7887

7887

image

Title: 7887
Cast: Kim Seok Jin, Kim Nam Joon, Jeon Jung Kook, Min Yoon Gi
Genre: Action, Thriller, Crime, AU
Author: Nadhea Rain
Cover by: Nadhea Rain Art
Length: Oneshoot
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab *loh

.
.

“Jika kau berhenti dan mengetik angka tujuh delapan delapan tujuh, maka kau akan menemukan sebuah rahasia” – 7887

Copyright 2016 Nadhea Rain

Dedicated to 1st Event Kim Seok Jin Fanfiction

.
.

Story begin..

“Kita berpencar.” Seorang pria dengan jas hitam serta topeng warna hitam berglitter emas bersua lirih-hampir tertelan musik jazz juga dentingan gelas berisi berbagai macam minuman.

Ketiga pria di hadapannya mengangguk bersama. Tak jauh beda dari pria tadi, mereka juga memakai jas hitam serta topeng dengan tiga motif berbeda. Seolah mengode singkat mereka kembali mengangguk kecil. Memisah jadi dua kelompok sesuai perintah mutlak sang pria, membelah kerumunan pesta topeng yang masih berlangsung sesuai kendali.

Kelompok pertama berbelok ke kiri, berjalan mengendap-endap tanpa menimbulkan kecurigaan apapun. Lalu di ujung koridor mereka mendapati sebuah tangga spiral aneh, mungkin arsitekturnya menginginkan tangga ini menjadi pusat perhatian karena penggunaan materi kayu-kontras dengan perabotan modern di sisi-sisi ruangan. Tanpa basa-basi mereka menaikinya, menajamkan pendengaran takut-takut jika petugas keamanan menangkap basah keduanya. Salah satu di antara mereka mendesah pelan manakala pijak terakhir tangga berhasil mereka lewati.

“Lantai tiga.” gumam pria bertopeng hitam glitter emas mengamati sekeliling. Hanya ada dua ruangan dengan banyak perabotan-perabotan mahal terpajang di tiap-tiap sisi. Ia kembali melangkah setelah memberi kode singkat pada rekannya. “Gunakan pendengaranmu, Yoon Gi.” desisnya pelan namun cukup terdengar oleh pria yang mengekor di belakangnya.

Sang rekan kembali mengangguk. Berjalan sigap menajamkan pendengaran sesuai interupsi si pemberi titah.

“Ha ha ha. Tidak akan ada yang bisa membekuk usahaku, Park Chan Yeol. Apa kau tidak tahu kejeniusan keluarga Byun?”

“Kau dengar itu?” pria yang dipanggil Yoon Gi menyuarakan pendapat, menepuk pundak sang ketua. Menunjuk arah ruang sebelah kanan dengan kepalanya.

Pria itu hanya mengangguk. Dengan gerakan cepat dan tanpa menimbulkan suara ia sudah berdiri di samping pintu, bersembunyi di balik guci besar setinggi lehernya.

“Pesanan berlian untuk ketua mafia Rusia sudah ada di tanganku. Orang-orang tidak akan curiga karena aku menyelundupkannya di koper berisi cokelat batangan.” sebuah suara melengking persis suara tadi kembali menggema. Disusul tepukan riuh beberapa orang, mungkin sekitar empat, atau lima, terka pria topeng glitter emas.

“Lalu mengenai kasus pembunuhan pesaingmu itu sendiri bagaimana?” suara lain menggema. Kali ini bukan melengking, melainkan suara bass yang ikut andil.

“Masalah itu tenang saja. Aku membuatnya seolah dia bunuh diri …”

PRANG!

Guci besar tempat persembunyian mereka jatuh dengan Yoon Gi berada di atasnya. Berbunyi nyaring memenuhi lorong sepi itu beberapa saat. “Siapa di sana?”

“Dua … tiga …!” dengan sigap kaki-kaki mereka bergerak menjauh. Menuruni tangga tergesa, mengambil jalan lurus tak memerdulikan teriakan juga derap langkah di belakang keduanya. Yoon Gi mengisyarat belok kiri tepat di mana awal mereka masuk tadi, tapi seolah tak mendengar apapun rekannya terus berlari lurus, membuat Yoon Gi mau tak mau membuntuti langkah-langkah panjang pria itu.

Gesek sepatu di belakang mereka terdengar cukup jauh, sang ketua memperkirakan kemungkinan segera tertangkap masih sekitar enam puluh persen. Tapi sial seribu sial, kini di hadapan mereka hanya tinggal sekat terakhir rumah-kaca-kaca besar menjulang tanpa ada lorong maupun tangga darurat lagi.

“Tch. Sial.” baik Yoon Gi maupun pria topeng hitam mengumpat pelan. Mereka bisa mendengar tawa renyah juga gesek sepatu makin mendekat. “Ha ha ha. Kejutan. Kalian tidak bisa menghindar.” suara melengking itu menggema kembali. Menjadi melodi yang terus memacu degub jantung keduanya.

Pria surai cokelat di samping Yoon Gi mengeluarkan ponsel pintarnya. Mengetikkan sesuatu lalu kembali mengantongi benda pipih itu. Ia melirik Yoon Gi beberapa detik, menyeringai setelah keduanya mengangguk bersama.

Gelak tawa kembali membuncah, semakin dekat hingga keduanya mampu melihat enam pria bersetelan jas menatap tajam dari balik topeng. “Kalian tidak bisa kabur lagi, tamu tak diundang.” salah satu di antara mereka bercicit, menyidekap dua tangan di depan dada.

Sebuah seringai lagi-lagi mengembang di bibir pria di samping Yoon Gi. “Kami tidak akan kabur tuan Byun Baek Hyun.” ujarnya tenang tanpa sedikitpun nada takut tercampur di sana.

Pria yang di panggil Baek Hyun terhenyak beberapa saat sebelum akhirnya kembali menyuarakan tawa. Merasa geli dengan dua pria di hadapannya yang berdiri tenang meski nyatanya mereka telah tersudut. Ia merogoh saku jas, namun seolah tak menuruti pikiran sang tuan rumah, tiba-tiba seluruh lampu padam. Diikuti gemuruh tamu undangan memekik takut. Membuat Baek Hyun dan enam teman di belakangnya mendecih.

Pria bertopeng hitam merasakan saku jasnya bergetar. Segera ia menarik lengan Yoon Gi menyuruhnya menunduk membentuk posisi tiarap sama seperti dirinya. Belum sempat Yoon Gi menyuarakan isi kepalanya, ia bisa mendengar kaca di belakang mereka terpecah-beberapa puing bahkan terlempar tak jauh dari tempatnya. Disusul suara tembakan senjata api juga pekik keras dari enam pria di hadapannya.

Semua terjadi begitu cepat dan suasana jadi semakin tidak terkendali. Keduanya berdiri angkuh, menyeringai puas seraya berkata sayonara sebelum menaiki dua tali tangga yang mengacung di luar gedung.

… Dia adalah agen tujuh yang pertama.

Yoon Gi menyamankan tubuhnya pada sandaran kursi helikopter. Nafasnya masih memburu akibat sport jantung yang baru saja ia lewati. Mungkin kau akan percaya jika wajah salah satu agen kita ini lebih pucat di banding biasanya. Duduk di sampingnya, pria berlesung pipi dengan kacamata hitam menepuk pundaknya singkat. Memberi tatapan kagum yang sejujurnya sama sekali tak Yoon Gi butuhkan di saat-saat seperti ini.

“Kau tahu ini benar-benar di luar dugaanku. Kenapa tidak membawa mobil saja seperti biasa eh?” makinya sedikit berteriak. Sekali lagi ia menyeka peluh dengan punggung tangannya. Detak jantungnya belum juga terkendali.

Pria berlesung pipi hanya mengangguk kecil. Menaruh tangan di belakang kepala sebagai bantal, ia bersua, “Seok Jin-hyung yang memerintah. Yeah kau tahu apa, supaya lebih menantang.”

… Min Yoon Gi, dua puluh tiga tahun. Peretas paling handal juga ahli pembuat alat-alat penyadap, jarang mendapat tugas lapangan.

Yoon Gi menggeleng tak percaya. Meski detak jantungnya sudah tak secepat tadi namun tetap saja ia masih sangsi. Pasalnya bisa dihitung dengan jari jumlah tugasnya turun langsung ke lapangan seperti tadi. Ia menghela nafas, “Aku benar-benar menyesal satu kelompok dengannya tadi, Nam Joon-ah.”

***

Empat buah Macbook masing-masing masih menyala dengan empat pria berjas maroon sibuk mengadu jemari mereka dengan keyboard juga empat printer tak henti mencetak kertas penuh tulisan hangeul. Bahkan detak jam yang sudah meninggalkan angka dua pun tak menyurutkan aktivitas keempatnya. Di sebuah ruangan bernuansa putih padu padan stainless steel, mereka bahkan melupakan fakta bahwa hari sudah menginjak sore.

Salah satu pria surai hitam mencuat ke atas meregangkan otot-otot kepala. Menyeringai tajam setelah kembali fokus pada layar macbook di hadapannya.

… Yang kedua Kim Nam Joon, dua puluh dua tahun. Dijuluki agen delapan yang pertama, pemilik IQ tertinggi maka tidak heran jika ia direkrut sebagai ahli strategi.

Di samping kanan pria surai mencuat-Nam Joon-tadi seorang pria lain mengumpulkan kertas hasil print out, menyusun sesuai nomor urut halaman dengan cekatan.

… Jeon Jung Kook, delapan belas tahun. Agen delapan yang kedua, paling muda dalam team. Sering mendapat tugas lapangan karena ia ahli menggunakan senjata apapun.

Dentang jam berbunyi sebanyak lima belas kali. Menandakan pukul tiga sore waktu setempat telah terjelang. Bersamaan dengan itu keempatnya bangkit, membawa hasil print out masing-masing lalu berjalan tenang ke arah sofa kulit warna putih di ujung lain ruangan.

Menyamankan diri di sofa, mulai mempresentasikan hasil akhir tugas yang mereka kerjakan sedari tadi. Semua berjalan khidmat, saling memperhatikan, mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Pria yang duduk di single sofa sesekali menengadah, membuat helaian cokelat tuanya terhempas ke belakang.

… Dan yang terakhir, Kim Seok Jin, dua puluh empat tahun. Ketua team yang dijuluki agen tujuh kedua. Memiliki semua keahlian yang dimiliki rekan satu teamnya, pria paling berbahaya.

“Jadi kusimpulkan besok Byun Baek Hyun akan melakukan transaksi penjualan berlian di sekitar Pelabuhan Busan pukul delapan malam.” ujar Jung Kook menatap rekan-rekannya satu per satu. Setelah ketiganya mengangguk, sang bungsu team meletakkan kertas print outnya di atas meja.

Seok Jin beralih menatap Yoon Gi dan Nam Joon bergantian. Menyidekap kedua tangan di depan dada. “Apa sudah ada perkembangan baru mengenai alat penyadap kalian?”

“Sejauh ini tidak ada percakapan penting selain tempat persisnya mereka melakukan transaksi.” Yoon Gi membolak-balik kertas print out di tangannya, menyodorkan salah satunya pada Seok Jin.

Nam Joon menyisir rambut mencuatnya, berjalan kembali ke arah ruang kerjanya tadi, mengambil Macbook kesayangannya lalu bergabung dengan ketiganya lagi. Jari-jemarinya dengan lincah menari di atas keyboard, setelah mengetik password dan menekan tombol enter, ia memperlihatkan jendela tampilan Macbook pada ketiganya. “Virus yang kutanam di sistem keamanan mereka juga kamera perusakku bekerja dengan sangat baik. Aku juga sudah mentransfer dokumen-dokumen penting mereka. Semua sudah ada di tangan ayahmu, Seok Jin-hyung.”

Baik Yoon Gi, Jung Kook maupun Seok Jin mengangguk paham. Mereka lantas melanjutkan diskusi bagaimana strategi yang akan mereka gunakan besok.

Di antara detik jam yang terus berputar, keempatnya bahkan tak kenal lelah untuk sekedar mengistirahatkan diri.

***

Pukul satu lebih empat puluh lima menit dini hari namun Seok Jin enggan memejamkan kedua matanya. Pikirannya tengah berkelana, melalang buana melanjutkan strategi tambahan untuk misi solonya besok. Ya. Sebelum mereka berempat melakukan penangkapan, Seok Jin akan lebih dahulu menyisir lokasi dan menyematkan beberapa kawan-kawan kecilnya di sana.

Iris hitamnya menengadah menatap langit-langit, sudah lama semenjak ia pertama kali mendapat misi dari ayahnya. Merekrut teman-teman terbaiknya untuk ikut andil hingga terbentuklah team tujuh delapan delapan tujuh.

Ia sendiri juga tidak tahu mengapa ayahnya memberikan misi-yang ia tahu mereka bergerak untuk mengamankan negara.

Mereka bukan bagian dari organisasi seperti FBI, CIA atau bahkan polisi. Bebas tanpa ikatan apapun itulah mereka. Dan yang paling penting dari itu, mereka hanya bertugas jika ada misi dari Perdana Menteri Korea Selatan-ayah Seok Jin. Seperti kali ini, menangkap Byun Baek Hyun, ketua mafia yang merupakan salah satu dari sepuluh pebisnis paling sukses di Korea Selatan.

Seok Jin menyeringai, tugas pamungkasnya besok pasti akan sangat berkesan.

###

Yoon Gi serta Jung Kook berjalan santai, keduanya memakai pakaian biasa-kemeja kotak-kotak merah hitam serta kaos hitam di dalamnya juga celana jeans senada. Riak air laut yang menabrak karang jadi latar langkah-langkah mereka. Pukul tujuh lewat dua puluh tujuh menit, masih ada waktu sekitar stengah jam sebelum transaksi gelap di laksanakan.

Pelabuhan Busan malam hari terasa sangat menawan. Lampu-lampu menyala serempak, kontainer-kontainer antri keluar masuk, dan aktivitas petugas pelabuhan pun belum menunjukkan tanda-tanda akan lengang. Beruntunglah Seok Jin sudah memberi arahan tepatnya mereka melancarkan aksi.

Berbelok ke kanan sekitar dua kilometer dari pusat pemeriksaan kontainer, mereka masih terus melenggang. Menajamkan indera pengelihatan juga indera pendengaran. Di masing-masing telinga kiri mereka terselip microphone wireless yang akan mereka gunakan berkomunikasi dengan dua anggota lain. Keempatnya lagi-lagi berpencar menjadi dua team. Satu team masuk dari barat serta team lain dari arah sebaliknya.

Jung Kook menyenggol lengan Yoon Gi pelan, mengode dengan kepalanya menunjuk tempat tak jauh dari tempat mereka. “Salah satu anak buah Byun Baek Hyun.” ujarnya merogoh saku celana, mengeluarkan pistol perak kesayangannya, mengisyarat Yoon Gi bersembunyi di balik bak kontainer.

Dengan sekali tarikan pelatuk, satu peluru berhasil melumpuhkan musuh. Mereka kembali berjalan tenang tanpa menimbulkan kecurigaan siapapun.

“Ares, Eros, kalian mendengarku?” microphone wireless di telinga mereka berbunyi. Keduanya saling pandang, tiga garis lurus tercetak di dahi keduanya. Ares? Eros? Sejak kapan nama samaran mereka jadi seaneh itu?

“Dengar, baru saja aku mendapat kabar bahwa transaksi akan segera di laksanakan. Aku dan Eo sudah berada di radius seratus meter dari TKP. Bersiap-siaplah!”

“Roger!” mereka berujar pelan hampir bersamaan. Kembali berjalan tenang, Yoon Gi ikut mengacungkan revolver miliknya.

Di lain tempat Seok Jin membenahi letak topi hitamnya. Di tangan kanannya tersemat Dragunov berpeluru emas yang siap ia tembakkan kapan saja. Mengambil kuda-kuda, ia berbicara sebentar melalui microphone wirelessnya, kemudian bunyi senjata api telah berdengung bersahut-sahutan.

DOR DOR DOR!

Ia berlari dan menembak membabi buta, jumlah pengawal yang cukup banyak menjadi targetnya kali ini. Asap gelap mengepul di langit, api yang membakar bak kontainer bekas serta darah bercipratan di mana-mana.

“Serahkan padaku, Pahn.” Nam Joon kembali menembakkan pistol peraknya ketika salah satu pengawal Baek Hyun hendak mendekat.

Seok Jin mengangguk, kembali berlari menggenggam erat pistol. Tak jauh darinya ia bisa melihat Baek Hyun serta pria kulit hitam hendak melarikan diri. Ia mengacungkan Dragunovnya, menembak sebanyak dua kali, kaki terayun sebagai incaran. Dua pria di hadapannya benar-benar ambruk. Jatuh dengan darah yang berasal dari kaki kiri yang menghasilkan lubang.

Tak sampai di situ, Seok Jin kembali mendekat, menumpu lututnya di punggung pria berjas hitam itu. Dengan cekatan ia mengambil borgol di balik saku jaketnya, mengaitkannya pada dua orang berbeda warna kulit di hadapannya.

Ia menarik paksa rambut cokelat yang sudah terkapar tak berdaya. Menyuruh sang pemilik surai menatap iris hitamnya. “Akulah orang pertama yang berhasil membekukmu, Byun Baek Hyun!” Seok Jin berujar dingin disertai seringai melebar di bibir penuhnya. Tak lama berselang sirine mobil polisi memekak-mengepung tempat mereka.

Ia menendang dua pria itu beberapa kali, mengajak bangkit meski darah masih mengucur di kaki-kaki mereka. Seorang polisi membungkuk hormat di depan Seok Jin, ia juga bisa melihat tiga rekannya meringkus antek-antek Baek Hyun.

“Bawa mereka ke penjara.” Seok Jin lagi-lagi berujar dengan nada dingin. Menyerahkan dua pria yang telah ia lumpuhkan pada polisi di hadapannya.

Sang polisi mengangguk, segera memiting lengan keduanya kuat-kuat. “Terima kasih, tuan muda Kim.”

“Tunggu.” Baek Hyun meringis akibat perih menjalar dari kaki kiri juga pitingan keras pada lengannya. Seok Jin yang semula hendak berbalik menghentikan langkah. Menatap pria yang berhasil dilumpuhkannya dengan pandangan tak mengerti. “Bolehkah aku tahu siapa kau?”

“Salah satu anggota keluarga Perdana Menteri Kim, Kim Seok Jin.” Seok Jin menyidekap dua tangan di depan dada, tersenyum kecil manakala Baek Hyun terperanjat beberapa saat.

**

Sebuah Flat Smart TV F8000 Series 8 lima puluh lima inch menampilkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam. Sementara di depan smart TV itu sendiri Seok Jin tengah melaporkan hasil misi yang semalam berhasil teamnya selesaikan.

“Bagus. Setelah ini ambil jatah liburmu selama dua hari. Karena misi besar akan menantimu lusa.” pria itu bersua penuh wibawa. Tanpa salam apapun layar flat TV itu sudah menghitam-tepatnya dimatikan sepihak oleh ayahanda tercinta. Seok Jin menggeleng maklum.

.
.
.

“Jika kau berhenti dan mengetik angka tujuh delapan delapan tujuh, maka kau akan menemukan sebuah rahasia.”

-FIN-

A/N: KYAAA FF APA INII SUMPAH GAJE DAN OH MY! ACTION THRILLERNYA YAKIN GAGAL BANGET.

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “7887

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s