Shadow [Oneshoot]

Shadow [Oneshoot]

11155002_429065170625642_663742079817551084_o

Title: Shadow
Cast: Min Yoon Gi, Ryu Ye Rin
Genre: Angst, Romance, AU
CR Pict: NadheaRain Art *I mean my self kkk
Length: Oneshoot
A/N: Fict ini sebenarnya sudah saya tulis dengan alur dan genre berbeda tapi ha, dengan seenak jidat saya menggantinya *plak Hope u like it! grin emotikon
WARNING; Lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan dan jauh dari ekspektasi kalian saya tidak bertanggungjawab/? *loh

~~~

Story begin..

Gadis dengan surai cokelat tua sedikit berjinjit menggapai jendela tinggi di kastilnya. Bulan penuh menggantung indah memantul perak cahaya tepat ke iris hitam miliknya. Pun pula ribuan bintang pembentuk susunan rasi-rasi indah berjejal sesak memenuhi angkasa raya.

Ujung gaunnya berderit-derit di lantai. Menimbulkan suara cukup nyaring untuk membuat dua prajurit yang berjaga di luar ruang pribadinya mengernyitkan dahi. Gugup ia mengangkat sedikit material gaun indah berwarna pastel yang melekat di tubuhnya.

Dengan ragu ia menaiki kursi yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya. Butuh kewaspadaan ekstra untuk tak menimbulkan kecurigaan bahwa sang putri mahkota hendak melarikan diri. Faktanya ia memang tak sedang memiliki niat untuk hal bodoh semacam yang terlintas pikirannya tadi.

Ia menggigiti bibir bawahnya sendiri. Memutuskan untuk melompat atau tidak sama sekali. Sekali lagi gadis berparas Aphrodite menengok pintu, beralih pada kusen kemudian menghela nafas.

“Jangan takut, kau tidak akan berakhir basah di parit ini”

Suara berat lain seolah mendorong niatnya. Keluar dari kastil larut malam, impian yang benar-benar tak akan pernah dilupakan selama hidupnya. Detik itu juga kakinya sudah benar-benar menghapus pijak pada kusen. Tubuhnya melayang -bersama gaun berat indah yang memeluknya.

Dan waktu seperti berhenti saat itu juga. Butuh beberapa detik mencerna kenapa ia tak berakhir di parit dan menimbulkan kegaduhan sampai deru nafas mengganggunya. Ya. Putri kita baru saja melompat ke kungkungan pria berjubah hitam panjang juga rambut cokelat hampir merah yang berdiri di tengah parit.

“M-Maaf” gagap ia mencoba meredam atmosfer canggung di antara keduanya. Mereka keluar dari parit lalu memisahkan diri. Gadis obsidian tahu benar celana pria itu setengah basah. Ia berpikir tentu akan sangat dingin.

Pria beriris senada dengannya menggeleng pelan dengan segaris senyum terpetak di wajahnya. “Lagipula aku yang mengundangmu Putri Ye Rin. Tak usah sekhawatir itu” ia mengikuti arah pandang Ye Rin mengintimidasi setengah celana hitamnya yang basah. “Bukan masalah besar”

Senyum mengembang di bibir tipis Ye Rin. Pria di sampingnya menjatuhkan diri di atas rerumputan dengan lengan beralih fungsi sebagai sandaran kepalanya. Memandang gemintang juga cantiknya sang ratu malam dalam sebuah singgasana langit agung.

Mau tak mau Ye Rin ikut mendongak. Mengabsen setiap rasi yang memang ia ketahui dari buku-buku astronomi hasil curiannya di perpustakaan kerajaan. Bedanya jika pria tampan itu sedang berbaring, Ye Rin justru masih duduk dengan gaun cantik-bodohnya yang memang menyebalkan.

“Kemarilah” tanpa ia sadari pria bermanik hitam telah melepas jubahnya. Membiarkan kain hitam membentang di sampingnya beserta lengan lain yang kini menyambut kepala Ye Rin untuk menyandar.

Ye Rin mengangguk melakukan perintah yang memang ditujukan untuknya. “Bukankah langit tampak mengagumkan jika dipandang dari tempat ini?” -lagi pria itu membuka topik sesaat setelah Ye Rin berada intens dalam kungkungannya.

“Menakjubkan” gumam Ye Rin tanpa henti. Mungkin ia memang tak sadar pria itu bahkan melupakan langit. Iris gelap dengan pantulan benda-benda langit di atas benar-benar kombinasi sempurna untuk ditatap dalam waktu lama. “Terima kasih Panglima Yoon Gi”

Pria yang dipanggil ‘Panglima Yoon Gi’ mengerutkan dahi. “Panggil Yoon Gi. Sudah berapa kali aku mengatakan hal ini padamu Putri?-”

“-dan panggil aku Ye Rin tanpa imbuhan putri” bantah Ye Rin sebelum pria di sampingnya kembali berujar. Mereka tertawa kecil menyadari betapa bodohnya hal yang baru saja mereka perdebatkan.

“Malam ini benar-benar damai kurasa”

Yoon Gi tak menatap Ye Rin. Bulan dan bintang telah mengalihkan fokusnya kali ini. Gusar hatinya hendak menyampaikan isi yang sejak tadi tertanam di niatnya mengajak sang putri bertemu pandang.

“Setidaknya aku benar-benar bersyukur bisa menghabiskan malam indah bersamamu” Ye Rin kembali berujar. Memainkan cincin bertahtakan permata yang tersemat di jari manisnya.

Yoon Gi mendengus keras. Memalingkan wajah menatap rupa ayu gadis yang sedang berbaring di lengannya. “Besok pagi buta aku akan berangkat. Pasukan pemberontakan menyerang daerah perbatasan tanpa bisa kami duga. Beberapa pasukan sudah diberangkatkan malam ini dan pasukanku juga akan segera menyusul”

Ye Rin bangkit efek keterkejutannya. Tanpa celah ia seolah menguliti pria tampan itu hanya dengan tatapannya. Dan bagai tertikam martil, benar tak ada keraguan dalam dua obsidian indah milik Yoon Gi.

“Aku akan segera kembali untukmu. Untuk meminangmu sesuai janjiku. Jangan khawatir, aku adalah panglima yang kuat” malam itu usapan Yoon Gi pada puncak kepala Ye Rin benar-benar membuat gadis bermarga Ryu gelisah. Ia tak pernah merasa sekalut ini hanya karena salam perpisahan kekasihnya -yang memang terlalu sering ia dapatkan.

Bibirnya terus berujar doa. Meminta pada dewa-dewa menghentikan pertikaian yang tengah terjadi di kehidupannya. Membayangkan nyawa-nyawa tak berdosa melayang bersimbah darah membuatnya dirasuki rasa takut.

Yang nyatanya Ye Rin hidup pada jaman di mana manusia seperti tak punya akal. Saling bunuh, berebut kekuasaan, peperangan, dan segala hal yang tak masuk akal bagi dirinya.

**

Yoon Gi memacu kuda hitamnya lebih cepat. Menggunakan pedang di tangan kanannya menebas apa saja yang jadi penghalang dalam perjalanannya. Jalan gelap namun sinar bulan yang menelusup cukup mempermudah dirinya mencari alternatif tercepat menuju lokasi. Ia tersenyum tipis manakala bayangan Ye Rin terlintas di kepalanya.

Tak gentar, itulah kata yang mampu mewakili seberapa antusiasnya Yoon Gi melesat memimpin barisannya. Ada lima puluh prajurit di belakangnya, jumlah minimum yang benar-benar akan berguna dalam serangan kecil ini.

Menarik tali, Yoon Gi memelankan laju kudanya. Perbatasan, dengan lautan manusia beserta bunyi dentingan senjata jadi pelengkap visualisasi yang mampu ia tangkap dengan inderanya. Dari sinilah awalnya. Sekali lagi ia menghela nafas.

“SERAANG” suaranya menggelegar bersama percepatan laju kuda yang sengaja ia tambah temponya. Desing adu besi-besi pedang memekak telinganya. Ia terus maju menebas siapapun yang bisa ia jangkau.

Jerit putus asa, juga kesakitan membumbung tinggi di udara. Seolah jadi bumbu pelengkap hari panjang yang sesungguhnya belum juga berjelang. Bulan masih berhias dan mungkin saja matahari belum hendak menuai tugasnya.

“Aakh” Yoon Gi agaknya sedikit limbung di atas kuda kesayangannya. Bibirnya merintih, peluh membanjiri seluruh bagian wajah tampannya. Ia membungkuk memaksa kudanya bergerak melambat. Tampak panah berdiri gagah menusuk punggung tegapnya.

**

Ye Rin merapatkan jubah. Pelipisnya tak henti memproduksi keringat dingin. Rasa takut benar-benar menguar menyebar mengikuti aliran darahnya. Ia menumpang kereta bantuan pertama untuk korban-korban di perbatasan.

Satu tepukan ringan di bahu nyatanya tak berguna mengusir segala ketakutannya. Setelah burung elang putih memasuki kamar beserta gulungan terlilit di kaki kokoh sang burung ia benar-benar tak bisa berpikir jernih. Bahkan menunggu pagi bersama tangis tak kunjung reda rasanya sungguh menyesakkan.

Panglima Yoon Gi mendapat anak panah beracun di punggungnya. Ia dalam keadaan kritis Tuan Putri. Maaf. -Seok Jin.

Jantungnya berdegub kencang bahkan berlipat ganda sesaat setelah roda-roda kereta memasuki daerah perbatasan. Ia tak bisa membendung desir ketakutan yang menjalar ke sistem kerja tubuhnya.

Ye Rin meringis mendapati onggok daging tak berdosa di sepanjang pengelihatannya. Menutup kelopak mata, ia benar-benar tak ingin berpikiran aneh sekarang. Cukup. Sudah cukup tubuhnya diforsir mengeluarkan hormon ketakutan yang tak kunjung mereda.

Ia berlari segera setelah pacuan kuda berhenti. Menolak bersikap tenang menuruti sahabatnya Seo Hye. Alih-alih kekuatan kakinya bertambah beberapa kali lipat. Masa bodoh dengan gaun indahnya.

“Mana Yoon Gi-ku?” derak nafasnya tak beraturan saat mencengkeram kerah panglima lain yang entah mengapa berkumpul di depan tenda. Panglima Jeon Jungkook. Beralih menatap pada lima sosok lain yang kemudian sama-sama menunduk.

“Maaf Tuan Putri” Jimin, panglima berjabatan setara dengan Yoon Gi memulai pembicaraan. “Panglima Yoon Gi-”

“Katakan apa yang terjadi. Katakan!” Ye Rin benar-benar kacau. Sungai yang muncul dari kedua sudut matanya merupakan indikasi spesifik bagaimana keadaan gadis cantik ini.

“-Dia tidak bisa diselamatkan”

Lemas. Otot-otot kaki Ye Rin seakan melunak begitu Jimin menyelesaikan kalimatnya. Tak ada suara namun lelehan bening semakin banyak keluar. Tubuhnya merosot, bibir ranumnya bergetar hebat. Dewa bahkan lupa mengabulkan doa-doanya malam ini.

Susah payah ia membawa diri bersimpuh di hadapan jasad Yoon Gi. Menurutnya pria di hadapannya tetap tampan, tanpa goresan apapun yang menciderai rupa Adonisnya. Hanya iris hitam sekelam malam yang tak nampak, juga hangat tubuh yang mulai memudar. Ye Rin kembali bersimbah air mata. Dipeluknya lagi tubuh tanpa nyawa kekasihnya. Menggumam pilu yang terasa meremas jantungnya.

“Jika dalam masa ini aku tak bisa bersamanya, ijinkanlah kami bertemu lagi di masa yang akan datang dan perkenankan kami untuk tetap bersatu dalam cinta kasih yang kau anugerahi Dewaku” tutupnya kembali meraung. Air mata sungguh tak mau jauh dari dirinya sekarang.

###

2015

Jingga kemerahan terlukis pada kanvas langit dengan begitu indah. Beserta gumpal awan hampir berubah warna jadi gelap, juga sang raja siang yang hendak pulang ke peraduannya. Figur apik dari sebuah tatanan langit yang tiap hari bertambah pengagumnya.

Sunset berjelang tepat beberapa detik saat pria tampan mulai menghitung mundur dengan jarinya. Satu bidikan sempurna kembali berhasil ia ciptakan.

Entah sudah kali ke berapa tepatnya ia menyukai atap gedung sebagai tempat paling tepat mengambil gambar sunset. Tak terhitung pula berderet foto dengan latar dan tema sama berjejal memenuhi koleksinya. Ia menyukai sunset, bulan, serta bintang. Dan sesungguhnya ia tak begitu tahu mengenai hitungan mundurnya yang memang tepat sasaran.

“Yoon Gi hyung” ada gema memantul mengikuti suara baritone yang terucap. Pria berkaos putih dengan kupluk di kepalanya menoleh. Satu anak adam bersurai perak menyambutnya tak sabaran.

“Kau harus percaya padaku” buka pemuda itu lagi mengajak Yoon Gi turun. Setidaknya ia harus meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia tak berencana mengakhiri hidup di atap rumah sakit keduanya.

Yoon Gi berfokus pada tiga tangga teratas sebelum masuk dalam lift. “Jelaskan ‘percaya’ apa yang kau maksud Namjoon-ah”

Pemuda yang dipanggil Namjoon menekan angka lift. Secara otomatis lift bergerak turun. “Kau tahu, aku menemukan Ye Rin”

“Apa?” iris kelamnya melebar tak percaya. “Maksudku, apa kau gila? Kudengar dari buku itu sudah tidak ada lagi reinkarnasi Yoon Gi dan Ye Rin setelah tahun 1992”

Namjoon mengangguk. Mengusap dagu dengan salah satu telapak tangannya. “Bisa saja ahli sejarah itu salah kan? Mungkin Ye Rin yang kumaksud memang salah satu reinkarnasi dari belahan jiwa Panglima Yoon Gi. Dan kau adalah jodohnya. Oh Tuhan aku bisa jadi salah seorang pengamat bukti sejarah sekarang”

Lift berdenting tepat waktu. Yoon Gi berusaha acuh dengan gejolak yang baru saja membuncah di hatinya. Alih-alih melupakan Namjoon, pria lesung pipi berhasil mencekal lengan Yoon Gi. Scrubnya sedikit terangkat sedari tadi.

“Ini mungkin tidak penting tapi akan kuberi tahu. Ye Rin adalah anak tunggal pemimpin Ryu Corporation. Ia memiliki cafe pribadi di daerah Myeongdong, mungkin saja kau berniat menemuinya”

Secepat kilat Yoon Gi mengangguk. Berbalik arah ia menggumam kata yang-benar-saja namun jauh dalam hatinya beberapa kupu-kupu justru terbang bebas di sana. Menyeruak memenuhi segala saraf pencipta rasa bahagia yang ia punya.

**

Ye Rin mencopot kacamata bacanya. Menyesap vanilla latte yang sedikit dingin akibat atensinya pada buku hasil cekokan sahabatnya tadi tak juga berkurang. Kemampuan bacanya meningkat dan ia harus bersyukur karena hal itu. Tak butuh waktu lama buku bersampul hijau cokelat berhasil ia tandaskan.

Jemarinya bermain-main pada meja kayu. Mengetuk-ngetuk dengan pola irama tak beraturan menandakan hatinya sedang dilanda gusar. Hembus nafas yang dihasilkannya juga berat.

Ia tak percaya. Tepatnya sungguh tak percaya dengan materi dari buku yang masuk dalam otaknya mampu menyebar gelenyar-gelenyar aneh di setiap bagian tubuhnya. Mimpi yang selalu ia hindari bahkan terpampang jelas hanya dalam satu bacaan.

Kisah cinta legendaris antara seorang panglima perang dan putri kerajaan pada zamannya yang sama-sama memohon pada dewa untuk dipersatukan di masa lain membuatnya tercengang. Nyatanya tak hanya satu kali kedua tokoh itu bertemu dalam masa berbeda. Dan kesemua cerita yang berdengung di otaknya terasa benar-benar nyata. Tanpa ada bumbu pengada-ada melekat pada setiap penjabarannya.

Larut dalam diam ia bahkan tak sadar sedari tadi pemuda berjaket hitam tengah memperhatikannya. Menatap dari balik kamera yang terus membidik objek tanpa henti. Tepatnya menjadikan seluruh gerak gerik Ye Rin sebagai objek potretnya tanpa permisi.

“Ada yang diam-diam memotretmu” pria paruh baya berseragam koki menginterupsi Ye Rin. Ia mendongak sepersekian detik setelah kesadarannya pulih.

Mencari pembuktian Ye Rin mengitarkan pandang pada setiap bagian cafenya. “Kurasa paman harus menambah wawasan lelucon lagi. Itu sama sekali tidak lucu. Tak ada yang menjadikanku model dadakan di sini.” sesendok puding masuk dalam mulutnya.

Sang koki mengikuti jangkauan pandang tuannya. “Sejak kapan meja tengah kosong? Aku melihat pria tampan di sana memotretmu berulang kali. Ya. Mungkin hanya halusinasiku saja”

**

Yoon Gi mengamati setiap foto yang tersebar di meja khususnya. Berbagai ekspresi terlihat seperti rentetan film yang sengaja dipotong-potong tiap scenenya. Senyum merekah, terkejut, melamun, semua nampak cantik meski dalam angle berbeda. Seberkas senyum terpatri di bibirnya.

Tak ada buku yang dengan gamblang menjelaskan bagaimana rupa sang Adonis dan Aphrodite menjelma sebagai sosok Yoon Gi dan Ye Rin. Ia harus bersyukur karena bukti sejarah tak membuatnya dikerubuti banyak orang yang mengira dirinya, Min Yoon Gi juga termasuk dalam salah satu reinkarnasi panglima perang itu. Atau juga ia harus benar-benar bersyukur dengan nama panggilan Suga yang diberikan ayahnya. Setidaknya jarang orang yang mengetahui nama aslinya.

Perutnya berbunyi, sepertinya keasyikan memotret menurunkan daya ingat Yoon Gi untuk makan. Ia melirik kulkas, mencari apapun yang bisa ia makan. Tapi sial. Ia bahkan lupa tak mengisi kulkas lagi sejak satu minggu lalu.

Yoon Gi meraih mantel -di luar pasti cukup dingin mengingat pukul sepuluh malam telah lewat setengah jam lalu. Langkah kakinya panjang-panjang, sengaja tak menggunakan mobil ia memilih berjalan di bawah taburan bintang. Langit malam Seoul dan jalan kaki merupakan kombinasi yang sempurna.

**

Ye Rin mengisi setengah troli dengan aneka macam sayur dan buah-buahan segar. Setengahnya lagi hanya roti tawar, susu, daging, sarden kalengan, juga sirup, serta beberap toping seperti cokelat dan keju. Ia mendorong trolinya merasa belum puas dengan apa yang sudah ia ambil. Menuju showcase minuman dingin ia terpaku dengan seorang yang baru saja menutup pintu kaca bening. Mengalihkan atensi setelah meletakkan berkotak-kotak susu segar ke dalam troli pria itu sendiri.

“Ryu Ye Rin?”

“Min Yoon Gi?”

Hampir bersamaan keduanya saling sapa. Mengucap nama seolah mereka sudah benar-benar tak saling bertemu dalam jarak sekian ribu tahun. Ada nada rindu terselip di antara gumaman mereka. Beserta pancar mata menyirat banyak makna sekaligus; cinta, rindu, bahagia, dan haru.

**

“Apa kau masih suka menatap langit berbintang seperti ini?” Yoon Gi menyandar bantalan kursi taman. Sekotak Ben & Jerry rasa vanilla raspberry menghangi jarak mereka.

Ye Rin mengambil sendok penuh, menyuapi dirinya sendiri. Merasakan manis bercampur asam di lidahnya. “Kebiasaanku tak pernah berubah. Dan kau tahu, aku semakin gila membaca sekarang”

“Ya aku tahu” Yoon Gi melakukan hal yang sama. Irisnya beralih pada jutaan bintang yang tergambar di langit. Bulan penuh mengingatkan pada pertemuan terakhirnya dengan gadis yang kini di sampingnya. “Aku bersyukur ingatan kita tak dihapuskan. Jadi kita tak harus memulai kisah ini dengan cara yang berbelit-belit”

Ye Rin terkekeh atas jawaban Yoon Gi barusan. “Ya kau benar. Aku hampir putus asa setelah membaca buku itu. Kukira Tuhan memang tak berniat menyatukan kita lagi. Atau dewa yang dulu kusembah sengaja melupakan bagian penting ini”

Angin malam berhembus memainkan surai hitam Yoon Gi. Ia tersenyum, kulit putih pualamnya kontras dengan gelap malam yang menyelimuti. “Sebelum racun panah itu menyebar luas aku juga meminta dewa memberikanku satu kesempatan lagi bertemu denganmu”

“Aku tak menyangka kisah cinta kita sefenomenal ini. Dan aku baru tahu kau terbunuh dengan panah beracun juga” obsidian mereka bertemu. Saling menyelami rindu masing-masing. Berbagi hasrat menggunung yang tertahan di antara keduanya.

“Tuhan memperindah kisah kita dengan saling menautkan benang tak kasat mata antara nama Yoon Gi dan Ye Rin” jemari mereka saling menaut. Kotak Ben & Jerry telah kosong. Mata sekelam malam beradu dalam kelembutan.

Entah siapa yang memulai sampai hidung mereka saling bersinggungan. Yoon Gi mengecup lembut bibir tipis merah muda favoritnya. Mengeliminasi jarak antara mereka. Kedua obsidiannya mengatup, memperdalam sensasi ciuman lembut tanpa napsu yang terjelang.

Tangan Ye Rin merangkak meraih ujung rambut tebal Yoon Gi. Meremasnya lembut namun berirama. Kupu-kupu dalam perutnya meledak mengitari aliran darahnya. Menyambut gelenyar rindu yang disalurkan Yoon Gi lewat kecupannya.

.
.
.

“Jadi, apa kau masih mau menerimaku? Aku tak memiliki pedang, baju besi dan juga kuda lagi. Mungkin aku tak sekeren dulu tapi kau harus percaya kemampuan berkelahiku sepertinya tak berkurang” Yoon Gi menjinjing empat kantong belanjaan di kedua tangannya. Tak membiarkan Ye Rin membawa kantong miliknya. Mereka berjalan di bawah taburan bintang.

Kikikan kecil kembali tercipta dari bibir Ye Rin “Kau bercanda? Aku bahkan tak ingin kau kembali jadi panglima yang menantang kematian setiap kali memimpin perang” ia menyelipkan anak rambutnya yang tertimpa angin malam. “Lepas dari itu kita harus memulai prosesi ini dengan berbelit-belit. Saling berkenalan dulu mungkin? Bertukar nomor ponsel atau alamat apartemen? Aku benar-benar ingin mengetahui detail kehidupanmu sekarang”

“Hei kita kan sudah bertunangan dan akan segera menikah. Aku tidak mau” Yoon Gi menghentikan langkah. Air mukanya berubah cukup drastis.

“Apa kau mau kita dicap pasangan aneh yang baru saja bertemu langsung bertunangan? Jika ya, kau benar-benar mencoba membongkar rahasia kita pada dunia” sedikit berteriak Ye Rin menangkup wajah Yoon Gi. Yang hanya bisa pria itu lakukan hanya mendesah, memutar mata.

“Baiklah baiklah. Kita akan memulai proses ini dengan cara berbelit-belit yang tidak akan menimbulkan kecurigaan siapapun. Tapi jika berdua denganmu, aku sama sekali tak akan menggunakan mode itu” senyum merekah Yoon Gi berikan. Kemudian kecupan ringan datang menyambut bibirnya. Hanya beberapa detik kemudian gadisnya berlari mendahuluinya. Ia berjalan tenang menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kisah cintanya bersambut. Mereka bereinkarnasi dalam jarak dan waktu yang sama. Dipertemukan di kota yang kembali sama. Sekali lagi tak hentinya puji ia panjatkan pada Tuhan. Petakan lengkung masih setia menghias wajah tampannya.

Ye Rin menyuarakan bahagia dengan melompat, berlari kecil bahkan sedikit melakukan gerakan dansa. Akhirnya penantiannya menjelang. Satu-satunya pria yang ia inginkan hadir dalam kehidupan keduanya benar-benar terealisasi. Secara nyata sosoknya kini mampu membuatnya berteriak riang. Sungguh. Berjuta pujian pada Tuhan sepertinya tak akan cukup menuntaskan rasa terima kasihnya.

Pada akhirnya yang dipisahkan tengah bersatu kembali. Merajut kisah yang sempat tertunda di masa lalu.

-FIN-

Pembaca yang Baik adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak

Advertisements

2 thoughts on “Shadow [Oneshoot]

  1. padahal biasanya anti bgt loh baca yg panjang kayak gini dek. tapi baca ff kamu mah ngalir gitu aja.. gak kerasa aja panjangnya eh udh abis aja.. pdahal pengen baca trus trnyata udh end >< lnjut dong dek kisah cinta mreka.. hhuhu

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s