blondenya santai-seperti mengatakan bahwa itu-bukan-masalah-serius. “Kau tidak ingat peraturan tidak tertulis di Korea tentang memperlakukan seorang istri yang sedang menstruasi?”

Aku merasa seperti kepiting rebus, panas tiba-tiba datang menghampiri tubuhku padahal seingatku Yoon Gi tak mematikan air conditioner semalam. Bisa kulihat kerutan tercetak di dahi Randa, ia menggeleng singkat masih dalam posisinya berdiri di ambang pintu.

Yoon Gi mendesah pelan, meletakkan sisir biru di dekat tatanan kosmetikku, berbalik menatap Randa. “Jika istrimu tengah menstruasi kau tak boleh tidur satu ranjang dengannya, karena dari buku yang kubaca jika hal itu dilanggar bisa jadi pasangan suami istri tak bisa mengendalikan nafsu. Kau tahu pria normal sepertiku tidak akan menolak jika berurusan dengan hormon kan?”

Demi Laut Busan! Sekarang aku benar-benar panas dan sepertinya rona merah juga menari-nari puas di pipiku. Membuatku mendidih, malu bercampur sebal terkandung jadi satu. Bisakah pria itu memberi alasan yang lebih masuk akal?

**

Hari ini paman memberiku jatah libur, katanya permulaan agar aku tak terkejut dengan shiftku nanti. Jadi aku memutuskan membongkar kardus perabotan yang belum sempat kupindah, mencuci pakaian, dan bersih-bersih rumah. Tepat setelah aku mematikan penyedot debu, Randa kembali dengan teriakan khasnya. Napasnya memburu seperti selesai lomba marathon. Dahiku mengernyit, menampilkan tiga garis lurus. Aku ragu mungkin ada yang salah dengan pria ini?

Ia mengatakan padaku ia baru saja menelepon Yoon Gi tapi tak ada jawaban. Menyuruhku mencoba menghubungi priaku takut-takut Yoon Gi tak mau lagi mengangkat teleponnya. Aku mendesah mencari ponsel kesayanganku di saku celana, men-diall nomor ponselnya masih mengernyit. Setelah nada sambung berakhir hanya ada suara operator yang menyuruhku meninggalkan pesan. Sekali lagi aku mendesah. Dia juga tidak mengangkat teleponku.

Randa menatapku penuh harap, aku menggeleng singkat berharap ia mengerti bahwa aku juga tak bisa menghubunginya. Lalu ide yang benar-benar gila muncul dari kepala abu-abunya; ia menyuruhku menelepon pihak universitas tempat Yoon Gi mengadakan riset. Aku yang gugup segera mengiyakan, berlalu ke kamar mencari-cari nomor telepon Seoul National University.

Pria surai ikal abu-abu itu ada di belakangku ketika resepsionis menjawab panggilan. Aku menggigit bibir cukup ragu mengungkap identitasku sebagai istri sah Min Yoon Gi tapi apa boleh buat. Aku tidak akan mengecewakan pengorbanan Yoon Gi begitu saja.

Kepalaku mengangguk mengerti manakala wanita yang berbicara padaku mengatakan bahwa Yoon Gi tengah benar-benar sibuk dengan risetnya. Ia juga mengatakan mungkin priaku tak akan sempat mengisi perutnya saat jam makan siang nanti-dan aku mendengus. Apa kesehatan lambungnya tidak sepenting riset yang ia kerjakan? Aku berterima kasih dan segera menutup sambungan telepon.

“Kenapa tidak mengantarkan bento saja, Lady Ye Rin?” Randa memutar-mutar boneka lumba-lumba biruku dengan kedua tangannya, tersenyum menatapku sungguh-sungguh. Aku mengangguk. Hari ini aku libur jadi tidak masalah jika aku mengantarkan makanan untuknya kan? Oh astaga. Aku benar-benar merasa jadi seorang istri sungguhan.

Kaki jenjangku segera menapaki pantry masih dengan Randa yang tak luput mengekor. Semenjak aku menyetujui rencananya lima menit lalu, ia tersenyum sumringah dan berkata akan membantuku memasak. Aku berdebat dengan diriku sendiri sebelum menyetujui tawarannya. Ya. Setidaknya ada teman yang bisa kuajak mengobrol selama memasak.

Randa membantuku mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas pada pukul sebelas lebih lima. Ia menceritakan padaku mengenai masa kecil Yoon Gi selagi aku memotong sayuran. Aku terkikik geli mendengar fakta bahwa sejak kecil Yoon Gi membenci brokoli dan tidak ada seorangpun pengasuh yang mampu membujuknya memakan sayuran hijau menyehatkan itu. Menyudahi ceritanya saat aku mendadar telur, ia mendebatku tentang penggunaan bola-bola nasi juga lauk pauk beraneka warna, mengatakan setiap bento harus ada Hors d’oeuvres, membuat dahiku sukses mengernyit bingung. Oh aku melupakan fakta Randa berasal dari negeri yang jauh berbeda denganku.

Aku membasuh tanganku di wastafel, menjelaskan bahwa bento di Korea dan di Jerman berbeda jadi tidak perlu menggunakan Hors d’ouevres-nama makanan yang benar-benar aneh. Randa mengangguk meminta maaf tak mengerti tata cara memasak bento. Kurasa ia mengira setiap negara memiliki cara yang sama.

Pukul setengah dua belas dan semua komponen bentoku sudah masak. Randa menyender di depan kulkas tak mau ikut campur saat aku menata bento. Ia tersenyum, memulai kembali percakapan. “Sebenarnya Yang Mulia Yoon Gi adalah seorang pangeran.” Mataku mengerjap beberapa saat, jantungku bahkan terasa berhenti berdetak. “Seorang pangeran?” Ulangku memastikan fungsi pendengaranku masih cukup baik.

Randa mengangguk seraya tersenyum. “Ya. Dan sama seperti Pangeran Antonnio, kakak laki-laki Yang Mulia, seharusnya Master Yoon Gi menikah dengan putri yang sudah ditentukan oleh ayah dan ibunya.” Ia menatapku khawatir sebelum menengadah ke langit-langit. Oh Tuhan. Jadi aku benar-benar menikah dengan pangeran sungguhan? Sekali lagi aku mendesah. Segera menepis pikiran konyol yang baru saja melintas di otakku, kembali fokus pada ucapan Nathan.

“Yoon Gi adalah suamiku. Ia sudah memilikiku jadi jangan harap ia menerima perjodohan konyol itu,” aku menutup kotak bentoku cukup keras. Kesal. Tentu saja. Memangnya di zaman modern seperti ini masih ada istilah perjodohan? “Kurasa aku harus segera mengantar bento ini pada suamiku.”

**

Aku masih memikirkan ucapan Randa saat kaki-kakiku tiba di pelataran universitas. Jika Yoon Gi adalah seorang pangeran, pantas saja ia terlihat kaku saat aku mengajaknya berbelanja di supermarket. Jadi itulah alasannya, pangeran tidak mungkin berbelanja di supermarket kan?

Sejujurnya aku gugup. Bagaimana tidak, aku benar-benar takut priaku tidak suka perihal kedatanganku. Aku menghela napas menghalau ketakutanku sendiri.

Dua orang dengan jas putih khas laboratorium melewatiku di lobby, aku menghentikan mereka sekadar bertanya di mana letak Naoi Lab berada. Dan aku benar-benar beruntung mereka adalah rekan satu lab Yoon Gi. Aku mengangguk menyetujui ajakan mereka berjalan bersama.

“Di sini.” Salah satu dari dua pria itu membukakan pintu. Dengan ragu kaki-kakiku menapak segera setelah aku menetralkan pernapasan. Dan benar saja, Yoon Gi masih berkutat dengan alat-alat risetnya yang-entah aku tak tahu apa namanya. Aku mengecek arloji di pergelanganku, seharusnya priaku sudah menyantap makan siangnya sekarang.

“Hei, Min. Istrimu datang,” lanjut pria surai hitam mengerling jahil. Yoon Gi berhenti dengan kegiatannya, membenarkan jas lab lalu berjalan mendekati kami. “Ye Rin….” ujarnya lirih, mencoba tersenyum meski aku tahu ia hanya akan mengeluarkan lengkung tipis.

“Aku dengar ada seseorang yang melupakan jadwal makan siangnya hari ini, jadi aku datang membawakan bento. Tidak keberatan menerima tamu ‘kan?” Aku tersenyum mengangkat kotak bento, priaku menggeleng pelan mengacak surai cokelatku. “Ruangan sebelah kosong jika kalian ingin bergabung makan siang bersama kami.” Lagi-lagi pria dengan nametag Mr. Han mengerling jahil. Aku menatap Yoon Gi meminta persetujuan sebelum mengangguk mengiyakan.

Mengambil duduk di kursi di depan komputer yang menyala setelah menyiapkan bento untuk priaku, aku tersenyum kecil. Mereka bertiga menikmati makanannya beralaskan karpet dingin, tak banyak percakapan yang terjadi. Hanya suara kunyahan makanan serta sanjungan dua rekan kerjanya mengenai betapa beruntungnya Yoon Gi memiliki istri sebaik diriku. Aku bersumpah pipiku pasti bersemu merah sekarang.

Salah satu dari dua pria itu bahkan berkata ingin memiliki istri sepertiku, yang pengertian dengan pekerjaan Yoon Gi, membuatkan bento, dan terlihat bahagia meski banyak waktu yang priaku butuhkan berada di lab. Aku hanya mengangguk seraya melekuk senyum. Bukankah sekarang aku terlihat seperti seorang istri sungguhan?

Makan siang berakhir sesaat setelah pria dengan jas putih lain masuk ke ruangan mencari Yoon Gi. Priaku segera mengangguk, berterima kasih padaku dengan mengusap tangan besarnya ke rambutku. Ia mengajakku bergabung ke ruang presentasi, katanya, ia lah yang akan mengisi lecture hari ini. Aku menggeleng pelan, “Aku tidak yakin pakaianku pantas untuk menghadiri sebuah presentasi,” kutilik sejenak kaki-kakiku, wedges hitam tersampir mulus di sana. Dan jangan lupakan dress polkadot biru serta bolero putih yang kupakai. “Kurasa aku salah kostum.”

Dong Hae tertawa kecil, kembali mengusap helaian rambutku dengan punggung tangannya. “Pakaian bukan masalah besar.” ujarnya membuatku mendengus. Priaku benar-benar tahu bagaimana cara membuat rambut mengkilapku kusut. Aku mengangguk menyetujui ajakannya sebelum rambut cantikku berubah mengerikan. Kau tahu aku tak sedang ingin berkutat dengan produk kecantikan rambutku sekarang bukan?

***

Aku tahu Min Yoon Gi memang sudah tampan tapi kau harus benar-benar melihat ini sekarang. Baju kotak-kotak, dasi hitam, jas serta celana senada, dan kacamata yang bertengger di hidung bangirnya. Ia sungguh terlihat sejuta kali lebih memesona. Aku tersenyum dari kursi audience.

Ya. Akhirnya aku menyetujui ajakannya menghadiri presentasi. Setelah memberiku kartu identitas miliknya, ia berlalu mengatakan ingin mengganti pakaian dan memantapkan persiapan presentasinya. Kupikir tidak terlalu buruk jika aku mengambil tempat di belakang, jadi aku segera melesat menduduki bangku paling belakang lajur ketiga dari pintu. Dan aku benar-benar terkejut melihat perubahannya secepat ini.

Ia terlihat begitu berwibawa, luwes, dan percaya diri.

Aku berusaha tidak menopang dagu karena sejujurnya aku sama sekali tak mengerti dengan isi lecture yang ia bawakan. Yoon Gi menjelaskan keseluruhannya menggunakan bahasa Inggris-kurasa ia benar-benar mahir menggunakan jenis bahasa satu ini-yang tak terlalu kumengerti. Tapi saat ia mengucapkan ‘for all people in this world’ aku merasa dadaku menghangat, tersanjung dengan apa yang barusan priaku katakan.

Sebagian audience bertepuk tangan setelah Yoon Gi menyudahi presentasi-aku termasuk dalam sebagian orang itu. Tapi ada juga yang mencemooh, tertawa keras, hingga bertaruh Yoon Gi tak akan sanggup membuat risetnya berhasil. Aku mencengkeram jemariku kuat-kuat, geram-tentu saja. Aku tahu setiap pendapat pasti ada pro dan kontra tapi apa mereka tidak bisa menghargai kerja keras Yoon Gi?

Mereka tidak tahu apapun. Bahkan kurasa mereka tidak tahu bagaimana Yoon Gi memperhatikan tanaman risetnya. Aku mengembuskan napas kasar. “Kau hebat.” Aku memuji Yoon Gi setelah jarak kami cukup dekat. Ia hanya tersenyum kecil, menggenggam jemari tanganku, mengajakku kembali ke lobby.

Meski beberapa orang tak percaya Yoon Gi berhasil dengan risetnya, priaku tetap bersikap tenang. Bahkan aku tak melihat kekecewaan hadir memenuhi manik obsidiannya. Tanpa sadar aku membalas genggam tangannya cukup erat. Membuatnya menoleh sejenak dengan senyum kecil, menambah nilai ketampanan yang ia miliki.

Aku mendengar suara pria dewasa memanggil Yoon Gi ketika kaki kami baru saja menjajaki area lobby. Kami meneleng kiri tepat di mana sumber suara berasal. Dan dugaan kuatku benar, pria paruh baya dengan jas hitam menghampiri kami. “Profesor Ki Hoon,” Yoon Gi menjabat tangan pria paruh baya itu. “Ini Ye Rin, istriku.” tambahnya merangkul pundakku. Aku tersenyum kikuk mengulurkan tangan.

“Ah, jadi ini Ye Rin yang sering kauceritakan?” Aku tertegun. Apa yang Yoon Gi ceritakan pada profesor ini? Apa dia berkata yang tidak-tidak? Namun seolah mengerti keterkejutanku, profesor Ki Hoon kembali berujar, “Seorang istri yang baik dan perhatian terhadap suami. Ah, Yoon Gi benar-benar pandai mencari istri.” Oh Tuhan. Ini belum genap satu hari dan aku sudah dua kali mendapat pujian sebagai istri yang baik, kurasa wajahku benar-benar memanas. Ini memalukan.

Aku membungkuk beberapa kali mengucap terima kasih. Profesor Ki Hoon mengangguk, menyerahkan kertas selebar buku di tangan kananku. Dahiku mengerut menatap hangeul yang sengaja dicetak lebih besar di banding huruf-huruf lain. Undangan pesta?

Yoon Gi mengangguk menanggapi selorohku, berkata itu adalah pesta yang biasanya memang diadakan setelah seseorang berhasil mengisi lecture. Yang berarti pesta ini diadakan menyambut keberhasilan priaku. Aku mendesah, kurasa aku tak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Profesor Ki Hoon menepuk pundak Yoon Gi, berkata sampai jumpa lagi di pesta lalu berlalu meninggalkan kami.

Sepeninggal profesor, Yoon Gi menanyakan padaku di mana tepatnya pesta itu diadakan, jadi aku membolak-balik kertas berwarna hijau itu. Mataku membelalak tak percaya. Bahkan kurasa jantungku seperti tertimpa benda berat. “Hotel Shizuoka,” ujarku lirih.

Hotel yang akan kusewa bersama Seok Jin untuk pesta pernikahan kami dulu.

To Be Continued …

Hors d’ Oeuvre: Appetizer (menggunakan bahan-bahan berharga mahal dan disajikan tanpa saus)
Lecture: Kuliah. (Di sini lecture yg dibawakan Yoon Gi lebih ke hasil riset dia)

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “What If [BTS Ver] Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s