What If [BTS Ver] Chapter 4

What If [BTS Ver] Chapter 4

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Marriage Life, Fluffy, Romance, Angst, AU
CR Pict: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

(C)2016 Nadhea Rain

Chapter 4
My Rival is a Butler?

~~~

Story begin..

“Siapa kau?” suaraku terdengar cukup menggelegar. Setidaknya mampu membuat dua orang-terutama pria aneh itu-menatapku. Aku benar-benar melihatnya, dari ujung kaos kaki hitam jelek, hingga seragam formal terkesan kaku yang dia kenakan; setelan jas mahal warna abu-abu gelap dengan selembar kain putih menutup area lehernya. Dan aku baru sadar pria itu juga mengenakan sarung tangan putih. Mirip seperti pakaian pelayan-pelayan kerajaan. Ini mengerikan.

“Hei! Harusnya aku yang bertanya siapa kau? Kenapa kau bisa berada di apartment Master Yoon Gi?” rambut ikal abu-abunya ikut bergoyang saat ia menunjuk-nunjuk ke arahku. Yoon Gi mendengus kasar menatap kami bergantian. Ekspresinya benar-benar sulit diungkapkan, entah sebal, bosan dan sedikit.. perhatian.

Yoon Gi melipat tangannya di dada saat kami masih beradu mulut. Aku bisa mendengar ia mendecih kecil. “Jaga bicaramu, Randa Kim! Dia istriku.”

Demi Sa Na dan seluruh persediaan bunga di tokonya! Apa baru saja dia mengakuiku sebagai istrinya? Dan.. Tunggu. Nathan Kim? Aneh sekali.

Pria itu terkejut-aku tahu karena dia ikut berjengit-memandang aku dan Yoon Gi bergantian. Aku tidak suka tatapan itu. Seperti kepalaku discan berulang-ulang memastikan apa kalimat yang dilontarkan Yoon Gi barusan benar adanya. Kulipat kedua tangan di dada.

Ekor matanya masih melihatku saat tatapannya beralih pada Yoon Gi. Apa ini artinya aku harus mulai berakting? “Ba-bagaimana bisa? M-Master?” ujarnya terbata. Apa-apaan? Adakah yang salah dengan pria itu?

“Ya. Kami sudah menikah satu bulan lalu. Namanya Ye Rin, Min Ye Rin.” Yoon Gi menggenggam tanganku erat selagi iris hitamnya terus menatap Nathan. Dia benar-benar pintar berakting, aku bahkan tak mampu membaca kebohongan di raut wajahnya. Aku mendesah lega dalam hati.

Randa membungkuk berulang-ulang menggumam maaf. Ia sungguh menyesal dengan terus membungkuk di hadapanku. Aku tidak tahu seberapa sopan pria itu tapi sikapnya yang berlebihan membuatku risih. Ia memanggilku My Lady-dan karena Randa yang mengucapkannya-aku merasa seperti Putri Negeri Dongeng versi nyata.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai pelayan pribadi Yoon Gi di Jerman. Kepalaku tergerak manggut-manggut mengiyakan. Tadi kupikir ini lelucon memanggil seorang dengan ‘Master’ dan ‘My Lady’, tapi kemudian aku berubah pikiran. Mungkin adat istiadat mereka memang dianjurkan memanggil tuannya dengan sebutan demikian. Aku jadi berpikir seperti apa keluarga Yoon Gi di Jerman?

Aku memberesi wadah-wadah kotor dan mencucinya di wastafel. Meninggalkan mereka yang masih larut dalam obrolan yang tak kumengerti. Pukul sepuluh lewat tujuh menit. Kubasuh tangan setelah meletakkan piring di tatakan.

“Saya akan tinggal di samping apartment anda, Master Yoon Gi.” aku mendengar suara Randa sedikit lebih pelan. Disusul decihan tidak suka yang tentu saja Yoon Gi pelakunya.

“Aku tidak mau kauawasi. Aku sudah punya istri, Randa. Pulanglah ke Jerman dan beri tahu ayah ibu!” aku mengintip mereka dari pintu pantry. Awalnya aku ingin melangkah mendekat, tapi kurasa aku tak perlu ikut campur pembahasan mereka.

Aku mendengar Randa lagi-lagi meminta maaf. Dahiku mengerut tak mengerti. “Maafkan saya, Master Yoon Gi. Tapi ini perintah langsung dari orangtua anda. Saya tidak diizinkan pulang sebelum membawa anda.”

Pulang? Dahiku kembali mengernyit bingung. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Apa maksudnya Yoon Gi akan pulang ke Jerman?

“Merepotkan.” Yoon Gi kembali mendecih. Aku tak bisa melihat ekspresinya karena kepala Randa menghalangiku. Ugh. “Terserah kau. Tapi yang jelas, jangan ganggu kehidupanku dan istriku!”

**

Pagi ini aku bangun lebih awal. Aku melipat selimut saat Yoon Gi masih mendengkur halus dalam tidurnya. Malam tadi ia masih tidur di dalam sleeping bag, tepatnya setelah memastikan Randa tak mengintip kami.

Aku bergegas membersihkan diri dan kembali sekitar tujuh belas menit kemudian. Yoon Gi menatapku sayu sembari mengucek matanya. Ia mengucapkan selamat pagi dengan suara parau, aku yakin ia belum lama membuka mata.

Aku meniti langkah ke pantry pukul lima lebih dua puluh dua menit setelah menyiapkan pakaian Yoon Gi. Suara gemerisik alat-alat dapur beradu menyita perhatianku, aku tergopoh memperpendek jarak ke pantry dengan langkah-langkah panjang. Randa tersenyum menyambutku dengan dua piring penuh nasi goreng di tangannya. Aku yang terkejut hanya melempar senyum kaku.

Apa pelayan pribadi juga masuk seenaknya di apartment tuannya?

Ia mengekor di belakangku saat aku berkata hendak membuatkan kopi untuk Yoon Gi. Memperhatikan seberapa takaran bubuk kopi juga gula yang kugunakan, atau bahkan mengajariku menggunakan mesin pembuat kopi yang sebenarnya sudah kukuasai. Aku membiarkan pelayan pribadi Yoon Gi mengaturku-setidaknya jadi pendengar yang baik bukan masalah besar. Hari ini aku menambahkan satu cangkir kopi hitam lagi untuk Randa, dan tak lupa Melya favorit untukku.

Randa berceloteh mengenai apa saja yang tak kuketahui dari pria yang berstatus suamiku. Mulai dari menu makannya yang diatur ketat sejak kecil, kebiasaan buruknya menggigiti kuku, sampai aib mengenai pertumbuhan tingginya. Aku tertawa kecil, kurasa aku menyukai pria ini.

Pukul setengah delapan pagi aku dan Yoon Gi berangkat bersama meninggalkan apartment. Sebenarnya tidak bisa dikatakan bersama-karena aku pergi bekerja di Shin Ki’s Bar sementara ia pergi ke lab-tapi Yoon Gi hari ini bersikukuh mengantarku. Alasannya tentu saja karena ada Nathan. Aku cukup yakin ia tak mau kebohongannya terungkap dan terjadi kemungkinan terburuk lain. Entahlah.

Kami masih berjalan tenang bersama pejalan kaki lain seperti biasa sampai seorang berbadan cukup besar tiba-tiba menabrak pundakku-membuatku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terhuyung bersama refleks laju jantung yang berubah ritme.

Aku memejamkan mata saat kurasa tangan kekar dengan cepat menarik lenganku. Membuat tubuhku menabrak material dasi hitam juga kemeja putih yang sejujurnya tak bisa menyembunyikan otot-otot dadanya. Jantungku masih berdenyut kencang. Aku menghela nafas.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya setelah kurasa detak jantungku membaik. Kepalaku menengadah mencoba melupakan tangannya yang masih mengungkungku. Mengangguk singkat seraya tersenyum, iris kami bersirobok beberapa saat. Ia yang sadar masih merengkuhku langsung melepas tangannya. Tersenyum kaku lalu kembali berjalan tenang seolah tak terjadi apa-apa. “Terima kasih.” ucapku mengikuti pijakan kakinya.

Aku tak mengerti bagaimana asalnya detak jantungku bisa berdebum seperti ini, bahkan hanya karena perlakuan kecil pria yang berjalan di sampingku. Kepalaku menggeleng kecil. Tidak. Dia hanya berusaha membantuku, tidak ada alasan lebih.

Ia mengusap rambutku sesaat setelah kaki-kaki kami tepat berada di depan Shin Ki’s Bar. Mengucapkan salam seraya tersenyum, lalu berjalan tenang menuju lab yang sudah menunggunya. Aku menghela nafas seraya tersenyum kecil. Bisa-bisanya pria sedingin Yoon Gi melakukan hal romantis seperti itu.

**

Shiftku berjalan tenang sampai saat ini. Tak ada pelanggan yang mengeluh dengan serviceku yang masih terkesan kaku, tak ada teguran dari tuan manajer Jung, dan yang paling penting aku sudah bisa mengoperasikan mesin pembuat kopi tanpa mengganggu tuan Jung. Aku bersyukur bisa memberikan waktu lebih pada tuan manajer untuk istirahat sementara aku mempelajari resep kue-kue kering, bento, gratin dan hidangan lain.

Seorang anak kecil mendatangi counter pukul empat belas, meminta padaku menunjukkan bagaimana caranya meniup gelembung sabun. Ia menyeretku ke mejanya-meja nomor dua-yang hanya berisi gadis kecil manis dengan flower crown juga dress pink melekat di tubuhnya. Ada tart pink dengan lilin berbentuk angka empat di tengah-tengah meja, berkumpul dengan milk shake dan Shin Ki’s Original Cookies. Perayaan ulang tahun kecil.

Aku mengambil botol gelembung sabun dan mengajari pria kecil itu. Sementara adiknya-gadis kecil tadi-tertawa riang melihat banyak gelembung sabun berarak mendekatinya. Lalu kemudian wanita dengan tinggi semampai bergabung di meja kami. Berterimakasih padaku yang telah meladeni permintaan putra sulungnya. Aku mengangguk ikut mengukir senyum.

Hari ini shiftku berakhir pukul enam belas tepat. Saat aku selesai merapikan riasan juga melepas appron, tuan Jung telah bersiap di balik counter dengan wajah yang benar-benar segar. Aku memutuskan memesan Melya sebagai teman favoritku menunggu Yoon Gi. Ya, hari ini ia juga akan menjemputku-dan mungkin hari-hari berikutnya juga demikian.

Aku mengganti saluran televisi Shin Ki’s Bar dengan channel musik pada pukul enam belas empat puluh tujuh, ikut bersenandung kecil ketika lagu favoritku ikut ditampilkan. Yoon Gi datang bersama teman-temannya setelah acara musik berakhir-sekitar pukul tujuh belas lebih tiga puluh tiga menit. Duduk di sampingku dan kembali mengusap lenganku, berusaha membuatku rileks.

Aku baru sadar Randa juga ikut masuk ke bar tak lama setelah mereka, ikut mengelu-elukan klub bola jagoan mereka yang hari ini berlaga. Dan mungkin aku harus menanyakan pada Yoon Gi seberapa dekat teman-temannya dengan Randa karena mereka saling bertegur sapa seperti teman lama. Mungkin saja Randa memang sudah pernah datang di Seoul sebelum ini kan?

Tuan Jung mengantar pesanan meja kami enam belas menit kemudian. Sedikit melirik sudut televisi memperhatikan skor Barcelona vs Manchester City. Aku menjumput kacang kulit, mengupas dan menyuapi Yoon Gi yang fokus dengan tontonannya. Ia sedikit memiringkan kepala untuk menatapku, tersenyum kecil. Aku bersumpah sedari tadi Randa memperhatikan gerak-gerik kami.

Aku berusaha untuk tak menyeringai bangga dengan kembali menatap layar televisi. Kurang dari sepuluh menit kemudian meja kami ramai dengan teriakan kegembiraan karena Barcelona berhasil mencetak angka. Aku bahkan sampai menyumbat telinga karena suara Ho Seok begitu melengking, lepas dari itu aku senang bisa melihat ekspresi baru Yoon Gi.

Ia kembali merapatkan tubuhku ke tubuhnya-aku bisa merasakan debaran jantung Yoon Gi di punggungku. Ia menuntun tangannya melingkari leherku. Mengusap perlahan seraya melirikku dari ekor matanya. Aku tahu ia mencoba membuatku rileks dengan tatapan aneh yang di berikan Randa, maka aku membiarkannya. Dan ini berhasil, setelah lima belas usapan tubuhku benar-benar rileks.

Ji Min berdehem pelan setelah babak pertama usai, menjumput kacang kulit seraya menyeringai kecil. “Kalian tahu..” ia menggantungkan ucapannya. Secara otomatis kami serempak memutar kepala menatap Ji Min.

Ji Min masih mempertahankan seringaiannya. Menatap wajah kami satu per satu dengan ekspresi bahagia. “Alasan kenapa Yoon Gi memilih melangkahi kita untuk menikah muda adalah, karena ia ingin memamerkan kemesraannya pada kita.” ia menunjuk arah tangan Yoon Gi yang masih melingkari leherku. Sial. Wajahku benar-benar mendidih dan kurasa semburat merah memalukan tergambar jelas di sana.

Aku sudah menyiapkan hati jika Yoon Gi segera melepas tangannya, tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia masih mengusap leherku-tanpa meninggalkannya seujung kuku pun. “Kalau begitu menikahlah. Agar kau bisa melakukan hal ini dengan istrimu.” Yoon Gi berujar dengan nada dibuat-buat, mengundang tawa mereka tak terkecuali Ji Min.

**

Kami kembali ke rumah pukul tujuh malam. Jika biasanya hanya kami berdua yang berjalan tenang, maka malam ini ada Randa yang berceloteh di depan kami. Aku menanggapinya dengan senyum cerah, pria itu memiliki banyak pengetahuan di segala bidang. Dan tak pernah canggung memulai obrolan dengan seorang wanita.

Aku tertawa terbahak-bahak saat menaiki lift. Baru saja Yoon Gi menanggapi ucapan Randa dengan lelucon tentang telur dan tanduk yang membuatku hampir terjungkal. Dan karena itu mereka juga ikut tertawa puas hingga penumpang lift sebelumnya menatap kami heran. Setelah pintu besi tertutup, Randa segera menekan angka enam-tempat apartment kami berada.

Aku menghabiskan waktu satu jam membuat Alfredo untuk tiga porsi. Sementara Randa masih melakukan rutinitasnya seperti biasa; menyiram tanaman-tanaman risetnya lalu bergabung dengan Randa bermain catur. Randa berteriak kalah saat aku menuangkan cola ke dalam tiga gelas besar, aku terkikik geli. Itu teriakan kedua setelah ia dengan percaya diri menantang Yoon Gi beradu strategi catur.

Kami menghabiskan malam dengan senda gurau juga tawa renyah. Membuatku yakin bahwa Nathan memang pria baik-jauh dari ekspektasiku sebelumnya. Aku menghela nafas lega.

**

Aku ingat semalam kami berangkat tidur pukul sebelas lebih dua puluh tujuh menit, jadi aku sama sekali tak menyentuh jam wekker karena mataku sudah benar-benar berat.

Aku bahkan lupa apakah Yoon Gi memberiku ucapan selamat tidur atau tidak-yang jelas aku terlalu mengantuk. Maka ketika seseorang membuka pintu kamar dengan cukup kasar aku benar-benar terkejut. Lalu suara yang tak asing menyapa indera pendengaranku. Membuat degub jantungku seakan berhenti sesaat.

“Master Yoon Gi? My Lady? Kalian tidak tidur satu ranjang?”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “What If [BTS Ver] Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s