Berenice Chapter 1

Berenice Chapter 1

12029851_593852350753509_1635017429431781148_o

BERENICE [CHAPTER 1 : CHARACTER INTRODUCE]

Cast :
-Park Jung Soo -Han Ryu Ra
-Cho Kyuhyun -Park Chaerin
-Lee Donghae -Yoo So Yun
-Lee Hyuk Jae -Kang Sura
-Kim Kibum -Shin Nichan

Category : Fantasi, Romance, Chapter

-o0o-

Freenia. Ketika kata itu terucap atau bahkan kau tinggal di dalamnya, kau akan merasakan sebuah kedamaian. Kedamaian yang bukan hanya dari lingkungannya yang banyak berjejeran pohon oak atau udara segar setiap harinya saja, tetapi juga kedamaian hidup para peri di dalamnya.

Freenia. Sebuah kerajaan yang menjadi tempat berkumpulnya para peri dari berbagai jenis bangsa. Sebut saja ada bangsa Elf, Half Elf, Dhan, dan masih banyak lainnya yang hidup tentram di sana. Ah, terkecuali bangsa Dark Elf. Mereka memiliki tempat khusus di Desferinea.

Peri-peri di sana hidup dengan sangat rukun. Walau bangsa mereka berbeda-beda, mereka tidak akan segan untuk saling berkomunikasi dan membantu di kala sedang kesulitan. Itu dikarenakan ajaran dari Marea, ratu mereka yang mengajarkan untuk hidup damai dan saling bahu membahu. Bukankah peri diciptakan untuk saling menguntungkan? Dan ajaran tersebut Marea sebarkan melalui sekolah yang diciptakannya, yaitu Via Marea.

Senja di ufuk barat merembas menelusup di beberapa bagian jendela di sebuah sekolah yang dinamai Via Marea. Lampu-lampu di sana sedikit demi sedikit mulai dinyalakan untuk menerangi setiap lorong yang ada di dalam bangunan tersebut. Meskipun senja, sekolah itu masih saja sangat ramai oleh siswa yang berlalu lalang. Bukan untuk beranjak pulang, tetapi siswa-siswa tersebut masih sibuk keluar masuk kelas mereka masing-masing bersama buku tebal yang benar-benar melebihi kamus.

Via Marea akan terus ramai diisi oleh para siswa di dalamnya sebelum jam raksasa yang letaknya paling depan di sekolah tersebut berdentang tepat di angka 12. Suara dentangannya yang sangat keras membuat hampir seluruh siswa di Via Marea mengeluh. Selain karena membuat telinga mereka kesakitan, juga membuat mereka semua terpaksa untuk segera keluar dari gedung tersebut. Padahal seluruh siswa di sekolah tersebut begitu terobsesi untuk cepat-cepat menaikkan job mereka. Tujuannya agar mereka bisa diangkat menjadi prajurit di kerajaan Freenia, atau paling tidak menjadi guru di Via Marea. Dua hal tersebut menjadi sebuah impian terbesar bagi seluruh bangsa Elf yang tinggal di Freenia. Dan untuk menaikkan job mereka, itu bukan sesuatu hal yang mudah. Mereka diuji oleh guru-guru mereka, setelah lolos mereka akan diuji kembali oleh prajurit Freenia yang terkenal sangat kuat. Kesempatan untuk menang melawan prajurit itu mungkin hanya 20% saja. Jika kesemuanya telah lolos, barulah kenaikan job mereka diakui oleh Marea.

Lee Hyuk Jae contohnya. Siswa itu baru beberapa bulan resmi bergabung menjadi siswa Via Marea, jobnya pun masih di tingkat Assasin, sangat dasar dan dia begitu terobsesi untuk menjadi bagian dari panglima kerajaan Marea. Dan keputusannya untuk masuk ke Via Marea sangatlah tidak membuatnya merasa rugi selama beberapa bulan ini. Bahkan di tempat ini pun Hyuk Jae akhirnya bisa bertemu saudara jauhnya yang bernama Kang Sura. Ya walaupun sangat menjengkelkan ketika bertemu Sura karena sifatnya yang banyak bicara itu.

Sura bukanlah berasal dari bangsa Dhan seperti Hyuk Jae, melainkan dari bangsa Elf. Tingkat Jobnya masih berada di taraf Healer satu, sangat dasar seperti Hyuk Jae karena dia juga baru beberapa bulan bergabung di Via Marea. Dia sangat beruntung bertemu dengan Hyuk Jae, setidaknya nanti dia bisa memanfaatkan sepupunya itu di kala dia sedang kesulitan selama bersekolah di Via Marea.

Laki-laki berkebangsaan Dhan tersebut kini tampak seorang diri di kelas, mondar mandir dengan matanya yang terpaku pada sebuah buku di tangannya. Mencoba menghapal kalimat tiap kalimat yang berderet di sana karena ujian akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Dia tidak mau dipermalukan karena kekuatannya hanya segitu saja.

Brak!

“Oppa!! Ayo kita latihan bertarung! Kau sudah membawa pedangnya kan?”

Hyuk Jae menarik napasnya dalam-dalam dengan mata terpejam. Buyar sudah semua konsentrasi dan hapalannya karena pintu kelas yang tiba-tiba dibuka dengan kasar dan suara nyaring itu terdengar kembali menyapa sepasang telinganya. Sungguh, Hyuk Jae ingin sekali memakan sepupunya itu hidup-hidup sekarang juga.

“Aku Sibuk. Nanti saja” jawab Hyuk Jae dingin sambil berusaha mengumpulkan konsentrasinya yang sempat pecah dengan kembali memfokuskan matanya pada buku yang ada di genggamannya. Dia sama sekali tak mau menoleh pada sepupunya yang baru saja datang itu.

Kang Sura. Peri paling berisik dan mungkin sangat berisik se antero Via Marea itu merengut ketika mendapatkan jawaban dingin dari sepupunya itu. Dia sudah sangat bersemangat dari rumahnya untuk menghampiri Hyuk Jae di Via Marea demi melancarkan teknik bertarungnya, tetapi kini dengan seenaknya Hyuk Jae menolak ajakannya dan malah kembali pada buku super tebal itu. Sura jelas tidak akan membiarkan Hyuk Jae membuatnya merasa sia-sia telah datang ke Via Marea.

“Ayolah~~~ kau tidak ingin kan sepupu tercantikmu ini dipermalukan di depan semua peri hanya karena aku tidak bisa bertarung dengan pedang di ujian nanti?” Sura mulai merengek. Dia beberapa kali memutari Hyuk Jae untuk memecahkan konsentrasi laki-laki itu.

Tlap!

Hyuk Jae menutup bukunya dengan kasar. Lagi-lagi konsentrasinya pecah karena sepupunya itu. Dia beralih menatap Sura yang ada di depannya dengan sangat tajam. Sedangkan Sura, dia sangat biasa saja. Tidak ada rasa ngeri atau takut karena ditatap sebegitu tajamnya oleh Hyuk Jae.

“Jadi? Kau mau mengajariku kan?”

“Ya sudah ayo”

***

Hyuk Jae memilih pohon oak sebagai tempat untuk Sura berlatih sekarang ini. Tempat ini sangat tepat karena ranting pohonnya yang lumayan lebar, jadi Sura bisa leluasa bergerak. Hyuk Jae sengaja tidak mengajak Sura berlatih di Via Marea karena terlalu ramai dan berisik, itu akan mempengaruhi konsentrasi Sura pastinya.

Suara dentingan pedang milik Sura dan Hyuk Jae yang saling terjulur terus saja beradu satu sama lain. Sura sekuat mungkin berusaha untuk menjatuhkan pedang di tangan Hyuk Jae agar dia diakui sebagai pemenangnya. Tetapi tenaga Hyuk Jae rupanya berbanding sangat kuat daripada Sura, kesempatan Sura untuk menjatuhkan Hyuk Jae mungkin sekitar 0.01% saja karena sejak tadi dengan sigap Hyuk Jae terus mematahkan perlawanan sepupunya itu.

Bukan karena semata-mata ujian saja alasan mereka berdua berlatih pedang. Mereka memang diharuskan untuk mampu membela diri. Tentunya selain kekuatan mereka. Tujuannya agar mereka tak selalu bergantung pada kekuatan masing-masing yang suatu saat nanti bisa dicabut oleh Marea, ratu mereka.

Prang!

Pedang di tangan Sura mendadak saja terlepas dari tangannya dan tergelincir jatuh ke tanah. Membuat gadis itu terkejut lalu seketika merengut kecewa dan mendesah berat. Itu adalah pedang terakhirnya yang dia miliki di lemari sebelum mendapat jatah beberapa minggu lagi.

“Sudah kubilang jangan terlalu keras! Lihat, pedang ke dua puluhku jatuh lagi karenamu!” sungut Sura menyalahkan pria di depannya yang sedang menatap pedang gadis itu di bawah sana dengan tatapan bersalah.

“Maaf” jawab Hyukjae singkat. Dia memasukkan bilah pedangnya ke sebuah kantung yang menempel di punggungnya. “Besok latihan lagi. Aku pergi” ujarnya yang langsung saja pergi melompat melewati ranting demi ranting dengan kakinya yang lincah seperti sebuah pegas.

“yaaa pedangku sudah habis, bagaimana harus berlatih besok?” Sura meneriaki Hyuk Jae yang semakin menghilang. Merasa teriakannya tadi tidak berguna, dia lalu berdecak kesal. “Hha, lihat dia! Dasar tidak bertanggung jawab, tsk” Sura berkacak pinggang. Dia sekali lagi menengok ke bawah, menatap pedangnya yang sudah tak terlihat lagi dengan sedih. Hilang sudah kedua puluh pedang yang dia miliki dan itu semua disebabkan oleh peri yang sama. Lee Hyuk Jae, sepupunya.

-o0o-

Kini kita beralih ke Bangsa Dark Elf tinggal dan hidup di Desferinea. Kerajaan yang letaknya berbatasan langsung dengan Freenia. Jika kau menelusuri Freenia, kau akan menemukan kedamaian serta keindahan, tapi itu sama sekali tak berlaku untuk Desferinea. Ya, Lebih tepatnya mereka bagai dua sisi yang bersebrangan. Freenia yang kau bisa katakan sebagai sisi putih, dan Desferinea sebagai sisi hitamnya.

Semenjak kecil Kim Leeteuk, putra sulung Raja Desferinea, sering menyaksikan sendiri bagaimana dengan kejamnya bangsa mereka saling membantai. Tak jarang tiap harinya berpuluh kepala terpenggal dan darah segar serta bau anyir menyeruak indera penciumannya. Tindakan arogan yang ‘katanya’ merupakan tradisi bangsa mereka tak lain tak bukan berasal dari peraturan konyol yang ayahnya buat. Melanggar atau melalaikan tugas sedikit saja sudah dipastikan mereka akan merenggang nyawa.

Di Desferinea, nyawa bagai hal murah yang dapat dibeli di pasar barang loak sekalipun. Pernah ketika umurnya beranjak remaja, Leeteuk memberanikan diri memprotes ayahnya, Kim Dae Joon. Seolah hati dan otaknya tak sejalan dengan pria tua bengis maupun adiknya Kim Heechul. Ia akan menangis mendapati kepala tanpa tubuh di jalan yang ia lewati, bahkan tak jarang ia meminta bantuan untuk membakar jasad bangsanya yang teronggok tanpa nyawa.

Ia memiliki hati yang akan tersayat jika rakyat mengeluh tak bisa makan. Atau pada prajurit kelelahan yang menjerit karena hukuman cambuk terus menghujani pun ia akan tersentuh. Leeteuk bahkan tak bisa tertawa lepas seperti yang lain ketika mendapati bangsanya kesakitan maupun mati.

Dan karena itu pula akhirnya ia memilih untuk berkelana, bahkan jika bisa meninggalkan bangunan mencekam yang lebih layak dijuluki sebagai sebuah penjara dibanding istana. Menuju desa kecil di pinggiran Freenia yang damai. Tanpa harus mendengar jerit pilu maupun tebasan samurai pencabut nyawa. Tanpa harus menutup hidung menghindari bau anyir yang acap kali menguar.

Ia beruntung telah mendapat job Warlock tingkat akhir sehingga penjaga perbatasan akan segan untuk tak melawan kemanapun kakinya akan melangkah. Setidaknya untuk hal satu ini ia beruntung mendapati diri sebagai anak raja, karena dengan itu aksesnya keluar masuk Desferinea tak menemui kesulitan.

“Kakak malaikat, kau datang lagi?” suara kecil mengejutkan lamunan Leeteuk, seorang Elf kecil dengan buku tebal yang digenggam kedua tangannya memamerkan deretan gigi rapi yang ia miliki.

Leeteuk mengangguk. Mengelus puncak kepala gadis kecil Elf di hadapannya sayang “Ya. Bukankah kita akan melihat prajurit Freenia berpatroli lagi?”

“Hm..hm..” anggukan ceria jelas terpampang.

“Baiklah. Ayo duduk. Aku punya roti besar untukmu sembari menunggu mereka”

Sebuah roti besar muncul dari balik punggung tegapnya. Dengan segera dijulurkannya pada Elf yang kini duduk di pangkuannya. Mengembangkan senyum paling manis yang ia punya.

Sepersekian detik prajurit yang dibicarakan sudah berjejer rapi dengan selonjor pedang di punggung masing-masing. Melewati rumah-rumah kecil di pinggir perbatasan dengan penuh rasa bangga. Tak jarang pula dari mereka tersenyum melihat semua rakyat baik-baik saja. Seperti Han Ryu Ra, satu-satunya prajurit wanita yang berpangkat jenderal di usianya yang masih muda. Ia lah yang memimpin patroli setiap hari, begitu pula hari ini.

Tegas, tak banyak bicara tapi bisa berubah jadi cerewet itulah sifatnya. Di antara prajurit wanita lulusan Via Marea ia lah yang paling menonjol dengan kejeniusan serta kekuatan fisiknya. Meskipun tamat hanya dengan job Priest, ia dikatakan mampu memimpin pasukan dengan baik. Terbukti dengan jabatan jenderal muda yang kini diembannya.

Han Ryu Ra mengulas seyum pada Elf kecil yang melayangkan tangannya ke udara berniat mengisyarat ‘Lakukan tugasmu dengan baik, jenderal!’, dan juga pada pria yang memangku gadis kecil tadi. Yang ia sadari kerap berada di sana saat dirinya melakukan patroli.

Wajah bak malaikat itu mampu menyihir Ryu Ra. Seperti ada yang kurang jika sehari saja senyum tenangnya tak ia lihat. Meski ia sendiri tak tahu siapa dan dimana pria itu tinggal. Pasalnya ia tak pernah berurusan dengan daftar penduduk Freenia atau dengan pencatat sensus itu sendiri.

Lagi-lagi yang bisa ia lakukan hanya tersenyum untuknya, membalas lengkung yang ia claim hanya ditujukan pria itu untuknya. Lalu ia akan kembali pada kenyataan, berlalu menjauh bersama bunyi sepatu serempak dari pasukan yang dipimpinnya. Selalu seperti itu setiap hari. Tanpa pernah ada kata-kata maupun sapaan terucap dari keduanya.

“Mungkin bukan hari ini aku bisa mengajaknya berbicara. Masih ada hari esok, dan jika belum terwujud juga mungkin esoknya lagi. Aku akan terus menunggu waktu itu” harapnya tulus. Disempatkannya lagi menoleh ke belakang, menoleh pada sang malaikat penyejuk jiwanya, sebelum ia dan pasukannya menghilang di belokan.

“Jika sudah besar nanti, aku akan menjadi jenderal seperti nona Han Ryu Ra. Kak malaikat dukung aku ya!” tangan Elf kecil di pangkuan Leeteuk mengepal di udara. Remah-remah roti sedikit berceceran keluar. Binar semangat itu terucap dari matanya yang membara. Membuat Leeteuk tak bisa menyembunyikan lengkung indahnya.

“Tentu. Suatu saat nanti kau akan jadi salah satu prajurit wanita terhebat seperti Jenderal Han” sekali lagi Leeteuk mengusap surai hitam legam yang gadis kecil itu miliki. Sementara sang empunya mengangguk ceria.

-o0o-

Sunset di ufuk barat merupakan fenomena alam yang sangat menakjubkan. Cahaya berwarna jingga menelusup diantara celah-celah cabang pohon oak yang tumbuh rindang, lalu kemudian membiaskannya ke sosok cantik berambut panjang yang tengah berdiri diambang jendela kamarnya. Sehingga tubuhnya kini terlihat bercahaya, karena gaun tangan panjang namun memiliki belahan dibagian bahunya, dengan bahan sutra berwarna putih menyala bak intan permata.

Dialah Park Chae Rin, sang putri dari ratu bangsa elf, Park Marea. Tumbuh besar dengan didikan penuh ketegasan, serta kebijaksanaan demi mengemban tugas yang suatu hari nanti akan diwariskan padanya, membuatnya selalu serius dalam menilai sesuatu. Jangankan untuk tertawa lebar, tersenyum pun sangat jarang. Hanya satu orang yang bisa membuatnya sedikit terlihat lebih santai, orang itu adalah Kang Sura, teman seprofesi dalam akademi Via Marea, akademi yang didirikan oleh eommanya sendiri. Karena tidak ada pengecualian, semua bangsa elf diwajibkan menimba ilmu sebanyak-banyaknya demi mempertahankan bangsa, tak terkecuali seorang putri ratu sekalipun.

Setelah matahari tak terlihat lagi, Chae Rin segera menutup jendela kamarnya. Dan mulai menanggalkan pakaian yang sebenarnya kurang disukainya. Ia menggantinya dengan sebuah jubah hitam, yang memiliki tudung kepala. Tak lupa ia juga mengambil pedang kesayangannya. Setelah itu, diam-diam ia mulai keluar dari kamar, menuju tempat dimana ia biasa melatih kemampuannya. Tanah lapang yang ada di belakang istana Freenia.

Langkah Chae Rin terhenti saat mendengar suara derap kaki dibelakangnya, namun saat ia menoleh, ia tidak menemukan seorangpun di sana. Ia melanjutkan langkahnya kembali, namun baru selangkah ia langsung berbalik seraya menghunus pedangnya ke arah depan. “Yakkk !!!! Ini aku, ini aku, Cho Kyuhyun. ”

Chae Rin pun menurunkan pedangnya dan melanjutkan langkahnya kembali -lagi- “Berhentilah mengikutiku !” Ujarnya dingin.

“Tidak bisa, sudah kewajibanku melindungimu, tuan putri. ” Jawab Kyuhyun yang masih saja membuntuti Chae Rin. Ya, Cho Kyuhyun memang sudah mendapatkan tugas khusus dari sang appa, yang menjabat sebagai Panglima Istana, untuk melindungi putri ratu. Jadi tidak heran, jika dimana ada Chae Rin, disitu pasti ada Kyuhyun.

“Berhenti memanggilku tuan putri. Ini diluar istana. ” Tolak Chae Rin yang kini sudah berhenti melangkah, karena ia telah sampai ditempat tujuannya.

“Ya, baiklah, Chae Rin-ah putri ratu Park Marea. ” Chae Rin hanya memutar bola matanya sebal mendengar celotehan Kyuhyun. “Biarkan aku menemanimu berlatih seperti biasa. Karena biar bagaimana pun, ilmumu dua tingkat dibawahku. Kau Healer dan aku Templar. Setidaknya kau membutuhkan lawan yang menguasai job Healer seperti a..,- ” Ucapan Kyuhyun terhenti saat ujung pedang Chae Rin menyentuh hidungnya.

“Aku tidak butuh lawan yang nyatanya hanya banyak bicara sepertimu. ” Ujar Chae Rin penuh penekanan. “Cepat angkat pedangmu dan lawan aku !”

PRANG !!

Selanjutnya hanya terdengar suara pedang beradu, ditengah pohon oak, yang kini mulai menampakkan hewan cantik pemilik cahaya malam. Seakan mereka tengah asyik menyaksikan kedua lawan jenis sedang berlatih pedang, mengasah kemampuan.

-o0o-

keesokan harinya. Yoo So Yun, Peri cantik yang terkenal kalem itu kini sedang duduk bersandar di salah satu ranting pohon oak seorang diri, sambil mengayun-ayunkan kakinya yang menggelantung itu. Dia menengadahkan kepalanya, menatap langit siang yang cerah dibalik ranting-ranting yang berusaha menghalangi jalan masuknya cahaya matahari terik tersebut.

“aboeji, cepat pulang. Aku merindukanmu” lirihnya seakan menyampaikan pesan lewat semilir angin yang ada disekitarnya. Dia kemudian tertunduk, matanya memandangi busur panah yang sedari tadi dia pegang, senyumannya pun timbul mengingat siapa yang membuatkan busur panah itu untuknya. Ayahnya.

So Yun selama ini memang hidup berdua bersama ayahnya yang seorang prajurit aktif di Freenia, beliau menjaga perbatasan Freenia agar terhindar dari serangan-serangan luar atau bahkan Desferinea. Selama ayahnya betugas, So Yun hanya melalui hari-harinya sendirian. Ayahnya hanya pulang 3 hari sekali, bahkan beliau pernah tidak pulang selama berminggu-minggu karena pengabdiannya pada Freenia. Ibunya telah merenggang nyawa ketika melahirkannya dulu. Maka dari itu, selama hidup So Yun tak akan pernah jauh dari kata ‘kesepian’.

Gadis itu sekarang berjalan melewati akar-akar pohon yang timbul dari tanah, sudah waktunya dia berlatih di Via Marea untuk kenaikan tingkatnya, karena tingkatnya masih di healer, tapi So Yun punya kemampuan memanah yang cukup bagus. Karena sedari kecil So Yun sudah diajarkan memanah oleh sang ayah untuk menjaga diri ketika dalam bahaya, atau hanya sekedar memburu hewan.

So Yun berlari kecil menuju lapangan memanah yang ada di Via Marea, lapangan dengan rumput hijau dan pemandangan yang indah karena lokasinya yang berada diketinggian 250 m dari tanah, mungkin bisa disebut bukit yang terdapat jurang dibawahnya. dipunggungnya sudah terpasang anak-anak panah yang siap menghunus objek panahannya yang berjarak 100 m dari tempat dia berdiri.

So Yun sudah bersiap, dia mengambil satu anak panah yang ada dipunggungnya, lalu gadis itu mengaitkan ujung panah pada busur dan menarinya kebelakang, sebelah matanya di kedipkan mencoba melihat sasarannya dengan jelas. Sudah dirasa ‘pas’, So Yun segera melepaskan anak panahnya dan Hap! anak panah itu tepat menghunus bulatan merah yang ada di tengah sasaran panahannya. So Yun tersenyum puas.

***

Di sela-sela tugasnya untuk mengawasi siswa-siswa Via Marea, Dari kejauhan Donghae diam-diam tersenyum melihat hasil panahan So Yun. Dia tak menyangka gadis lemah lembut dan keras kepala itu dapat memanah sehebat dan setepat itu. Gadis yang masih dalam tahap Healer itu bisa saja cepat naik tingkat jika kemampuannya sebagus itu dan begitu pesat. fikirnya.

Donghae merupakan putra dari Panglima besar, Lee Dae Young. Dia juga lulusan dari Via Marea dengan job templar dan merupakan Jendral muda dan tampan. Saking terkagum-kagumnya dengan kemampuan memanah So Yun, dia tahu jika So Yun merupakan anak dari Salah satu Prajurit ayahnya yang menjaga perbatasan.

Donghae sesekali melihat, mengawasi dan mengajari siswa-siswa via marea dalam strategi berperang, bahkan dia juga sering menguji kemampuan siswa via marea dengan cara bertarung. Sangat jarang pertarungannya di menangkan oleh siswa via marea.

“cobalah belajar menggunakan pedang, tak selamanya kau bisa mengandalkan busur panahmu itu!” teriak Donghae yang disambut dengusan kesal dari So Yun karena pria itu selalu saja merecokinya ketika sedang berlatih.

-o0o-

Sang mahkota raja yang menyinari dunia kala pagi hingga sore telah kembali keperaduannya, beristirahat dengan tenang di ufuk barat, bersiap untuk menyambut esok yang berat. Kini sang permaisuri lembut dengan sinarnya yang malu-malu bersinar di kegelapan malam, memberi secercah cahaya dalam dingin dan sunyinya malam, menggantikan kehangatan sang mahkota raja.

Malam hari di Freenia selalu tenang dan damai, lampion-lampion serta lentera dari rumah penduduk menjadi pemandangan yang menyejukan mata, sayup-sayup terdengar lolongan serigala tersesat yang sedang mencari kawanannya dari kejauhan , bercampur dengan suara merdu binatang malam lainnya mengisi keheningan dan kedamaian malam di Freenia- tempat para Elf tinggal.

Di suatu sudut tempat di Freenia, terdengar dentingan katana yang saling beradu, bergesekan menjadi melodi lain yang menghiasi keheningan malam. Di sebuah dojo, terlihat dua orang berpakaian serba hitam, dengan pelindung kepala yang hanya menampakan bagian mata tengah beradu sengit, saling mengayunkan pedang, menangkis dan menyerang tak mau kalah.

Salah seorang pemuda yang lebih pendek, mengangkat katana tinggi-tinggi dan melayangkannya kearah kepala lawan. Seakan sudah bisa membaca pergerakan lawan bertarungnya, pemuda yang lebih tinggi mengambil satu langkah mundur dan menangkisnya dengan cepat sebelum katana yang tajam itu merobek kepala maupun otaknya.

Tidak tinggal diam, pemuda yang lebih tinggi, mendorong dengan kuat katana sang lawan dan dengan sigap ia mengayunkan katana miliknya, mengarahkan benda tajam itu ke pergelangan tangan kanan yang dengan cekatan sang lawan melangkah menjauh menghindari serangan bertubi yang pemuda tinggi lancarkan.

Pertarungan semakin sengit, sang pemuda yang tidak lebih tinggi kembali melesatkan serangan telak, ia mengangkat katananya sampai di atas kepala dan dengan sedikit gerakan manipulatif katana itu melesat menuju bagian kiri perut lawannya. Jika kau teliti secara jeli, sebuah seringai kemenangan terpatri di bibir sang pemuda. Merasa bahwa serangannya kali ini akan berhasil dengan sempurna. Yah- dia akan mengalahkan pemuda itu. Harus!

Katana itu hampir menengenai perut kiri lawan namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan karena lawannya dengan gesit mundur sebelum katana miliknya sempat merobek perut. Lengah- pemuda yang lebih jangkung memanfaatkan situasi, kembali diayunkannya sang katana di atas kepala dan dengan gerakan yang cepat dan ringan ujung katana milik pemuda itu sudah berada satu centi dari lehernya membuat pemuda yang tak lebih tinggi menahan napas.

“Yaa, kau ingin membunuhku?” teriak pemuda yang lebih pendek sambil melepas pelindung kepalanya setelah pemuda dihadapannya menarik ujung katana menjauh.

“Kau lengah, teledor, dan refleksmu lemah.” Jawab pemuda yang lebih tinggi, melepas tudung pelindung kepala dan menyarungkan katananya kembali.

“Tapi itu bisa membunuhku, Kim Kibum! Kita berlatih dengan pedang sungguhan bukan pedang mainan yang terbuat dari bambu yang lentur!” Tak mau kalah, pemuda yang lebih pendek dengan surai kemerahan kembali melontarkan kalimat protes, ia masih sebal dengan aksi lawan yang notabene adalah sahabatnya sekaligus lawan bertarung dalam latihan pedang.

“Bukan salahku jika aku dapat membunuhmu, kau yang menciptakan celahmu sendiri lagipula kau yang memulai duluan menggunakan teknik itu, Henry.”

Henry mendengus, sudah 219 kali ia kalah bertanding dengan Kibum, tak pernah menang atau seri sekalipun. Ia maklum, walau sebal bukan main tapi ia tetap berlapang dada menerima kekalahan mungkin belum rezeki, pikirnya.

“Ya, baiklah. Lagipula mungkin aku hanya akan mati jika bertemu lawan sepertimu saja.” Henry menghampiri Kibum dan duduk mensejajarkan dirinya dengan tembok di belakangnya. Sedikit mengumpat karena pantatnya beradu dengan lantai marmer dojo yang dingin, diperhatikannya sang lawan tanding yang sedang membersihkan katananya dengan saputangan sutra berwarna putih. “Kau bertambah kuat saja akhir-akhir ini.” Henry mendengus, memandang sahabatnya yang clean freak itu. Masih fokus membersihkan katananya.

“Aku hanya melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan.” Jawaban bernada datar yang sudah dihafal Henry di luar kepala. Iris matanya tak sengaja mengamati katana yang berada di pangkuan Kibum. Henry mengernyitkan dahi. Pegangan sewarna hitam dengan kombinasi kuning keemasan, matanya membelalak kaget ketika melihat sarung katana tersebut, sebuah ukiran gambar naga yang timbul.

“Pedang ini, jangan bilang ini milik paman Kim, mantan jendral perang sekaligus ahli strategi terkuat di Freenia!” ucap Henry berapi-api, ia benar-benar tak percaya bisa melihat benda legendaris turun-temurun itu.

“Kau tahu?”

“Tentu saja, jangan remehkan aku! B-bagaimana bisa kau mendapatkan pedang ini? Kau mencurinya?!” tuduh henry.

“Kau lupa margaku, heh Henry Lau?” nada sarkastik sebagai balasan. Ya- Henry melupakan sebuah fakta lain. Kim Kibum pemuda sebaya dengannya, tingkat akhir job Templar di Via Marea. Pemegang rekor terbaik nilai akademis maupun non-akademis. Seorang putra tunggal penasehat Kim-tangan kanan Ratu Marea. Pemuda dingin dan misterius yang pesonanya tak pernah luntur di mata para penggemarnya yang juga menjadi kandidat terkuat ahli strategi termuda di Freenia. Berpuluh prestasi gemilang ia miliki, namun Henry tahu Kibum tidak terlalu mempedulikannya.

Bagi Kibum, harta, gelar dan kekuasaan sudah tiada artinya lagi, entah kenapa. Pria yang belum pernah ia ketahui kisah percintaannya atau apakah Kibum belum pernah jatuh cinta? Semua masih menjadi misteri dalam diri pemuda sedingin es di pegunungan utara Freenia itu.

Henry menghela napas berat, mengingat semua tentang Kibum membuatnya iri dan selalu bertanya-tanya. “Sudah tengah malam, aku pulang dulu. Ayah asti menggantungku jika tidak menemukan anaknya sudah terlelap di kasur yang empuk.” Henry menepuk pundak Kibum pelan sebagai salam perpisahan.

Kibum mengalihkan fokusnya sejenak untuk menatap henry disertai sebuah anggukan sebagai jawaban. Suasana kembali hening, suara lolongan serigala sudah tak lagi terdengar-mungkin serigala itu telah menemukan kawanannya kembali. Suara katak dan jangkrik hilang entah kemana. Sayup, hanya terdengar suara burung hantu. Kibum masih menyibukan diri dengan katananya, sesekali ujung matanya melirik ke samping. Ke arah pintu dojo.

Pemuda bersurai hitam itu menghela napasnya perlahan. “Keluarlah.” Ucapnya dingin. Hening. “Siapapun kau yang berada dibalik pintu, keluarlah sebelum katana ini menusuk jantungmu.” Iris obsidian mengalihkan pandangan kearah pintu masuk. Siluet tubuh manusia tergambar jelas di lantai.

Beberapa detik kemudian, seorang gadis yang masih mengenakan seragam Via Marea muncul dari balik pintu. Surai hitamnya diikat ponytail, jubah hijau tua dengan lambang dua sayap yang berbeda warna di punggung membalut tubuhnya yang kecil. Tak luput dari pandangan Kibum, ia melihat busur dan anak panah di balik punggung gadis itu. Iris sewarna madu menatap Kibum dengan pandangan tak berdosa, tersenyum salah tingkah diambang pintu sambil menggaruk tengkuk-yang terlihat seperti penguntit yang tertangkap basah.

“Half Elf?” ucapKibum dengan sedikit nada tanya.

“B-bukan, aku Elf dengan job Templar.” Jawab gadis itu terbata-bata.

Kibum mengamati penampilan gadis dihadapannya dengan tatapan menyelidik, sedangkan gadis yang diamati mulai risih dan melihat penampilannya sendiri-tidak ada yang aneh- pikirnya. “Oh.” Dijawab singkat dan gadis itu mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

Gadis itu mendekati Kibum dan mengamati katana yang berada dalam pangkuannya. “Aku tadi melihatmu berlatih. Luar biasa! Permainan pedangmu sangat indah!” Gadis bersurai hitam berucap dengan berapi-api, iris sewarna madunya berbinar keemasan.

Sebelah alis pemuda dingin itu terangkat. ‘Indah?’

“Ajari aku bertarung menggunakan pedang sunbaenim!” teriaknya antusias, sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam pemuda dihadapannya. “Ah, perkenalkan namaku Shin Nichan, Templar tingkat satu di Via Marea. Mohon bantuannya sunbae!”

Kibum mengerutkan kening. “Templar? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.” Nada menyelidik-lagi-

“A-ah, ahaha.. i-itu.. karena aku sering membolos dari kelas.” Gadis bernama Shin Nichan itu tertawa canggung. Kibum melemparkan salah satu katananya kearah Nichan, yang ditangkap gadis itu dengan bingung. “Eh?”

“Kau ingin bertarung kan?”

“Eh, b-bukan aku ingin be-“ Belum sempat Nichan menyelesaikan kalimatnya, Kibum sudah melesatkan katananya kearah kepala Nichan yang dengan refleks cepat gadis itu menahannya. “Kau ingin membunuhku?!” bentak Nichan kasar mendorong sekuat tenaga katana Kibum yang berada tepat di atas kepalanya.

Sebuah lengkungan tipis tercipta di bibir pemuda Kim- nyaris tak terlihat. Ia menurunkan katananya dan menyarungkannya kembali. “Refleksmu cepat. Kuapresiasi itu. Kau dapat menggunakannya untuk melindungi diri saat terdesak.” Kibum berjalan menjauhi Nichan, berjalan kearah keluar.

“Eh tunggu! Aku belum belajar apapun!” teriaknya kesal, merasa diremehkan.

Kibum berhenti melangkah, dan memutar tubuhnya menghadap Nichan sambil bersedekap tangan. “Kau hampir kubunuh dan masih memintaku untuk mengajarimu? Masochist.”

Keras kepala dan tersulut emosi karena mengingat kejadian itu, Nichan kembali berteriak kali ini lebih keras dan lantang dari sebelumnya. “Aku bukan masochist! Aku hanya meminta tolong padamu untuk mengajariku. Apa susahnya?”

He? Gadis ini berani membentaknya? Kibum membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan keluar dari dojo. Sebuah senyum tipis tercipta di bibirnya. “Aku akan terus datang ke sini setiap malam untuk menunggumu mau mengajariku berlatih. Ingat itu-hei sunbae!”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s