What If [BTS Ver] Chapter 2

What If [BTS Ver] Chapter 2

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Marriage Life, Romance, Angst, AU
CR Pict: Nadhea Rain Art
Length: Chaptered
A/N: Maaf yang kemaren2 review gak kubalas yah, gak sempet balas tp kubaca semua kok 😉
WARNING: Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 2
A Dangerous Wedding Night

~~~

Story Begin..

Aku mengekor di belakang Yoon Gi dengan cukup tertatih. Kakiku masih menunjukkan efek samping bekas terkilir tadi, dan ya, harus kuakui pria yang berada tak jauh di depanku memang bukan tipikal pria romantis. Jadi jangan harap ia akan menanyakan bagaimana kabar kakiku atau bahkan mungkin menggendongku seperti drama romantis kacangan.

Berbelok ke kiri tak jauh dari lift yang kami tumpangi, bisa kulihat ia memasukkan kunci. Membuka pintu lalu beralih menatapku. Segaris tipis senyum tercipta di bibirnya. Kami terkesiap beberapa saat sebelum ia memutuskan mengambil langkah.

Lagi-lagi aku hanya mengekor. Mengedarkan pandang pada ruang tak terlalu besar di hadapanku. Ruang yang nyaman, tak banyak perabotan namun benar-benar bersih. Hanya ada sofa, meja, TV LCD, dan lampu di tempat yang kuyakini berfungsi sebagai ruang tamu.

Ada jendela yang menghubungkan langsung dengan balkon, tempat tanaman-tanaman hijau segar tertata indah. Juga pot-pot berisi tumbuhan di setiap sudut ruangan tak luput dari pandanganku.

“Ini apartmentku” ucapannya membuyarkan lamunanku. Kudongakkan kepala menatapnya, mengangguk singkat. “Kau bisa istirahat, aku akan berada di balkon sebentar”

Kepalaku tergerak kembali mengangguk mengiyakan ucapannya. Ia berjalan tenang, membuka pintu tak jauh dari ruang tamu yang mengarah langsung pada balkon. Kuselipkan anak rambut ke belakang telinga.

Menaruh tas tangan di meja, kembali kupusatkan perhatian pada tiap-tiap interior yang melekat di sana. Sofa kulit dengan karpet sehalus beledu berwarna maroon nampak serasi dengan cat dinding kuning gading. Lampu berukiran rumit terkesan artistik juga mahal dalam sekali tatap. Semua perabotan yang ada nampak benar-benar mahal, meski tak sebanyak yang ada di apartmentku sebelum tinggal bersama Seok Jin. Aku mulai berpikir apakah Yoon Gi berasal dari keluarga kaya raya?

Omong-omong tentang pria itu, sedari tadi irisku tak berhenti memandangnya. Dari mulai menyirami tanaman, mengambil dedaunan kering hingga senyum tulus seolah tengah bercakap dengan mereka. Tanpa sadar dua sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyum.

Bosan hanya duduk aku kembali menegakkan tubuh. Menghela nafas memikirkan apa yang harus kuperbuat. Namun belum sempat kuputuskan, kaki-kakiku sudah melangkah mendekati balkon. Semakin dekat rasanya debar jantungku yang membuncah tak mau hilang.

Dengan cukup keberanian kuputar kenop pintu. Mengulas senyum andalan saat Yoon Gi lagi-lagi memberikan tatapan miringnya. “Hei Min Yoon Gi, apa kau punya minuman? Err, maksudku kau mau minum sesuatu?”

Dapat kulihat ia menghentikan kegiatannya sesaat, menengadah kemudian kembali berfokus menyiram tanaman. “Tidak” ucapnya dengan intonasi yang benar-benar datar.

“Aku cukup yakin kau haus sekarang. Dan ya, aku juga. Apa kau punya jus?” menyidekapkan tangan di dada, kubiarkan tubuhku menyender pada kusen.

“Tidak ada” ia mengintipku dari balik bulu matanya. Aku menahan diri untuk tak memutar mataku sekarang juga.

“Kopi?” kataku masih dalam posisi menyandar kusen. Aku berharap setidaknya ia punya cairan hitam kental itu.

Ia menggeleng tanpa melepas pandang dari tanaman-tanaman hijau di hadapannya. Apa? Aku cukup terperanjat. Mataku melebar menatapnya. Lalu jika jus atau kopi saja ia tak punya, bagaimana caranya bertahan hidup selama ini?

Aku mendengus kasar. Keadaan jadi semakin canggung karena Yoon Gi memilih tetap diam tanpa perlu repot-repot menyahutiku. Kuteguk salivaku cukup kentara, “Bolehkah aku melihat isi kulkasmu?”

Mataku menyipit takut-takut ia akan menolak permintaanku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku benar-benar penasaran apa yang ada di dalam lemari pendinginnya.

Ia menengadah menatapku. Ekspresinya pun tak berubah, hanya terkejut kecil lalu berganti datar kembali beberapa detik kemudian. “Silakan”

Hei? Apa aku tak salah dengar? Ia mengijinkanku? Aku mengulas senyum sebelum memutar tubuh memulai pijak.

Aku mengambil langkah pendek-pendek. Pantry berada tak jauh dari pintu balkon jadi aku tak perlu repot-repot menanyakannya pada Yoon Gi. Dan sekali lagi aku terkesiap. Dinding berwarna putih tulang serta perabotan dengan warna senada nampak bersih-bahkan kurasa debu enggan menempel di sana. Tak ada sampah berserakan seperti kamar adikku, bahkan bekas bungkus makanan instan pun tak kutemui.

Sadar apa tujuan awalku menginjakkan kaki, segera aku melesat membuka kulkas satu pintu yang berdiri kokoh di dekat mesin pembuat kopi. Aku kembali dibuat kaget, setidaknya jantungku sudah melakukan senam terhitung empat kali dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Tak ada apapun yang bisa kujumpai di sini. Hanya ada bahan pancake instan hampir kadaluarsa, juga beberapa telur ayam, selain itu benar-benar kosong. Ingatkan aku untuk menampar diriku sekarang juga.

Dapat kudengar derap langkah kaki mendekat ke arahku. Tanpa memutar tubuh pun aku sangat tahu siapa yang datang. Yoon Gi berdehem pelan membasahi tenggorokannya.

Kututup kembali pintu kulkas setelah mengembalikan bungkusan pancake instan. Menyidekapkan dua tangan di dada, aku menyender pintu lemari pendingin putih itu. “Kulkasmu kosong”

“Ya. Aku jarang menggunakannya” ia mengangguk singkat. Oh astaga. Bagaimana bisa ia tak menggunakan benda secanggih ini?

Aku memutar mata jengah. Penasaran, aku mulai mencecar tanya “Lalu apa yang kau makan setiap harinya?”

“Chicken DoriTang dan Gratin dari bar Shin Ki, Kimchi, mi instan, ramen instan. Aku tak bisa memasak lebih dari bahan-bahan instan” Yoon Gi menggedikkan bahu. Oh, ini benar-benar gila. Ia cinta kebersihan tapi pola makannya terlalu buruk.

“Kau tahu, pola makanmu benar-benar mengerikan. Lalu, apa kau juga tak memiliki persediaan air putih?” aku akan menampar diriku sendiri jika benar ia tak memiliki persediaan sepenting itu.

Yoon Gi menggeleng singkat menunjuk keran air. “Aku minum dari wastafel khusus itu”

Oh Tuhan. Aku menampar diriku dalam hati. Tak habis pikir ia tahan dengan menu tak sehat juga air mentah seperti itu tiap hari. Aku mendengus kasar.

“Oh astaga” kugelengkan kepala memandangnya. Masih tak habis pikir dengan fakta yang kutemukan malam ini. “Aku akan ke supermarket membeli persediaan makanan. Mulai besok aku akan memberikan menu makanan yang sehat untukmu”

***

Aku tersenyum mendorong troli. Memilah-milah bahan yang kubutuhkan selama satu minggu. Ya, setidaknya aku akan belanja seminggu sekali. Roti tawar, selai cokelat, cokelat bubuk. Ah, jangan lupakan susu, kopi, gula. Kurasa senyum benar-benar terpatri penuh di bibirku.

Aku hampir lupa jika Yoon Gi berkata ia sering memakan Chicken DoriTang. Benar, aku harus berterimakasih dengan memasak menu favoritnya. Kudorong troli ke bagian fresh vegetable & meat, mengambil ayam, kentang, zucchini, wortel, bawang, cabai. Aku benar-benar bersemangat untuk segera memasakkannya.

Kutengok Rolex yang melingkari lengan kiriku, pukul sembilan lewat lima belas menit. Aku harus cepat sebelum malam semakin larut. Setelah membayar belanjaan, aku segera melesat membelah jalan setapak berjalan kaki.

Di perempatan, aku mengambil langkah berbelok ke kiri. Samar kulihat bayangan Yoon Gi tersenyum tipis dengan dua tangan ia letakkan di saku celana. Setengah berlari kami saling menghampiri satu sama lain.

“Yoon Gi..” Tanpa aba-aba ia segera mengambil kantung belanjaku. Tak membiarkanku membawa satupun. Diam-diam aku tersenyum kecil. “Bagaimana bisa kau ada di sini?”

Ia mensejajarkan langkahnya denganku. Melirikku dengan ekor matanya kemudian kembali fokus ke jalan. “Shin Ki memanggilku. Ia bertanya di mana kau berada, lalu ia menyuruhku menjemputmu.”

Aku bisa melihat jelas dua pipinya sedikit merona. Jadi ini ide paman? Aku terkikik geli. Satu lagi fakta yang kudapat dari Min Yoon Gi, ternyata ia adalah seorang yang penurut.

“Apa yang kau tertawakan?” ia mengalihkan fokusnya padaku. Aku menggeleng singkat. Semburat merah masih menghiasi pipi pucatnya.

###

Tepat pukul sepuluh kurang sepuluh menit Chicken DoriTangku sudah masak. Aku mencicipnya sekali lagi memastikan tak ada yang kurang dari masakanku. Mengambil dua piring dari tatakan, aku mulai membagi masakanku dalam porsi sama.

Yoon Gi sudah menungguku di sofa tadi. Apartmentnya tak memiliki meja makan, ia berkata sering makan di sofa seperti ini. Aku tersenyum memperlihatkan hasil karyaku di hadapannya.

Kami makan dalam diam, selain karena keadaan canggung ia juga tak banyak bicara. Jadi aku menahan diri untuk tak mulai berbicara ke sana-ke mari. Takut membuatnya tak nyaman.

Bisa kulihat sesekali ia menengadah, memejamkan mata lalu tersenyum tipis. Aku memiringkan kepala menatapnya seperti apa yang ia lakukan. Tak mengucapkan apapun. Menunggu ia menyelesaikan suapan terakhirnya.

“Ye Rin-ah?” aku menengadah menatapnya. Menghentikan kunyahan kentang dalam mulutku. Kurasa ia sudah selesai dengan makanannya terbukti dengan piringnya yang sudah kosong. Yoon Gi tersenyum tipis “Terima kasih. Masakanmu benar-benar enak”

Dua sudut bibirku membentuk sebuah lengkung. Dengan mantap kuanggukkan kepalaku menanggapi ucapannya.

***

Setelah membantuku mencuci peralatan, Yoon Gi berpamit mengganti bajunya. Aku tertegun beberapa saat menatap punggung tegapnya menghilang di balik pintu. Jarum jam sudah menunjuk angka sebelas malam. Seharusnya aku sudah tertidur pulas di jam-jam seperti ini.

Yoon Gi kembali menemuiku lima menit kemudian. Dengan setelan piyama garis-garis merah hitam, ia nampak begitu tampan, aku mengakuinya bahkan sejak pertama kali bertemu tadi. Ia membimbingku ke kamarnya, mengatakan padaku bahwa hanya ada satu kamar di apartmentnya jadi mau tak mau aku harus tidur di sana. Matanya terlihat lebih sipit, menahan kantuk mungkin?

Yoon Gi naik ke ranjang tanpa menunggu interupsiku. Menenggelamkan tubuh tegapnya di balik selimut. Aku mulai panik melihat sekeliling. Hanya ada satu single bed. Yang benar saja!

“T-tunggu. Hei!” aku menginterupsinya yang hendak mematikan lampu. Ia mendengus sebelum kembali menatapku tak suka. “Aku tidur di mana?”

Ia mengacak surai blondenya menyipit menatapku. “Di sini”

“Apa?” suaraku menggelegar. Yang benar saja? Bukankah ini gila? Aku harus tidur satu ranjang dengannya? “A-aku tidak bisa”

Kembali ia mengacak surainya, kali ini lengkap dengan tatapan frustasi. Turun dari ranjang, Yoon Gi mengambil sleeping bag yang ia letakkan di laci nakas. Aku menggigit kecil bibirku saat ia sudah masuk ke dalamnya.

“Hei Y-Yoon Gi-ya. Apa kau berencana tidur di situ?” aku masih menggigiti bibirku sendiri. Ia adalah tuan rumah, lalu kenapa harus mengalah demi aku?

Ia memutar mata. Kembali menelusupkan jemari di antara surai tebalnya, menarik-nariknya frustasi. “Aku sudah terbiasa tidur dengan sleeping bag di lab sepanjang waktu.”

“Tapi..” aku masih tak bergeming di tempatku. Merasa benar-benar canggung harus tidur di ranjang sementara Yoon Gi memilih tidur dalam sleeping bag.

“Aku rasa ini sudah terlalu malam untuk berdebat dan aku sangat mengantuk. Selamat tidur” ia berujar lagi merapikan sleeping bag. Tak berselang lama aku dapat mendengar dengkuran halus juga nafas teratur Yoon Gi memenuhi indera pendengaranku. Ia sudah tertidur secepat itu?

Naik ke atas ranjang dengan hati-hati, kusempatkan diri meliriknya sekali lagi. Yoon Gi tidur dengan sangat damai, wajahnya begitu tampan, polos bagai anak kecil.

Dua sudut bibirku mengembang menampilkan senyum. Kuputuskan untuk mematikan lampu, meski aku tahu aku tak pernah bisa tidur dalam keadaan gelap, namun sepertinya aku harus mulai bertoleransi.

Aku menyambar selimut, memakainya hingga menutupi dada. Kantukku belum juga datang padahal aku sudah berada dalam posisi tidur favoritku; memiringkan badan ke kiri memeluk guling. Aku mendesah kecil.

Ingatanku berputar mereka kejadian-kejadian yang kualami hari ini. Mulai dari kepulanganku ke Seoul hingga acara pertemuan dengan kedua orang tuaku. Batinku terasa sesak. Bukan karena takut akan keputusan yang kuambil. Sama sekali tidak. Aku sudah berumur dua puluh empat tahun jadi kurasa aku mampu memutuskan segala sesuatu yang menurutku baik.

Aku hanya tak habis pikir menjalin pernikahan pura-pura dengan seorang yang bahkan belum kukenal satu hari penuh. Dan sekarang aku bahkan tidur dengannya dalam satu ruangan. Hidupku benar-benar berubah seperti opera sabun. Aku bahkan tak pernah bermimpi menikah dengan cara seperti ini.

Kutegakkan kembali tubuhku menuruni ranjang dengan gerakan pelan. Yoon Gi masih bertahan pada posisinya semula. Aku bernafas lega. Setidaknya tidurnya tak terganggu dengan kekacauan yang kubuat.

Aku melenggang menuju sofa. Menyalakan lampu kemudian menghempas bobot tubuhku ke kursi. Lama aku terdiam masih larut dalam pemikiranku sendiri.

Aku benar-benar membenci Seok Jin. Harusnya aku tahu bagaimana sikapnya setelah kami tinggal serumah selama tiga bulan. Namun aku tetaplah aku. Aku bukan tipe orang yang mampu dengan mudah membaca karakter orang lain. Dan yang paling membuatku terpukul, aku bahkan lebih mempercayai Seok Jin dari pada Sa Na yang memberitahuku tentang perselingkuhan pria itu.

Aku mendesah sekali lagi. Tanpa sadar air bening sudah mengalir dari pelupuk mataku. Aku terisak-kecil, mati-matian berusaha meredamnya. Kugerakkan tangan menutup bibirku sendiri.

**

Aku menggeliat frustasi saat sinar surya mengetuk-ngetuk mata sipitku. Mengerang tertahan, kubuka kelopak mataku perlahan. Tirai jendela setengah terbuka adalah hal yang pertama kali kulihat, serta kilau pancar matahari yang terkesan mengejekku.

Aku terkejut mendapati bantal serta selimut melengkapi acaraku tidur di sofa yang belum juga kumengerti. Seingatku semalam aku di sini menangis. Dan perlu kugaris bawahi, aku bahkan tak membawa bantal maupun selimut. Menoleh ke kanan bisa kulihat secangkir teh juga tersedia di meja. Sesungging senyum terpatri indah di bibirku. Aku sangat yakin Yoon Gi yang melakukannya. Siapa lagi yang tinggal di apartment ini selain kami?

Kuputar kepalaku menelusuri dinding. Mencari keberadaan benda bundar penunjuk waktu. Pukul sebelas pagi-pantas saja-pasti Yoon Gi sudah berada di lab sekarang.

Saat melipat kembali selimut, ponsel pintarku berdering nyaring. Mendendangkan gitar rock yang biasanya mampu membuatku terperanjat. Mataku menyipit memperhatikan ID pemanggil yang tertera di layar.

“Apa tidurmu nyenyak Ye Rin-ah?” suara pamanku menggelegar saat kuaktifkan mode loudspeaker.

Aku mengangguk. Kurasa paman juga tak akan mengerti anggukanku barusan. “Begitulah. Apa Yoon Gi mampir ke barmu pagi ini paman?”

“Ya. Dia bilang tidurmu sangat pulas jadi ia tak berani membangunkanmu” aku meringis mengumbar tawa hambar. Meletakkan kembali selimut dan bantal pada tempatnya semula. “Ah ya, apa hari ini kau sibuk?” paman bertanya lagi saat aku sudah mendudukkan diri di pinggir ranjang.

Aku menengadah menatap langit-langit. “Selain mengambil sisa pakaianku di rumah, kurasa tak ada kegiatan lagi”

Bisa kudengar paman berdehem di seberang telepon. “Baiklah. Datang ke barku setelah kau selesai dengan urusanmu ya?”

Sekali lagi aku meringis mengiyakan. Jantungku berdegup kencang, paranoid dengan pemikiranku sendiri. Apa ayah dan ibuku tahu tentang kebohongan pernikahanku ini? Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, memijit pelipisku yang terasa berdenyut-denyut.

To Be Continued..

A/N: Haii ^^ maaf telat update yah u.u tadinya pengen bikin oneshoot dulu tapi idenya malah buyar. Kuputusin buat lanjut What If aja deh sekarang ^_^

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengDonghae wkwk

Advertisements

3 thoughts on “What If [BTS Ver] Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s