What If [BTS Ver] Chapter 1

What If [BTS Ver] Chapter 1

image

Title: What If
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Marriage Life, Angst, Fluffy, Romance, AU
CR Pict: Nadhea Rain Art
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak tanggung jawab/? *loh

Chapter 1
A Foreign Fiance?

~~~

Story begin..

“Maaf aku terlambat”

Remas tanganku sedikit mengendur. Tapi jantung bodohku masih enggan berhenti berdetak abnormal. Refleks kuedarkan pandang menatap objek menarik yang juga mencuri perhatian ayah dan ibu. Aku menegang di tempat.

Ke-kenapa dia?

Tersenyum manis ia segera melangkah, menyusul kami bertiga dan duduk di sampingku. Mata kepalaku benar-benar nakal menyusuri tiap-tiap pijak juga ekspresi tenang yang ia berikan. Tanpa beban, seolah kedatangannya sudah jauh-jauh hari terencana.

“Saya Min Yoon Gi, tunangan anak anda” ia membungkuk singkat sebelum kembali duduk, ibu menatapnya lekat-lekat. Aku berusaha tersenyum senormal mungkin namun kurasa justru ringisan aneh yang keluar.

“Kau sangat tampan” puji ibuku dengan mata berbinar. Aku cukup tahu diri untuk tak memutar mata saat ini juga. “Apa kau berasal dari negara lain?”

Yoon Gi mengangguk singkat. Masih tersenyum manis yang kurasa ayah dan ibu tak akan mencurigainya. “Orang tuaku berkebangsaan Jerman, tapi nenekku berdarah Korea”

Mengangguk singkat, ibuku sepertinya tertarik dengan pria di hadapannya. “Ah, jadi tunanganmu orang luar negeri hm putri kecilku?” aku meringis. Menunjukkan sederet gigi putihku, mencoba bersikap normal -sebisaku.

“Ahaha. Ayah sudah bisa membayangkan memiliki cucu blasteran Korea-Jerman. Pasti akan sangat menggemaskan” ayah tertawa bersama ibu. Memiliki cucu? Oh astaga. Ini benar-benar salah.

Tanpa kuduga Yoon Gi ikut tertawa. Seakan candaan yang ayah lontarkan barusan hanya perkataan dari anak kecil polos yang tak mengerti pahitnya kehidupan.

Ia menunduk mengambil anak rambutku. Menyelipkannya di balik telinga sembari berbisik, aku ada di pihakmu, tanpa diketahui ayah yang masih sibuk mencairkan tawa.

“Ah ya Yoon Gi-ya?” ayah kembali mendominasi setelah tawanya berhasil menghilang. “Apa kau sungguh mencintai Ryu Ye Rin putri kecil kami?”

Tubuhku kembali menegang. Sontak membuat iris cokelatku membelalak tak percaya. Aku benar-benar tak bisa mengantisipasi pertanyaan ayah, dan.. Aku menghembuskan nafas cukup kasar. “Ayah..” suaraku nyaris seperti gadis kecil yang merajuk. “Jangan membuatnya tidak nyaman dengan pertanyaan itu”

“Hei apanya yang salah hm? Ini penting sayang. Aku benar kan?” Ayah masih tak berubah dengan argumennya. -aku duduk amat sangat gelisah karena hal ini. Sial. Apa yang akan Yoon Gi jawab?

Berbagai pikiran negatif mulai berspekulasi di otakku. Bahkan kemungkinan terburukpun sudah kurekam jelas. Lalu tiba-tiba saja duniaku berhenti berputar. Ia-Yoon Gi-dengan sadar menuntun tangannya melingkari lenganku. Menuntutku mendekat, tepat dalam rengkuh hangat yang ia cipta.

“Ya. Aku mencintainya.” mata hitamnya bersirobok cokelatku, ia tersenyum tulus. “Dan aku berjanji akan membahagiakannya dengan sepenuh hati”

Ia mengerling kecil, membuat aliran darah terkumpul di wajahku. Aku tersipu, mungkin semburat merah sudah hadir di kedua pipiku.

Perkataannya membuat perasaanku menghangat. Mengingatkanku pada Seok Jin-mantan tunanganku yang sebenarnya-yang juga pernah mengucapkan pernyataan ini. Aku menggeleng tegas. Tidak. Ia bahkan tidak ada di sini. Tidak pernah menemui kedua orang tuaku.

***

Setengah jam kemudian ayah dan ibu berpamit. Mengatakan pada kami bahwa beliau akan segera melakukan penerbangan bisnis ke Jepang. Keduanya merangkul Yoon Gi, memberitakan sampai jumpa lagi dan jaga putriku sebaik-baiknya berulang kali. Aku meringis ngeri dibuatnya. Oh tidak. Ini akan semakin kacau.

Ayah dan ibu benar-benar menganggapnya sebagai tunanganku.

Yoon Gi berjalan kembali ke tengah keempat temannya -juga pamanku di sofa tadi. Beringsut membaringkan dirinya, menutup kelopak menghalau sinar lampu yang mencoba menelusup retina. Aku memutar mata jengah. Ikut duduk di samping paman. Menghela nafas, aku mulai memijit pelipis dengan tangan kiriku.

“Wow. Aku tidak percaya seorang Min Yoon Gi bisa berbicara sepanjang itu pada orang lain” Jung Ho Seok menyahut memperhatikanku. Menepuk lengan Yoon Gi tidak sabaran, seolah momen pria itu terlibat percakapan panjang adalah hal sangat langka.

Yoon Gi hanya mengibas-ngibas tangannya ke udara. Melanjutkan kembali mimpi, entah apa, yang sejujurnya aku juga tak terlalu mempedulikannya. Tuan Jung memberiku secangkir kopi hangat lagi, aku membungkuk singkat berterima kasih.

“Seharusnya kau membiarkanku maju Yoon Gi-ya. Ye Rin lebih pantas bersamaku dibandingkan kau. Ingat kau bahkan lebih muda dibandingkan kami semua” kali ini Ji Min yang berujar, melempari Yoon Gi dengan kacang kulit. Jadi pria itu yang paling muda?

“Sudahlah. Akui saja kalian kalah cepat denganku.” Aku hanya bisa menatap mereka geram. Apa-apaan ini? Masalah sepelik ini bahkan hanya dijadikan bahan lelucon?

Mereka tertawa bersama, tak terkecuali pamanku yang bahkan sudah terpingkal. Aku menggeram marah. Gemelatuk gigiku benar-benar terdengar, urat leherku juga nampak jelas -kurasa.

Kuteriaki mereka lantang. Tak peduli Tuan Jung menatapku heran dari balik counter. Tak peduli acara tidur Yoon Gi terganggu. Aku benar-benar tak bisa tinggal diam. Aku bukan mainan, dan aku tak berniat menawarkan diri untuk dipermainkan.

Harusnya mereka mengerti bagaimana menyikapi wanita yang sedang patah hati. Bukan menambah masalah baru dengan hadirnya Yoon Gi sebagai pahlawan kesiangan. Harusnya mereka tahu, atau seharusnya biarkan saja aku membuat segalanya jadi kacau. Sial.

Ho Seok memberiku satu lagi lelucon yang membuatku muak, ‘cara mengatasi patah hati adalah memiliki cinta baru’. Tch. Teori macam apa itu?

Aku bangkit dari sofa menyambar tas tanganku. Secepatnya melenggang keluar tanpa repot-repot berpamitan pada paman. Aku kembali menggeram.

Satu-satunya tempat tinggal yang kumiliki di Seoul hanyalah rumah ayah dan ibu. Di kota ini aku tak pernah diijinkan memiliki apartment, kecuali jika aku sudah memiliki tunangan -dalam tanda kutip aku boleh tinggal bersama priaku. Dan sekarang apa? Yoon Gi jelas-jelas sudah memutuskanku, dan aku tak mungkin kembali ke apartmentnya di Daegu. Aku benar-benar kehabisan akal.

Jika aku kembali ke rumah bisa kupastikan ayah langsung mendapat serangan jantung. Paman Gong Jeong Min, tangan kanan ayah selalu melapor kejadian di rumah selama dua puluh empat jam. Dan aku akan begitu berdosa membohongi keduanya. Bodoh.

Kutendang kaleng bekas yang menggelinding tepat di depan kakiku. Frustasi. Tentu saja.

Aku masih melangkah menjajaki trotoar berbaur dengan pejalan kaki lain. Masih memikirkan bagaimana kehidupanku selanjutnya akan berjalan. Apa aku harus tidur di emperan toko? Atau justru tidur di bangku taman? Oh astaga.

Tiba-tiba saja lenganku ditarik paksa. Aku tak tahu siapa penariknya namun aku tetap menghentikan langkah. Aku menoleh.

Yoon Gi berdiri tak jauh dariku-dengan tangan masih mencengkeram pergelangan tanganku-. Mata sayunya nampak lebih sipit, kurasa tepatnya ia sedang menahan kantuk. Kepalanya ia miringkan untuk dapat melihatku lebih jelas.

“Mau kemana kau?” nada suaranya benar-benar datar. Tiada ekspresi yang mampu kubaca dari caranya menatapku.

“Pulang” jawabku asal menghentak-hentakkan tangan. Berharap kungkungan tangan kekar yang melingkari pergelanganku bisa segera terlepas.

Seolah mengerti kodeku, ia menghentikan cengkeramannya. Seringai tipis muncul menghias wajah Adonisnya. “Kau tunanganku. Jadi jika ingin pulang, kau harus pulang bersamaku”

Aku membuka mata lebar-lebar. Tak percaya-sungguh-dengan segala perkataan yang ia lontarkan. Iris cokelatku berkeliling. Menelisik wajah tampannya seksama. Menemukan celah keraguan kata yang terlanjur menguap dari lisannya. Aku mendesah dalam. Sial. Lagi-lagi aku tak mampu membaca apapun darinya.

“Kau bukan tunanganku. Kuingatkan padamu bahwa beberapa jam lalu aku baru saja putus dengannya. Dan kau..” kuacungkan jari telunjukku tepat di depan wajahnya. “Kau membuat segalanya jadi semakin rumit. Datang pada ayah dan ibuku, mengaku tunanganku, berkenalan dengan mereka dan wow. Aku bahkan harus memutar otak agar tak ketahuan jika aku berbohong.” aku bernafas dalam satu tarikan. Benar-benar lega mampu memuntahkan segala keluhan yang mengganjal di hatiku.

Jung Kook menyusul bersama Ji Min. Berdiri di belakang Yoon Gi, tak terlalu dekat memang namun kurasa mereka mampu mendengar percakapan kami. Sekian detik mata Yoon Gi melebar. Bibirnya membentuk huruf o kecil beberapa saat, lalu topeng datar itu kembali tercipta.

Ia melipat tangan di depan dada. Masih memiringkan kepalanya untuk menatapku. Oh Tuhan. Apa aku terlihat begitu pendek jika di dekatnya? “Kalau begitu, menikahlah denganku”

A-APA?

Pupilku membesar tak percaya. Aku terperangah. Bisa-bisanya ia menganggap enteng sebuah pernikahan. Dan coba lihat, ia bahkan bertampang datar. Sungguh aku ingin mengutuk mimpi yang menghampiriku semalam.

“A-Apa?” aku merutuki suara yang kukeluarkan. Kenapa aku mendadak jadi terbata seperti ini? Jung Kook dan Ji Min ikut berekspresi sama denganku, berjengit tak percaya. Mereka mengumpat Yoon Gi. Membuat bola mataku memutar jengah.

“Aku tak mau dijodohkan dengan wanita pilihan orang tuaku.” kali ini Yoon Gi berujar sendu. Dengan wajah yang juga berubah sedih, sungguh secepat itu ia bisa merubah ekspresinya? Aku tertawa hambar dalam hati. Di jaman secanggih ini masih ada perjodohan konyol?

“Aku tak ingin pulang ke negaraku. Maka dari itu aku membutuhkanmu. Setidaknya jika orang tuaku tahu aku sudah memiliki istri, mereka tak akan mengganggu penelitianku. Dan kau juga aman, tak perlu membuat orang tuamu kecewa” ia mendesah sebelum melanjutkan perkataan. “Kita hanya perlu berpura-pura menikah. Bukan menikah dalam konteks sebenarnya”

Kuhentikan tawa hambar dalam hatiku. Iris hitamnya beradu dengan cokelat kelam milikku, membuatku benar-benar merasa tenggelam dalam tatap sendu yang ia layangkan. Baru saja ia memohon, dan itu sama sekali tak merugikan. Kami seperti gayung bersambut.

“Tiga bulan” ia berujar lagi. Aku memiringkan kepala memproses maksud pernyataannya. “Kita berpura-pura menikah selama tiga bulan. Aku butuh waktu selama itu untuk menyelesaikan risetku.”

Tiga bulan ya? Tidak terlalu buruk. Aku bisa mengumpulkan uang dari hasil kerjaku dan membeli apartment baru. Tanpa sadar kepalaku sudah memberi respon anggukan kecil.

“Aku punya satu syarat” ucapku kini mensidekapkan kedua tangan di depan dada. Menunggu responnya yang bahkan mampu kutebak dengan mudah. Ia akan pura-pura terkejut lalu kembali tak peduli. Ini gila.

“Kau bisa menggunakan apartmentku sebagai tempat tinggalmu jika itu masalahnya. Kita menikah, meski hanya pura-pura, tapi kau harus tinggal bersamaku. Aku tak ingin mengambil resiko” Bagaimana ia bisa menebak jalan pikiranku? Apa dia salah satu keturunan asli cenayang Jerman?

Aku menghela nafas sekali lagi. “Baiklah. Aku setuju”

“Hei Ye Rin-ah. Jika Yoon Gi menyakitimu, kau bisa datang padaku. Pintu apartmentku terbuka lebar untukmu” aku melayangkan senyum saat Ji Min berteriak. Yoon Gi hanya mampu tersenyum kaku. Dan aku ragu, kurasa ia tak pernah bisa mengekspresikan sesuatu.

###

Kami kembali ke bar paman untuk berpamitan. Tepat pukul delapan malam aku dan Yoon Gi berjalan pulang. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Aku yang bahagia telah kembali dari Daegu untuk bertemu orang tuaku. Lalu sore kelam saat Seok Jin memutuskan hubungan kami, dan sekarang, malamnya aku bahkan menjalani pernikahan pura-pura dengan seorang yang belum genap sehari kukenal.

Hidupku berubah seperti sebuah opera sabun sekarang. Aku patut menertawai diriku sendiri. Dan kuharap setelah tiga bulan pernikahan ini berakhir, aku tak benar-benar mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada ayah dengan perceraianku. Aku meringis membayangkannya.

Kami berjalan beriringan dalam diam. Tak banyak kata, itulah yang mampu kudeskripsikan dari seorang Min Yoon Gi. Ia menapak langkah tenang, dengan dua tangan ia masukkan dalam saku celana.

Aku berdehem pelan. Membasahi tenggorokanku dengan saliva. “Seperti apa penelitianmu?” Aku tak benar-benar berharap perjalanan ke apartmentnya berlangsung bisu. Maka dari itu aku mencoba mencairkan suasana. “Apa kau meneliti bunga? Kau tahu, temanku di Daegu memiliki toko bunga dan aku cukup hafal jenis-jenisnya” aku membeberkan lengkung bangga. Yoon Gi menatapku sebentar, kembali fokus ke jalan tanpa menyahut pertanyaanku. “Aku sering membantunya merangkai bunga, itu pekerjaan yang menyenangkan. Apa kau meneliti bunga Azalea? Kata temanku azalea berarti cinta pertama– akh”

Aku berjengit kaget meremas pergelangan kakiku. Tubuhku segera ambruk, terduduk di pinggir trotoar yang sudah cukup sepi. Namun bukannya membantu, Yoon Gi justru masih tetap berjalan tenang. Melirik barang sekejap saja tidak. Hei! Apa dia tidak pernah memiliki kekasih?

Ia melirik ke arahku dengan seringai tajam. “Aku meneliti tanaman obat. Bukan meneliti bunga” ucapnya meneruskan langkah. Membuatku mendidih menahan untuk tak melempar stilettoku tepat di kepalanya. Takdir mempermainkanku. Kenapa aku harus bertemu dengan orang semenyebalkan Yoon Gi?

“Yaa! Tunggu aku Min Yoon Gi” aku tak peduli ringisan perih yang kudapat saat aku berlari mengejarnya. Yoon Gi hanya berjalan dengan jangkah biasa tapi sialnya aku tertinggal terlalu jauh.

Aku melihat punggung tegapnya berhenti di depan apartment mewah. Seluruh cahaya lampu menyala serempak, membuat tempat di hadapanku semakin terlihat memukau. Nafasku tak beraturan akibat lari malam dadakan barusan.

“Yaa! Kenapa kau meninggalkanku yang sedang terkilir? Apa kau tak pernah tahu bagaimana cara memperlakukan wanita?” kuteriaki ia tanpa merasa malu seditpun. Suaraku menggelegar membunuh sepi malam.

Yoon Gi membalikkan tubuhnya. Menatap lekat menelusuri kepala hingga kaki jenjangku. “Ini apartmentku” aku mendengus kasar. Apa? Ia tak meminta maaf atau menanyakan kabarku? Demi Kim Hana dan kekasihnya yang galak. Manusia jenis apa dia?

Ia maju beberapa langkah mendekatiku. Merentangkan tangan kananku, menaruh sebuah kunci di sana. “Kunci cadangan. Biasanya aku menghabiskan sebagian hariku di lab, jadi simpanlah. Kau akan memerlukannya”

Yoon Gi tersenyum kecil. Membalikkan tubuh lalu berjalan memasuki apartment. “Ah ya satu lagi. Lusa asistenku datang. Kau harus bersiap dengan drama terbaik pasangan suami istri denganku”

Kugenggam kunci di tanganku erat. Jantungku bergemuruh dengan sangat tidak etis. Sadar atau tidak, sekarang aku akan tinggal bersamanya.

Bersama Yoon Gi. Ya. Aku tak peduli asisten atau apapun yang akan datang. Tapi yang jelas, hidupku berubah sejak saat ini.

To Be Continued..

A/N: Maaf yang kemaren review gak sempet kubalas, tapi makasih ya ^^ kubaca semua kok 😉

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengSuga wkwk

Posted from WordPress for Android

Advertisements

6 thoughts on “What If [BTS Ver] Chapter 1

  1. haha min syuga sungguh menyebalkan -_-
    Yerin yg tabah yaa? :v
    btw, td ada nama donghae di dalam cerita padahal ini kan ff bts
    yg di SJ ver. jg ada nama Taehyung padahal itu ff SJ xD
    Lanjutkan eonni.. ^^

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s