What If [BTS Ver] Chapter 3

What If [BTS Ver] Chapter 3

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Marriage Life, Fluffy, Angst, Romance, AU
CR Pict: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai kenyataan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Previous Chapter : Prologue | Chapter 1 | Chapter 2

Chapter 3
First Time At A Supermarket

~~~

Story begin..

Tepat pukul lima belas kaki-kakiku sudah menjajaki pintu masuk Yoon Gi’s Bar dengan tanda gemerincing lonceng sama yang kudengar kemarin. Kugerakkan kepalaku ke kanan ke kiri, menormalkan otot-ototku yang terasa menegang.

Aku mendesah sembari menapak langkah. Tuan Jung mengulas senyum terbaiknya dari balik counter bar. Hari ini pengunjung hampir memadati seluruh meja yang ada-hanya tersisa satu putaran meja yang biasanya digunakan Yoon Gi dan teman-temannya. Kuhempaskan bobot tubuhku di kursi depan counter.

“Hari yang melelahkan ya, tuan Jung?” aku tersenyum saat tuan manajer menyodorkan buku menu. Ia mengangguk singkat menyahut pertanyaanku. “Emm. Aku ingin Melya dan Il Gook’s Original Cookies? Apa itu?”

Tuan Jung memamerkan senyum andalannya. Mengelap beberapa gelas yang kurasa baru keluar dari mesin pencuci piring. “Kue terlezat yang hanya kaujumpai di bar ini” jawabnya antusias. “Baiklah. Hanya itu saja?”

Kuanggukkan kepala dengan sesungging senyum. Tuan Jung menghilang di balik sebuah pintu setelah menyatukan jari telunjuk dan jempolnya mengisyarat kata ‘OK’. Aku kembali larut untuk sekedar mengamati vas bunga di salah satu sudut dekat counter.

Jantungku masih belum berdetak normal. Tepatnya masih takut akan apa yang membuat paman memanggilku datang. Bahkan aku dengan repot-repot menyusun beberapa hipotesis, seperti ayah dan ibuku mengetahui kebohonganku, atau juga serangan jantung mendadak ayah. Tidak. Tidak. Kugelengkan kepala kuat-kuat.

Iris cokelat gelapku mengitari seluruh sudut bar. Ada beberapa buah speaker yang tengah mendendangkan lagu-lagu ballad, sebuah grand piano di sudut ruangan, juga ekspresi-ekspresi pelanggan menyibukkan mataku beberapa saat. Bau harum Melya menguar menusuk-nusuk hidungku, juga bau biskuit hangat. Aku tersenyum, berterimakasih pada tuan manajer yang baru saja menyodorkan kedua pesananku.

“Shin Ki berpesan dia akan datang lima menit lagi.” ujar tuan Jung, lagi-lagi aku hanya mengangguk. Kusesap Melyaku selagi hangat, menatap tuan manajer yang sedetik setelah mengucapkan kata-kata tadi langsung mengurus bill meja nomor empat.

Kurilekskan tubuh sejenak. Mengatupkan kelopak, mengagungkan cairan kental Melya yang terasa begitu pas di tenggorokanku. Kurasa aku harus mencuri resep Melya dengan takaran seenak ini. Atau mungkin memboikot tuan Jung agar tak memberikan Melya pada siapapun. Oh sial ini kopi yang benar-benar kufavoritkan.

Tepat lima menit aku mendengar tawa paman membuncah diikuti bunyi lonceng. Entah ia tertawa sendiri atau dengan siapa yang jelas degub jantungku semakin lama semakin bertambah saja kecepatannya. Aku mendesah meminimalisir ketakutan yang mengendap.

Pandanganku mengitar, sudah ada dua meja kosong lagi. Aku mengambil Melya juga sepiring biskuitku ke meja nomor tiga. Mendesah pelan, kuhempas bobot tubuhku. Oh sungguh aku tak menyukai perasaan gundah seperti ini.

Bisa kulihat paman dengan ponsel tertempel di telinganya menyapa singkat tuan Jung, mengitarkan pandang lalu aku berinisiatif mengangkat tangan memberikan sinyal. Ia mengantongi ponselnya tepat setelah duduk tak jauh di sampingku. Jantung bodohku kembali bertalu, bahkan kurasa iramanya jauh lebih cepat di banding sebelumnya.

“Ah. Maafkan keterlambatan pamanmu yang sudah mulai tua ini Ye Rin-ah” paman Shin Ki memutar seratus delapan puluh derajat ekspresinya begitu saja. Wajah menggelikan dengan mata yang sengaja dibelalakkan-mungkin ia ingin terlihat seperti kucing lucu yang meminta makan-tapi justru aku merasa ingin muntah sekarang juga. Mataku memutar jengah sebelum mengangguk mengiyakan. Jika sudah seperti ini aku hanya bisa menuruti ucapan pamanku saja. Kau tentu tak ingin aku tertular ketidakwarasan pria akhir kepala tiga di sampingku kan?

Kuambil satu buah biskuit putih yang dihiasi chocochips dan permen cokelat warna warni, menandaskannya dalam sekali gigit. “Ya ya ya. Menikahlah paman, kau semakin mengerikan jika tak segera menikah” cibirku menjulurkan lidah. Paman hanya memutar matanya jengah. Aku tahu pertanyaan ini terlalu sensitif untuknya.

Aku mendesah sekali lagi. Setidaknya sikap santai paman mampu membuatku tidak setegang tadi-meski nyatanya aku belum juga mampu meredakan detak jantungku.

“Oh ayolah. Aku tahu kau sudah menikah.” paman membenarkan letak topi cowboy usangnya, memberikan tatapan paling menyedihkan yang ia miliki. Tawaku meledak begitu saja. Aku bahkan lupa jika otakku sudah berhenti memproduksi kemungkinan terburuk. Paman mendengus meremas telinga kanannya.

Aku mencoba menormalkan tawaku selagi meminta maaf. “Jadi apa yang membuatmu memanggilku datang paman?” berdehem pelan menetralisir tawa, kusesap Melya yang tinggal setengah cangkir.

Tuan Jung meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan paman, sedikit mengerling ke arahku sebelum berlalu. Paman melipat kaki kanannya ke atas kaki kiri. Menghirup aroma kopi hitam pekat, meminumnya sedikit. “Kau tahu Shin Ki’s Bar semakin ramai. Tak sedikit pengunjung yang mengeluh dengan pelayanan Manajer Jung.”

“Menurutmu apa yang bisa dibanggakan oleh pelayan hampir kepala lima? Belum lagi dengan waktu istirahat. Manajer Jung juga mengeluh kurang istirahat” paman menilik counter bar, menghela nafas. Kuikuti arah pandang paman seksama. Ya. Bisa kulihat tuan Jung mencoba terlelap dalam posisi berdiri menyender rak gelas. “Aku merasa kasihan padanya.”

Kali ini aku mengangguk seraya menghela nafas lega. Oh syukurlah bukan pernikahan pura-puraku yang akan dibahas. “Lalu?” sepertinya aku tertarik dengan topik yang paman lontarkan.

Paman menyenderkan kepalanya di bantalan kursi. Menatapku dari ekor mata, kudengar ia lagi-lagi menghela nafas. “Aku tahu ini tidak sopan mengingat kau adalah putri sulung keluarga Ryu yang terhormat, tapi bisakah kau membantuku kali ini?”

“Jika kau tidak amnesia, kau juga bermarga Ryu, paman Shin Ki.” Aku memutar mata jengah. Sungguh aku benar-benar tidak suka dipandang sebagai nona muda keluarga tersohor. “Jadi kau menginginkanku bekerja di sini?”

***

Yoon Gi mengirim pesan singkat pukul lima sore, tepat setelah aku selesai berdiskusi tentang shift kerjaku di bar ini. Ya, aku menerima tawaran paman. Lagi pula bekerja menjadi pelayan bar tidak buruk juga kan? Aku tersenyum membalas pesannya beberapa saat kemudian.

Seperti biasa ia akan mampir ke bar paman untuk mengisi perut. Tapi kurasa malam ini aku harus mencegahnya makan di luar. Hei, menjadi istri yang baik harus memasak untuk suaminya bukan?

Yoon Gi berkata akan tiba tepat pukul lima lebih tiga puluh menit. Yang berarti masih ada waktu kurang lebih setengah jam untuk melihat cara kerja tuan Jung sekaligus kursus singkat cara menggunakan mesin kopi mewah fasilitas bar yang akan akrab denganku.

Pada pukul lima lebih dua puluh delapan menit aku mencuci wajah di wastafel. Menambahkan sedikit cream wajah juga polesan lipgloss, membenarkan tatanan rambutku yang mulai berantakan. Bersenandung pelan, senyum tak pernah lekang dari bibirku.

Paman berkata jujur tentang rekomendasi-dadakan-Yoon-Gi pagi ini. Dan ini membuatku cukup gila, dengan reaksi senyuman berlebihan yang terus terpatri di wajahku. Ide yang membuatku dipanggil bekerja tak lain adalah usulan Yoon Gi. Aku harus berterimakasih padanya sekali lagi.

Saat kaki jenjangku menapak langkah sekitar sepuluh menit kemudian pria yang sedari tadi mendominasi isi kepalaku sudah tergelak di meja nomor enam. Bersama Tae Hyung, Jung Kook, Ji Min, Ho Seok dan pamanku tentu saja. Aku menghela nafas seraya tersenyum.

Ia memberiku sinyal untuk ikut bergabung bersama mereka. Caranya tersenyum padaku benar-benar menawan. Bukan senyum lebar seperti yang biasa Ho Seok pamerkan, hanya senyum kecil cenderung tipis. Tapi kurasa itulah letak pesona suami pura-puraku.

Aku mengambil duduk tepat di sebelahnya dengan gerutuan kecil Jung Kook. Mereka berbincang mengenai kejuaraan baseball dan aku tak mengerti. Yang bisa kulakukan hanya mengangguk menggeleng kadang terkekeh mendengar lelucon paling konyol tentang pemain baseball juga celana bau yang mereka kenakan.

Yoon Gi melingkarkan lengannya di bahuku saat mereka sibuk berebut kacang kulit. Aku mendongak meneliti ekspresi wajahnya namun lagi-lagi ia masih seperti sebuah buku kosong bagiku. Ia bahkan hanya tertawa ringan saat Ji Min dan Tae Hyung mendapat hasil tangkapan minim. Tak seperti Ho Seok yang bahkan menari girang meraup semua kacang yang ia dapat.

Aku benar-benar melarangnya membeli gratin atau chicken doritang. Awalnya ia mendecih tak suka, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah saat aku berkata aku akan memasak untuknya. Karena itu tepat pukul tujuh kami berpamit pulang. Kurasa ia sudah tak bisa menahan lapar.

Kami berjalan tenang di bawah langit berbintang Seoul. Memasukkan kedua tangan di saku celana, bisa kulihat surai blondenya menari tertiup angin. Kueratkan sendiri hoodie merah yang membungkus tubuh rampingku.

“Kau tidak keberatan menemaniku ke supermarket kan?” aku menengadah menatapnya. Iris cokelatku beradu dengan manik hitam indahnya beberapa saat. Ia mengangguk lalu kembali fokus ke jalan. Benar-benar pria irit kata. Aku terkikik geli dalam hati. Sepertinya julukan itu sangat cocok untuknya.

**

Yoon Gi bersikukuh mengekor di belakangku dengan troli yang ia dorong. Sebenarnya aku sudah terbiasa membawa troliku sendiri tapi entahlah, ia bahkan tak mengijinkanku membawanya. Aku mendengus kesal tapi apa boleh buat. Kurasa ia juga benar-benar tak akan mengijinkanku mengambil alih.

Aku sudah memperkirakan bagaimana reaksi gadis-gadis muda atau para bibi-bibi menatap pria setampan Yoon Gi memasuki supermarket. Dan dugaanku tak meleset. Mereka bahkan dengan senang hati mengomentari penampilan Yoon Gi. Melirik otot-otot kekar yang bahkan tak bisa ia sembunyikan dari balik kaos hitamnya. Kupamerkan sedikit seringai sombong.

Aku mengambil dua buah kaleng susu kental manis dan menaruhnya di atas troli. Mengecek kembali jumlah belanjaanku dengan dahi mengerut. Seingatku aku sudah memasukkan brokoli, lalu ke mana mereka pergi?

Aku menengadah membalas tatapan penuh selidik Yoon Gi. “Kita kembali ke rak fresh food” ucapku tenang membantunya memutar troli. Ia mengangguk lagi, aku memakluminya.

Dahiku kembali mengernyit menatap brokoli-brokoli pilihanku tergeletak begitu saja di stand sawi. Aku tak cukup yakin dengan alibi lupa-menaruhnya-di-troli jadi aku mendesah. Memasukkan kembali brokoli ke dalam troli, kakiku melangkah mendahuluinya. Menatap petunjuk arah yang terletak di atas kepalaku. Menunjuk arah rak pasta gigi berada.

“Kurasa aku perlu membeli stok pasta gigi dan mouth wash” aku memalingkan wajah ke arah Yoon Gi yang kuperkirakan berjarak seratus meter dariku. Ia nampak berjengit memunggungiku. Mataku memicing guna melihat apa yang baru saja ia kerjakan. Namun nihil. Tubuh proporsionalnya menghalangi jarak pandangku.

Menyelipkan surai cokelat di belakang telinga, kuputuskan kembali mendekat ke arahnya. Dahiku mengerut saat Yoon Gi sengaja melebarkan kedua tangannya berpegangan pada sisi-sisi rak. “Apa yang kausembunyikan eh?” aku menatap bergantian troli, Yoon Gi, kembali ke troli lalu ke Yoon Gi lagi.

Brokoliku sudah tidak ada di tempat terakhir aku menggeletakkannya. Aku mendengus. Jadi dialah yang mengembalikan brokoli-brokoliku ke sembarang tempat?

Seringai tipis mencuat dari bibirku, kulipat kedua tangan di dada. “Kembalikan brokoliku ke tempat semula, tuan Min Yoon Gi.” tawaku hampir saja meledak mendengar ucapanku sendiri. Tak biasanya aku berbicara dengan nada rendah beraura dingin seperti ini.

“Tidak mau.” Yoon Gi ikut menyidekapkan tangan. “Aku tidak suka brokoli. Lupakan. Jangan pernah membeli sayuran hijau jelek itu.”

Kuputar mataku jengah saat Yoon Gi memberiku tatapan mematikan. Bibirnya mengerucut lucu. Tak lupa mendecih pelan memiringkan kepalanya. Oh ini gila.

Tanganku tergerak mencapai pinggang, berkacak melebarkan mata sipitku. “Jangan seperti anak kecil Min Yoon Gi! Brokoli baik untuk kesehatanmu!”

“Cih. Aku tetap tidak mau” sunggutnya tak mau kalah. Lagi-lagi aku memutar mata. Oh bisakah pria di hadapanku meruntuhkan egonya sedikit saja?

Yoon Gi mendorong troliku menjauh. Menapak langkah-langkah panjang tak memperdulikan gerutuanku. Aku menggeram frustasi. Masa bodoh dengan sifat egoisnya, aku mengambil kembali brokoliku. Pria yang merepotkan. “Hei Min Yoon Gi! Kembali kau!”

“Suka atau tidak, akan kubuat kau memakannya!” suaraku naik beberapa oktaf. Cukup menggelitik telinganya kurasa. Tapi pria itu justru berjalan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Oh demi Na Young dan koleksi novel Gorenya, Yoon Gi benar-benar menyebalkan!

“Kau tahu, kau harus mulai diet seimbang jika tak mau perutmu membuncit!” Kususul ia setengah berlari. Oh astaga, apa dia seorang atlet sehingga aku tak mampu mengimbangi langkahnya?

###

Pukul delapan lebih tiga puluh dua menit gratin yang kubuat sudah masak. Segera aku mencuci tangan lalu bergegas menemui Yoon Gi. Senyum mengembang di wajahku membayangkan skenario apa yang akan terjadi jika ia tahu aku mencampurkan brokoli ke dalam gratin.

Kuambil dua piring penuh gratin, menapak langkah menuju sofa. Yoon Gi masih setia dengan kacamata baca dan sebuah buku tebal di hadapannya. Sesekali dahinya mengerut, mungkin merapal istilah-istilah sulit yang ia jumpai. Aku berdehem pelan meletakkan makanan di atas meja.

Merasa terusik ia mengalihkan atensinya. Segaris senyum tercipta di bibirku. “Maaf membuatmu menunggu. Makanlah, kau pasti sudah lapar”

“Aa..” Ia mengangguk pelan menutup bukunya. Saat ia hendak melepas kacamata, tanganku tergerak menahan lengannya. Yoon Gi memiringkan kepala tak mengerti.

“Jangan dilepas. Kau terlihat menggemaskan dengan kacamata itu.” aku tidak berbohong mengatakannya. Kekehan kecil lolos manakala bibirnya berkedut hendak tersenyum. Bayangkan betapa seksi dan tampannya pria di hadapanku sekarang ini.

Yoon Gi memalingkan wajah menyambar sepiring gratin. “Sebaiknya kita harus memakannya sebelum dingin.”

Bibirku kembali membentuk sesungging senyum. Mengangguk singkat, aku menghempas bobot tubuhku di sampingnya. Mengambil piring, menyuap sesendok penuh sembari menatap ekspresi Yoon Gi.

Aku suka caranya memberikan apresiasi terhadap masakanku. Seperti ia sangat menikmati suapan demi suapan gratin itu. Sesekali matanya memejam, menggumam pelan merapalkan sesuatu. Aku tak mendengar apa yang ia katakan tapi selengkung senyum kembali menyapa bibirku.

Kurasa ada peraturan tak tertulis tentang adab makan yang ia taati. Yoon Gi tak pernah membuka mulutnya untuk berbicara. Ini sama dengan peraturan keluarga Ryu di ruang makan, jadi aku bersyukur tak perlu merasa riskan.

Tepat saat aku menandaskan suapan terakhir, suara melengking mengganggu kenyamanan kami. Yoon Gi dan aku menoleh bersamaan ke arah pintu masuk. Dahiku mengerut bingung. Suara itu makin menjadi-dan aku baru sadar ia meneriaki nama ‘Master Yoon Gi’ berkali-kali. Tunggu.. Master.. Yoon Gi?

Seorang pria bersurai perak dengan jas hitam juga sarung tangan putih menyelinap masuk begitu saja. Kepalaku berputar mencari keberadaan Yoon Gi. Memberi tatapan ‘siapa pria itu?’ tapi ia hanya menatap lurus tanpa berniat menjawab.

“Akhirnya saya menemukan anda, Master Yoon Gi” tangan kanan pria itu tergerak menyentuh dada kirinya, membungkuk sopan pada Yoon Gi. Hei. Apa aku melewatkan sesuatu?

“Siapa kau?”

To Be Continued..

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Advertisements

2 thoughts on “What If [BTS Ver] Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s