Anemone [Oneshoot]

Anemone [Oneshoot]

image

Title: Anemone
Cast: Lee Dong Hae, Song Min Seo
Genre: Angst, Romance, AU
CR Pict: Nadhea Rain Art
Length: Oneshoot
A/N: Bisa dikatakan sequel fanfict “September” karyaku juga 😀 fict ringan dengan bahasa yang agak greget/? ini Oneshoot pertama dari dua oneshoot yang kugarap. Pelepasan deadline sebelum bertarung/? dengan Breathe. Hehe. Selamat membaca!^^

~~~

Story Begin..

Min Seo

Aku sudah terbangun lebih dari setengah jam lalu -kurasa, namun mataku benar-benar enggan untuk sekedar menampakkan hazel kembarku. Dapat kudengar deru nafas teratur menggelitik surai hitam legam yang kupunya. Juga tangan kekar melingkar intens, mendekap tubuh kecilku.

Jam weker bodoh meraung kencang. Meminta perhatian dengan cara yang benar-benar kurang ajar. Aku tersentak. Tangan besar itu kemudian tergopoh mencari sumber kericuhan pagi penyebab ketenangan kami terusik. Hazelku terbuka lebar, meski tak terlalu lebar di banding ukuran normalnya.

Kulihat ia mengucek mata. Merutuki brengseknya jam weker yang entah siapa penyettingnya. Ia memegang kepalanya sendiri, mungkin pusing baru saja menyapa.

“Sial. Hari ini aku ada operasi dadakan” umpatnya, lebih tepatnya mendesis dengan suara lirih. Menarik-narik ujung rambutnya, dapat kusimpulkan ia tengah kesal bukan main.

Kupaksakan suara keluar dari kerongkonganku. “Jam berapa kau ada operasi?”

“Satu jam lagi” keluar dari selimut, ia lantas menyambar handuk. “Sial bahkan semalam kita hanya tidur dua jam” teriaknya. Ada sejumput nada gusar terpetak rapi di jejeran kata-katanya. Aku menggunakan kamar mandi tamu sesaat setelah Dong Hae menghilang.

Mengikat celemek, aku hanya akan memasak sandwich. Tak akan butuh waktu lama jadi kurasa Dong Hae tentu akan menyempatkan makan.

Dong Hae

Kubiarkan wanitaku mengambil alih mengikat simpul dasi dengan garis zigzag yang terkalung di leherku. Kucomot satu sandwich yang tersedia di piringku, mengunyahnya cepat. Ia mendengus. Remah roti menumpuk pada surai hitam yang tampak basah. Satu yang kuyakini wanitaku baru saja menambahkan shampoo lemon mint pada mahkota halusnya.

Kuusap sebentar rambutnya. Ia mendongak lucu dengan pipi-pipi gembil membentuk pose kerucut bibir yang membuatnya makin manis. Kuhadiahkan sebuah kecupan pagi. Bekas rasa teh ochanya menyecap meninggalkan jejak dalam pagutan kami, bercampur gurihnya sandwich dan sedikit mint dari pasta gigi. Kombinasi yang tidak buruk kurasa.

Min Seo

Kembali kutatap punggung tegap yang baru saja berlalu bersama Porsche hitam miliknya. Senyum menghias di wajahku. Dan kurasa ini konyol. Aku hampir berkepala tiga dan masih memiliki letupan-letupan seperti gadis remaja hanya karena bersamanya? Aku menghela nafas. Menggeleng tegas dengan apa yang baru saja terlintas dalam otakku.

Kuletakkan kembali kunci rumah di bawah satu-satunya pot bunga Anemone. Melenggang bersama ‘kenangan semalam’ yang sampai detik ini masih juga membekas. Aku menaiki BMW Z4 Coupe Metalic Blue milikku. Menyenderkan tubuh di kursi pengemudi, aku bahkan tak mengerti apa dorongan yang dapat membuatku kembali ke rumah ini.

Aku memutar kunci, menyalakan mobil dengan perasaan teraduk-aduk. Harusnya aku tahu dia datang untuk pergi lagi. Harusnya aku mengerti dia kembali hanya untuk membongkar ruang rahasia kami, dengan dalih seolah ia lah yang paling terluka di atas segala yang tengah terjadi. Kugigiti bibir bawahku.

Aku mengerang mencoba sedikit saja melupakan wajah tampannya. Suara seraknya yang terasa mengetuk setiap sel indera pendengaranku. Juga tangan kekar yang biasa mendekapku, atau juga kenyal bibir yang beberapa menit lalu menempel pada bibirku.

Denting piano mengalun meneriakiku. Membuyarkan fantasi yang seharusnya memang tak kumiliki dalam konteks statusku sekarang. Sial. Kuraih earphone menyelipkannya di telinga kiri.

“Moon ahjumma berkata kau tak ada di rumah semalam” suara baritone menyapaku gusar. Jika ia ada di depanku, kurasa aku bisa melihat raut khawatir memenuhi setiap inchi wajahnya.

Aku mendesah kecil. Memulai aksi berbohong yang sudah jadi teman akrabku jika ia tengah melakukan perjalanan bisnis. “Sura memintaku datang membantunya menyelesaikan gaun Nichan. Ada beberapa detail rumit yang tak sanggup ia selesaikan sendiri” -ini benar. Aku tak berbohong karena sore kemarin aku sempat membantu Sura di boutiquenya. “Ada Chan Hee dan juga Chae Rin di sana. Aku takut tidur di rumah tanpamu, jadi aku memutuskan menginap dengan Sura”

“Demi Tuhan. Min Seo sayang kau sungguh membuatku khawatir” -Yeah maaf aku akan benar-benar berdosa sudah kembali berbohong padamu.

“Aku tak apa sayang, sungguh. Aku sudah dalam perjalanan pulang sekarang. Jaga pola makanmu di sana, aku merindukanmu” Kulempar kepala ke bantalan kursi. Rindu? Benarkah aku merasakan rindu pada priaku di ujung telepon ini? Aku meringis kecil.

Dong Hae

Kepalaku terasa berdenyut-denyut nyeri. Aku kelelahan -sungguh dan butuh tidur. Empat jam operasi yang benar-benar gila. Dengan bayang-bayang wajah pucat juga air mata tumpah ruah menganak sungai pada pipi Min Seo. Wanitaku. Tanganku menelusup rambut belakangku, kutarik ujungnya tak peduli perlahan mungkin aku akan mengalami kebotakan. Kuhempaskan bobot tubuhku pada kursi ruang dikte, aku menghela nafas.

“Kau tahu cinta kita salah. Kau dan aku, kita sudah tidak sama seperti dulu” Min Seo berkilat. Wajahnya mendidih menahan amarah, aku tahu ia terluka. Aku masih tak bergeming dalam posisiku melahap steak.

Ia membuang garpu juga pisau kecil dari tangannya. Menangkup wajah berusaha menahan air bening yang mungkin saja akan meluncur bebas. “Kau bahkan mengacaukanku lagi dan lagi. Sampai kapan kau menyiksaku Lee Dong Hae?”

Aku menggeram. Cengkeraman kuat kulayangkan dari setiap genggam tanganku. Punggungnya bergetar, dan ya. Dia menangis lagi karena ulahku sendiri.

“Lalu kenapa? Kenapa ada hal semacam ini mengekang jalan hidup yang telah kita pilih?”

Aku menggebrak meja kuat-kuat. Nafasku terengah-engah, pandanganku menajam menusuk langsung dua hazel miliknya. Mengitari meja, tanpa ragu kuhapus celah yang tercipta di antara kami. Kuraih dagunya, memaksa manik indah menatapku tanpa ragu. “Karena aku mencintaimu brengsek! Apa kau tak mengerti juga hah?” umpat mulut kotorku. Tak peduli lagi jika ia benar-benar tak bisa menerima makian barusan.

“Ya. Karena kau brengsek dan aku juga brengsek. Cinta kita hanya antara dua orang yang sama-sama brengsek yang tak pernah mau melawan takdir!” tak kusangka kata-kata itu meluncur bebas dari bibirnya. Sepersekian detik tangis kembali pecah berdengung di kepalaku. Suaranya ringkih, begitu rapuh bagai ketika kau mencoba mengangkat lidi kecil dengan kedua jarimu berada di ujung-ujungnya. Mudah patah, persis seperti apa yang ku tangkap dari paras wanitaku.

Kembali kujalankan tangan menarik rambut belakangku. Krystal-krystal bening yang tengah ia produksi bahkan tak mampu untuk sekedar kuhentikan.

Kubawa ia dalam dekapanku. Mengusap punggung kecil itu sampai isakan benar-benar menghilang dari sana. Sekali lagi aku adalah penyebab wanitaku mengeluarkan air mata.

Aku bodoh. Kulempar begitu saja grafik pasien yang belum kusentuh sama sekali. Pertengkaran semalam dan sikap biasa yang ia tunjukkan tadi pagi bukan komposisi tepat untuk mengatakan keadaanku baik-baik saja.

Ia terluka dan aku juga merasakannya. Kami sama-sama egois. Masih saling mencintai namun tak pernah tegas dalam mengambil keputusan.

Ia telah menikah dengan eksekutif muda Kim Seok Jin yang bahkan tiga tahun lebih muda darinya. Semua karena salahku. Salahku yang menginginkannya pergi karena kupikir dulu aku sudah benar-benar lelah dengan hubungan kami. Kulirik jam yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Sebentar lagi jam jagaku akan berakhir.

Namun setelahnya aku juga terluka, melihatnya bagai Aphrodite mengenakan gaun pengantin impiannya memunculkan niat untuk menculiknya. Membawanya kabur layaknya Rahwana memisahkan Rama dan Shinta. Tapi aku urung melakukannya. Aku membeku di tempat tanpa sempat melepas pandang pada paras cantiknya.

Mengingat senyum manis -paksaan yang terus menguar memenuhi bibir tipisnya membuatku sesak. Lengkungnya tak benar-benar dari hati. Dan aku lebih menyesal lagi, ia tak benar-benar bahagia dengan Seok Jin.

Lima bulan kemudian undangan pernikahanku menyusul. Bersama Yoo So Yun, wanita yang sejujurnya tak pernah kuinginkan mendampingiku, aku melangkah mantap ke altar. Mengucap janji suci tanpa ada orang tahu bahwa janji itu hanya kuucap secara lisan, batinku tak berkata demikian. Aku melihatnya datang bersama Seok Jin di sampingnya. Tatapannya sendu saat memberi ucapan selamat padaku.

Saat acara berlangsung tak jarang pula aku mencari keberadaannya, menatapnya dari jauh. Hazel bersirobok cokelat gelap, ia juga diam-diam memperhatikanku. Aku menghela nafas entah sudah kali ke berapa. Pukul 14:00 tepat. Aku harus berpamit untuk bergegas pulang.

Min Seo

Kutenggelamkan tubuhku dalam bathtub yang sebelumnya sudah kutambahkan sabun aroma lily. Tak mengganti pakaian tadi pagi membuatku kembali terselimuti aroma Dong Hae. Dan betapa bajingannya aku memilih berendam dibanding secara terang-terangan dipergoki berselingkuh oleh Seok Jin.

Ia adalah pria baik, dan aku hanya seorang wanita yang tak mampu berpaling menatapnya. Jelas ia memiliki hak atas diriku dibanding Dong Hae atau pria manapun. Namun yang mampu kulihat hanya ada pria itu, Lee Dong Hae. Bukan nama atau wajah lain.

Seringai muncul terpetak di wajahku. Aku dan Dong Hae bagai gayung bersambut. Sama-sama terluka, saling terpuruk satu sama lain, lalu kenyataan menamparku sekali lagi. Bahwasanya kami masih mencintai namun terhalang oleh pernikahan bodoh yang tak sungguh-sungguh kami inginkan. Kugosok tubuhku memainkan buih yang tercipta.

Aku masih ingat pertama kali aku bertemu dengannya kembali setelah acara pernikahannya berlangsung. Ayahku seorang workaholic jadi kurasa sudah sewajarnya jika beliau kelelahan. Yang kutahu saat itu petugas kesehatan di MJ Song Corporation membombardir pernyataan bahwa ayah harus segera dilarikan ke rumah sakit. Aku menyusul lima belas menit kemudian. Berlalu memutar tangga menuju tempat favorit ayah di rumah sakitnya sendiri.

Aku meraih pintu bersamaan dengan tangan lain berukuran lebih besar. Desir aneh merangkak menjalari tubuhku saat kutatap tangan kekar yang kini berada di atas tanganku. Kudongakkan kepala sepersekian detik kemudian. Tubuhku membeku.

Mengapa dari sekian banyak dokter harus dia yang memeriksa keadaan ayah? Ia meminta izin mendahuluiku ke ruang rawat dengan senyum bengkoknya. Bahkan lengkung andalan itu pun masih dapat membuat jantungku berolahraga.

Aku tahu beberapa kali ia mencuri pandang tanpa perlu menjadi pusat perhatian ayah dan ibuku. Ia berhasil menyelipkan kartu namanya sebelum keluar ruangan, -aku berusaha keras untuk tak menjerit bahagia.

Kemudian kami kerap bertemu di ruang rahasia yang tak pernah ada secuil mata dapat menangkapnya. Sebuah rumah kecil di pinggiran Seoul, yang rencananya akan jadi aset masa depan kami lah saksi bisu hubungan gelap ini dimulai. Sekali lagi aku tersenyum kecut.

Biasanya kami hanya akan berbincang dan kembali setelah dirasa rindu mereda. Dia tak pernah mangkir dari dinas dokternya saat sedang bersamaku jadi kupastikan semuanya aman. Aku memilih waktu saat Seok Jin melakukan perjalanan bisnis. Ia tahu aku tidak suka mendampinginya di acara membosankan seperti itu. Setidaknya aku bersyukur suamiku tak sampai hati memaksa maupun menyeretku.

###

Dong Hae

Aku menatap punggung kecil So Yun, mengintip apa yang sedang ia kerjakan dengan riasan wajahnya. Gaun backless pastel bermotif sederhana membungkus indah lekuk tubuhnya. Rambut yang biasanya tergerai kini ia angkat sedemikian rupa. Menyisakan anak rambut panjang yang ia biarkan menggantung.

Ia cantik, menarik, juga baik. Seorang pemilik senyum hangat juga perangai ceria yang mampu mengusir segala rona canggung rumah. Aku menatapnya sekali lagi, menajam memastikan bagaimana cara pandangku terhadap istri sahku ini.

“Mau sampai kapan kau memperhatikanku seperti itu oppa?” ia sudah berbalik dari posisinya semula. Poles tipis make up membuat pancaran aura cantiknya makin terasa.

Aku mengangkat bahu tak acuh. Melayangkan senyum-biasa-saja yang selalu kugunakan memikat para penggemar wanitaku. Hei aku ini seorang dokter tampan juga seksi sekaligus, bukan rahasia jika kaum hawa menyukaiku atau mungkin menggilaiku kan? Bahkan yeah tak jarang ibu-ibu menobatkanku sebagai the-most-wanted-tipe-ideal-seorang-menantu. Oh besar sekali kepalaku rasanya.

“Baiklah. Ayo berangkat. Jangan sampai Tuan Tan menunggu kita terlalu lama” berdiri di atas stiletto hitam, ia menghampiriku. Menggamit lenganku intens. Aku hanya mampu mengangguk tanpa mengucap kata apapun.

Min Seo

“Aku benar kan? Ini tidak seburuk persepsimu sayang” Seok Jin terus mengeratkan rengkuhannya di pinggangku. Hari ini ia berhasil membujukku mengikuti pesta bisnis salah satu koleganya.

Aku memutar mata jengah saat ia memandang arah lain. Benarkah acara seperti ini disebut pesta? Semua orang merasa tegang, dengan obrolan bisnis di mana-mana. Tch. Membuatku tak nyaman saja. Mungkin seharusnya mereka menamai ini dengan ‘Rapat Para Raja dan Ratu Saham Dalam Ruang Berbeda’.

Aku berasal dari keluarga pebisnis ulung dan tak memungkiri sering menghadiri pesta semacam ini ratusan kali. Saat masih kecil atau remaja aku bahkan bangga, menunjukkan kebolehanku bermain piano di depan relasi ayah ibu adalah satu dari daftar favoritku selain jamuan mewah pesta juga gaun-gaun indah yang mampu tertangkap retinaku. Entahlah, aku hanya mati rasa sepertinya.

Aku takut topeng manisku bersama Seok Jin terbuka. Aku bukan istri yang baik. Ya. Aku mengakuinya. Mangkir dalam urusan menjadikannya pria berpredikat nomor satu untukku bukan hal yang rahasia, -setidaknya satu dari seluruh orang di dunia mengetahuinya.

Segaris lengkung kuciptakan sebisa mungkin. Kau tahu, berpura romantis di hadapan banyak pasang mata membuatku muak. Mereka banyak memuji Seok Jin. Tampan, bertubuh indah, bibir penuh yang seksi, pundak lebar yang bisa memberikan pelukan terbaik dan bla bla bla. Aku tak lagi mendengarnya secara seksama. Kurasa lebih baik suamiku beralih profesi sebagai face of the group sebuah boyband. Telingaku panas, entahlah kurasa ini bukan cemburu, jengah mungkin.

Aku tahu ia sempurna, dan kata orang semakin sempurna jika bersanding denganku. Oh Tuhan, jangan biarkan aku memuntahkan lasagna yang baru saja kulahap karena omong kosong itu.

Dong Hae

Aku melihatnya dari jarak dua ratus meter. Di antara timbunan pria-wanita lain gaun biru permatanya benar-benar mampu menghipnotisku. Ia terlihat mencolok dengan untaian bunga terajut apik pada sisi kanan rambutnya. Wanitaku sungguh menawan.

Aku tahu ia bosan, berusaha untuk terus mengulas senyum juga membalas obrolan singkat bukan hal mudah. Dan ia berhasil untuk tak terlihat aneh, meski dalam pandanganku ia memang aneh. So Yun menawariku segelas tequila. Aku menyesapnya sedikit kaku. Aku bukan peminum yang baik.

Istriku masih berbincang entah dengan siapa, Ye Rim, Ye Jung atau entahlah. Aku tak perlu mengingatnya. Kembali fokusku beralih sepenuhnya pada wanitaku di arah jam tiga. Ia menunggu Seok Jin yang masih membicarakan bisnis dengan salah satu koleganya.

“Kau tahu, Presdir Kim dan istrinya sangat serasi” aku mulai memutar tubuh, mencari tahu kebenaran beberapa pasang mata memandang takjub ke arah wanitaku.

Tanpa tahu awal mulanya hatiku bergelayut perih. Pedih, sedih menjadi satu bersarang di organ terpentingku.

“Mereka bagai gayung bersambut, satu tampan dan satu lagi cantik. Ah. Jika mereka memiliki anak kupastikan anak itu akan mewarisi anugerah kedua orang tuanya” memiliki anak? Aku tertawa miris dalam hati. Membayangkannya mengangkangkan kaki untuk orang lain, menyemai benih mereka kemudian menatap perutnya yang membuncit membuatku mual. Sekaligus ngilu dalam waktu bersamaan. Aku menghela nafas.

Jemariku mencengkeram erat gelas tinggi yang kubawa. Mencoba tak memperdulikan ucapan-ucapan sampah tadi, aku membuang muka.

Kuperhatikan lagi wanitaku yang kini memegang gelas bersama Seok Jin di sampingnya. Kupaksa otakku memproses pandangan berbeda dari ketertarikanku pada wanita bergaun biru permata. Ya. Mereka semua benar. Wanitaku cocok bersanding dengan eksekutif muda berbibir tebal itu. Aku tersenyum kecut.

Min Seo

Jemariku menekan tuts-tuts grand piano di ujung ruangan. Membius para tamu yang masih berbincang untuk sekedar mengistirahatkan obrolan bisnis mereka, menikmati alun nada yang kucipta. Aku memejam mata saat intro lagu telah berdengung nyaring. Kuhela nafas sedikit beringas.

On top of this ending tune
I am standing here alone
Now tell me
That it’s over, let me know

Aku menatapnya lekat-lekat, priaku yang kini juga balik memandangku.

Suddenly, rain wells up in my eyes
You well up, I see you even when I breathe

Aku gusar. Kutekan tuts dengan tak sabaran. Di lengan kekarnya terdapat tangan lain. Tangan yang secara gamblang mampu merengkuhnya meski di khalayak ramai sekalipun.

Love blooms like cherry blossoms but burns and becomes ashes
Hey boy I know, the conclusion you made by yourself

Ia tak pernah tahu aku meringis menahan tangis. Tak ada yang pernah tahu bahwa belati tajam tengah menguliti ragaku.

Your hand, your body, your body heat that was hotter than the equator
I’m still here, on repeat on top of the dissapeared tune
I’m turning by myself on top of this music that has ended

Aku merutuki jantung bodohku yang bekerja seperti ketika menginjak remaja. Ini jauh lebih sakit dibanding pengakhiran hubungan kami tiga setengah tahun lalu. Kucengkeram tangan, menutup kelopak mataku kasar.

On top of this ending tune
I am standing here alone
Now tell me
That it’s over, let me know

Boy let me know
Boy let me know
Although I already know everything is over
Although you’re over me

Air mata jatuh mengaliri pipi porselenku. Lagu ini selalu mampu membuatku menangis. Dan semakin membuatku tergugu dengan kisah sepadan yang kuenyam di balik makna syair ini.

Boy let me know
Boy let me know
Boy let me know
Tell me something

I just wanna know
I just wanna know
My lingering feelings are trying to with stand the end
So please tell me something, boy let me know

Dalam tangis yang tak kunjung reda aku masih menatapnya, berganti pandang beralih pada Seok Jin beberapa detik kemudian. Senyum kuulas menyudahi lagu yang kumainkan.

###

Kumasukkan satu pak bibit bunga anemone bersama surat yang baru saja selesai kutulis. Aku menggeram tertahan. Menutup kotak berpita merah, pandangan kosong kembali mengisi manik hazelku.

Kujatuhkan kepala di atas meja. Menyelipkan tangan di antara surai hitam legam yang kupunya, aku menariknya cukup kasar.

Dong Hae

Alisku bertaut mendapati bungkusan bertuliskan bibit bunga anemone dalam kotak yang baru saja kuterima. Kim Ryeo Wook salah satu orang kepercayaan wanitakulah yang mengantarkannya. Aku hafal tabiatnya jika tak bisa menemuiku langsung, ia akan mengirimkan berbagai macam hadiah. Namun kali ini aku tak mengerti apa makna yang terkandung dari biji bunga anemone ini.

Kutarik kertas yang melekat di dasar kotak, membukanya dengan tak sabaran.

Terkhusus untukmu, pria yang sampai saat ini masih menempati posisi pertama dalam hatiku.

Aku tersenyum senang. Hanya dia yang bisa membuatku kembali ceria setelah beberapa operasi yang kujalankan.

Kulihat bunga anemone di taman rumah kita hampir mati, aku berniat untuk menanamnya kembali tapi sepertinya tak bisa. Seok Jin akan menetap di Seoul selama dua bulan, jadi kupikir kau yang harus menanamnya ulang. Aku akan sangat merindukanmu sampai dua bulan akan berakhir, dan kita bisa bertemu lagi untuk saling melepas kangen.

Kadang aku berpikir untuk menyudahi saja hubungan gila yang terjalin antara kita, namun aku sama sekali tak bisa. Aku pernah bilang padamu kita sama-sama brengsek kan? Sepertinya ide untuk lari dari kehidupan kita sekarang dan menikah denganmu terus memenuhi otakku.

Aku muak harus berpura-pura bahagia, muak dengan wanita yang selalu dapat bergelayut manja di lenganmu meski banyak orang yang menyaksikan. Dan semoga bukan hanya aku yang merasa kecemburuan mendalam seperti ini.

“Kau benar Min Seo-ya, aku juga merasakannya” gumamku tersenyum kecil. Wanita ini memiliki 1001 cara untuk membuatku di atas awan.

Aku pernah berkata padamu tentang arti Anemone kan? Oh kurasa mungkin kau melupakannya. Kau kan pelupa, bagaimana bisa aku percaya jika kau masih mengingatnya? Kkk~

Filosofi yang terkandung dalam anemone ada banyak, anemone berarti cinta yang tidak luntur, kau tahu itu sangat menggambarkan keadaanku (dan keadaanmu mungkin?). Hey Dong Hae-ya apa kau mencintaiku?

Kikikan kecil kembali lolos dari bibirku. Dia brengsek oh dan aku mencintainya.

Anemone juga berarti kebenaran, ketulusan, antisipasi, harapan, menyerah serta harapan yang pudar.

Entah bagaimana hubungan kita nantinya akan bermuara. Pada sebuah ikatan yang suci kah? Atau justru makin memburuk dan tak bisa bersatu kembali. Kau tahu kita sama-sama menginginkan lebih dari sekedar hubungan gelap seperti ini.

Dua bulan lagi pastikan kau masih brengsek untuk kucintai. Dan biarkan hubungan ini mengalir seperti air, meski ada kelokan di jalan yang akan kita lalui, kupastikan aku akan tetap ada di sisimu. Berjalan beriringan denganmu meniti jalan yang kita pilih.

Dari wanita brengsek yang menginginkanmu lebih dari apapun.

Kututup kertas biru muda penuh dengan coretan tangannya, mengantonginya ke dalam jas kedokteranku. Ya. Kau benar Min Seo-ya, aku akan tetap brengsek untuk kaucintai. Dan kuharap kau juga masih jadi seorang brengsek yang mau menerima cintaku.

Kuciumi bungkusan bibit bunga anemone dengan senyum penuh. Bunga harapan yang akan membawaku menjemput cinta sempurna yang senantiasa kuidam-idamkan.

“Karena kau brengsek dan aku juga brengsek. Cinta kita hanya antara dua orang yang sama-sama brengsek” kutirukan ucapannya dengan seringai kecil.

-FIN-

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengDonghae wkwk

Advertisements

7 thoughts on “Anemone [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s