Gone

Gone

image

Title: [Songfict] Gone
Cast: Lee Dong Hae, Song Min Seo
Genre: Angst, Hurt/Comfort, AU
Cover by: Nadhea Rain Art
Disclaimer: Another sequel of September & Anemone. This fanfiction is mine. Dilarang keras mengopi sebagian/keseluruhan cerita.
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai kenyataan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab *loh

(C)2016 Nadhea Rain

visit -> https://haeseoland.wordpress.com/ for more story

Recomended Song -> ColaFloat – Cinta Yang Telah Pergi

~~~

Story begin..

Dia masih di sana, terduduk menung menatap waktu berjalan dari balik jendela. Dia masih setia, bernafas meski sesak-di antara kepulan asap yang timbul dari kopi di depan hidungnya. Dia masih sama, mengetuk-ngetuk jemari di atas kayu bulat tempat tumpuan sebelah tangannya. Dia bahkan masih sama, meski detik berganti menit, kemudian beralih jadi jam, lalu hari berlalu tanpa pernah bisa ia hentikan.

Dan dia juga masih benar-benar ingat hari ini sudah lebih dari tiga bulan sejak bibit bunga dan surat beramplop biru itu ia terima. Sekali lagi ia menghela nafas.

Tangan besarnya merogoh-rogoh saku jas, mencari di antara pulpen, bungkus permen bekas juga penjepit kertas. Butuh beberapa detik untuk menemukan kertas biru yang mulai usang karena terlalu sering dibuka dan dilipat. Memancang senyum tulus, teringat bayang lekuk manis juga surai hitam berkibar dimainkan bayu.

Pancar jelaganya tersirat rindu. Rindu mendalam yang bahkan ia sendiri tak tahu obatnya. Ia menyeruput lagi kopi hitam rendah gula yang telah ia anggurkan.

-Perasaan yang hilang kini kembali bersemi
Semua kembali kurasakan saat kutatap dirinya
Seseorang yang selama ini kulupakan
Kini, dan tak dapat kuhindari-

Giginya bergemelatuk jelas. Bereaksi terhadap dinginnya suhu udara yang turun mungkin sampai negatif sekian derajat celcius. Dan ia masih betah menatap sayu beranda dengan kemeja kotak-kotak hijau hitam dan celana jeans tanpa tadang aling-aling coat maupun mantel berbulu.

Hari ini, untuk kesekian kali ia tergerak menilik kembali rumah saksi bisu hubungan gelap mereka.

Namun ujung-ujungnya masih sama. Tak ada jejak diri sang wanita terkasih. Tak jua ada merdu suara yang sejatinya ia nantikan siang dan malam. Tak kunjung ada. Atau-

-mungkinkah ia telah dilupakan? Ia sendiri tidak tahu. Juga tak mencoba mencari tahu. Bahkan rimba sang puja pun ia juga tak tahu. Bibirnya meniup ujung-ujung jemari yang terasa membeku.

Sebeku hati dan perasaannya.

-Waktu yang telah terbuang tak mampu merubah semua
Rasa cinta yang kurasakan, yang kekal abadi selamanya
Tapi itu hanya ilusi di hati
Aku tak bisa memilikimu-

Malam ini ia sedikit sangsi. Pasien membludak serta beberapa kali operasi tak juga menyurutkan ingatan tentang wanitanya. Bahkan siluet itu terasa jelas di pelupuk mata. Tak mau hilang, bagai terpatri seribu ember lem perekat.

Ia merobek lagi kertas clipboard kasar. Mematikan pager, melemparnya asal ke saku jas. Persetan. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.

Mencoba tenang, ia kembali menyusuri koridor setelah dokter lain mendatangi ruang dikte. Mencoba tak terlihat kacau seperti hatinya yang terasa bagai diremukkan. Dihunus ribuan benda tajam-membuatnya sesak. Mencoba tak peduli meski sejujurnya ia tak pernah bisa.

Nyatanya ia masih tetap menunggu. Masih tetap menanti bagai pria pecundang yang mengemis cinta. Tapi toh ia tak peduli.

Ia hanya ingin wanitanya kembali-menilik setidaknya berapa menit saja-sebagai penawar racun bernama rindu yang kini menggerogoti seluruh sistem tubuhnya.

-Aku mencintaimu hanya sebatas mimpi
Dan terlukiskan sentuhan di hati
Akankah ada cinta yang tersisa untukku yang mengungkapkan segala yang kurasa-

Dinginnya malam serta rengkuh tubuh ringkih tak juga mampu meninabobokan dirinya. Meski nyata tubuhnya bergelung selimut hingga batas dada yang sesungguhnya mampu menghalau air conditioner masuk. Meski lullaby favorit pengantar tidur telah disenandung berulang kali-hingga sang penyenandung terlelap, dua jelaga itu tetap terbuka.

Tak ada pergerakan namun hatinya tetap berkemelut. Menyuarakan satu nama meski bibirnya tetap diam. Merutuki keputusan paling fatal yang menyebabkan dirinya hancur seperti ini.

Harusnya oh harusnya. Harusnya biarkan saja hubungannya dulu berjalan membosankan. Harusnya ia tak menutup telepon manakala wanitanya mencoba tetap berkomunikasi meski ia mengumandang pisah. Harusnya ia membalas pesan bukan justru menghapus setelah membacanya.

Harusnya ia yang memberi lamaran pertama, duduk menumpu satu lutut menyodorkan beludru biru gelap berisi cincin permata. Harusnya ia yang berjanji di hadapan pendeta, menerima ulur tangan calon ayah mertuanya lalu beriringan menuju altar. Harusnya ia yang mendapat ciuman romantis disaksikan seluruh tamu undangan yang menggumam iri.

Harusnya ia. Bukan pria lain. Bukan tuan eksekutif Kim Seok Jin yang bahkan lebih muda tiga tahun darinya. Harusnya. Dan harusnya yang lain.

Kenapa ia baru berpikir untuk mengajukan keberatan pada pendeta setelah lebih dari tiga tahun pernikahan wanitanya berjalan?

Ia merasakan pergerakan kecil tubuh ringkih di dekapannya. Meracau tak jelas entah apa ia juga tak tahu. Tangan besarnya terulur, mengusap perlahan punggung kecil yang sampai saat ini masih belum bisa ia cintai.

“Maafkan aku, Yoo So Yun.” selorohnya selintas. Tapi bibir itu masih terkatup, dan bayang wanitanya masih setia menggelayut.

Pernah suatu ketika Reventonnya berbelok memutar arah. Yang seharusnya berbelok kiri dari Asan Medical Center kali ini sebaliknya. Belok kanan. Tepat di mana arah rumah wanitanya berada. Ia tersenyum getir.

Sedemikian rupa ia menginjak pedal gas, bergumam mengikuti alun Hip Hop dengan lirik vulgar yang mampu menetralkan hatinya. Setidaknya lagu itu mampu menawar perasaan takut meski sejujurnya seujung kuku pun tak ada yang sirna.

Lalu beberapa menit kemudian deru Reventonnya mulai memelan. Tenang, mengendap-endap takut jika mungkin kamera pengintai bisa menangkap sosoknya. Tepat di depan gerbang putih megah ia berhenti lima detik. Tak ada yang menarik kecuali kucuran air, selang yang dipegang tangan putih sang puja, juga gelak tawa saat eksekutif muda memeluk pinggang wanitanya dari belakang.

Ia mengumpat meninju kemudi tak bersalah. Melesat dengan kecepatan penuh, efek sakit yang ia rasa mulai mengacaukan kesehatan hatinya.

Sejak hari itu ia tak pernah lagi mencoba mencari. Meski batinnya berontak ia tak peduli.

-Aku mencintaimu hanya sebatas mimpi dan meninggalkan luka di hatiku
Tak kuasa kumencari cahaya di hatiku
Jika selain cinta yang telah pergi-

Dia masih di sana, di taman usang penuh kenangan yang lagi-lagi ia datangi sendiri. Berjalan pelan mengusap bangku ayunan yang dulu wanitanya favoritkan. Mengayun perlahan, seolah menjaga sang wanita yang tergelak oleh tingkah polahnya. Ia bernafas sesak, menimbulkan kepulan uap putih membumbung di udara.

Bulan ketiga lebih dua puluh hari sudah dan ia masih di sana. Masih dengan rasa yang tertinggal di dasar hatinya. Masih dengan bayang, ingatan juga kenangan yang menjalar amat kuat-mengalahkan eksistensi wanita halal yang selalu menyambut kedatangannya juga mencemaskan kepergiannya.

Ia adalah nahkoda yang kehilangan awak kapal. Adalah perahu yang terombang ambing di tengah luasnya samudera. Juga pelangi yang kehilangan kemolekan warna mejikuhibiniu. Pun pula mobil yang kehilangan pedal gas.

Ia adalah rumah yang kehilangan penghuninya. Juga matahari yang kehilangan kehangatan cahayanya.

Ia, tak lebih dari pria menyedihkan yang setiap detik menyesali keputusan sesaatnya dulu.

Angin membelai pipi-pipi putihnya. Menerbangkan dirinya kembali menginjak sisi rasionalitas. Sisi yang sekonyong-konyong ia benci-menjadi orang lain, berpura bahagia dengan wanita yang sebenarnya tak pernah ia cinta-bukankah itu terlihat benar-benar menyedihkan?

Mengambil duduk di ayunan, bibirnya berlekuk kecut. Ia mendesah kasar sekali lagi. Satu hipotesis tiba-tiba mencuat, bagai mencabut paksa jantungnya yang masih setia bekerja.

Apakah hubungan gelapnya harus kandas seperti ini?

-Kini kutahu kau tak dapat kumiliki
Tak ada ruang lain di hatinya-

Ia tergesa-gesa menjajaki lantai empat setelah pager panggilan darurat membuyarkan konsentrasinya, memijat kepala yang terasa berdenyut-denyut. Clipboard di tangan kanan itu hampir saja terjatuh saat ia tanpa sengaja menabrak pundak perawat cantik yang entah siapa namanya. Menggumam maaf, ia melanjutkan derap kaki yang sempat tertunda.

Moodnya benar-benar buruk pasca libur satu hari yang ia dapat kemarin-yang sejujurnya hanya ia gunakan untuk berlama-lama di ujung kota-rumah singgahnya dengan sang puja. Samar ia mendengar makian pria menguar mendengungkan gema. Suara Park Jung Soo, ia sangat hafal lengking memuakkan itu sering mengganggu indera pendengarannya.

“Kau tidak memberitahuku jika lengannya sudah menghitam.” suara Jung Soo terdengar menyakitkan di telinganya. Oh apa lagi ini?

Saat ia hampir memasuki pintu, satu suara mengejutkannya-lagi. “Lengannya baru mulai berubah warna sekitar lima belas menit lalu dan aku sudah menghubungi anda tiga puluh lima kali.” tangannya terkepal pada genggaman clipboard. Ia mendengus membuka kasar engsel pintu.

Bisa ia lihat Jung Soo menjelaskan ada bakteri yang melepaskan racun di lengan pasien yang menghancurkan dagingnya, dan opsi yang pria itu sarankan sang pasien harus segera di operasi untuk menghilangkan infeksi. Jung Soo mengakhiri diskusi dengan memerintah perawat mengurus tanda tangan suami pasien.

Ia mendengus kasar seraya melipat tangan di dada. Kesal. Hampir Jung Soo menabraknya setelah berbalik. “Apa yang terjadi?”

Ia melanjutkan langkah tak peduli Jung Soo mendelik marah ke arahnya. Memeriksa sendiri keadaan pasien sebelum berpindah ke stasiun menyelesaikan semua kekacauan konyol ini.

“Kau tidak boleh mengabaikan pasienku saat kau sedang piket, Dokter Park!” ucapannya mengandung amarah. Ia bahkan tak peduli berapa banyak perawat menatap dua dokter muda hendak saling bunuh lewat tatapan mata.

“Aku hanya diberitahu bekas lukanya memerah dan terasa sakit. Itu normal setelah melakukan operasi dan aku–” bantah Jung Soo merasa di atas angin. Tak ada satupun raut takut tergambar di sana.

Sebelum Jung Soo kembali menyela, ia berbicara lantang. “Apa mereka tak menyarankanmu datang memeriksa langsung keadaan pasien? Perawat tidak akan memaksamu datang hanya untuk menatap perut kotak-kotakmu, Dokter Park!”

Ia tahu Jung Soo akan melempar clipboard saat kekesalan pria itu memuncak. Tapi setidaknya ia memenangkan perdebatan bukan? Ia kembali berjalan, memasukkan satu tangan ke dalam saku jas.

Mendengus bosan, ia berhenti di hadapan kotak besi yang jarum penunjuknya masih menunjuk angka lima. Menghentak-hentak sepatu ke lantai, sungguh ia membutuhkan kopi di saat seperti ini.

Pintu lift berdenting sekonyong-konyong membuatnya berjengit tak percaya. Di hadapannya-hanya berjarak lima puluh sekian sentimeter-berdiri wanitanya dengan wajah berbinar, juga tangan kekar melingkupi pinggang mungil yang selalu ia rindukan. Tak bisa ia pungkiri beratus-ratus samurai tengah mengoyak ulu hatinya.

Namun ia tetap melangkah masuk, berhimpitan dengan mereka meski remuk seluruh jiwa raga.

-Aku mencintaimu hanya sebatas mimpi
Dan terlukiskan sentuhan di hati
Akankah ada cinta yang tersisa untukku yang mengungkapkan segala yang kurasa-

Dia masih di sana, dengan tangis berderai meluluhlantak ego tinggi yang ia junjung. Membenamkan diri pada selimut bekas aroma tubuh Min Seo-wanitanya. Memukul-mukul sendiri dada yang berdenyut amat menyakitkan.

Dia masih di sana, meski bayang-bayang percakapan seluruh lantai menyeruak masuk ke dalam ingatannya. Mengatakan rumor bahwa wanitanya tengah mengandung putra sang eksekutif muda. Sekali lagi derai air bening membanjiri pipi putih itu. Bibirnya memucat, mengucap lirih satu nama yang tak henti menghantui tidur maupun sadarnya.

Tangan besar itu beringsut menggapai kertas biru kusam, menuntun hingga batas bibir, menciuminya dalam-dalam. Ia masih di sana, tergugu memancang pilu yang telah memporak poranda hatinya.

Dan dia masih di sana, meski sang puja menghendaki perpisahan esok atau lusa. Ia masih akan tetap di sana, menunggu setia tanpa pernah berbalik arah maupun pergi.

Karena sesungguhnya hatinya telah mati. Direnggut pergi belahan jiwa yang kini berlalu bersama kebahagiaan yang terasa menginjak-injak dirinya.

-FIN-

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengDonghae wkwk

A/N: Angst gagal nih saya tahu ini gaje banget >

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s