Another Sense [Oneshoot]

Another Sense [Oneshoot]

12022344_426237874241705_5101083415518470252_o

Title: Another Sense
Cast: Lee Donghae, Song Min Seo
Genre: Angst, Romance, AU
Length: Oneshoot
A/N: AnnyeongHAESEO! ^^ okay timpuk saya krn Breathe belum kelar tp bikin FF lain. Ini oneshoot dan jgn tagih apapun entah sequel atau dari POV lain, hutang Breathe cukup membuat otak saya sedikit gesrek wkwk. Pelepasan untuk otak saya yg gesrek ini mah haha *plak
WARNING; lot of typo, diksi tanpa arah jalan pulang, tidak sesuai harapan kalian saya tidak bertanggung jawab *loh
All was Lee Donghae’s POV

~~~

Story Begin..

2011

Aku menengadah langit. Cerah. Biru pekat tanpa celah cumulus terpampang di depan iris cokelatku.

Semilir bayu datang begitu cepat. Menerbangkan surai hitamku dengan semaunya. Kueratkan rengkuhan pada wanita yang telah resmi jadi pendamping hidupku. Song Min Seo, ah bukan. Lee Min Seo.

Ia tergelak saat jemariku mulai lancang menggelitikinya. Min Seo adalah orang yang tidak tahan dengan gelitikan. Dan kurasa tidak ada salahnya kan sedikit mengerjai nona cantikku ini?

“Kumohon berhenti oppa haha. Aku.. Aku–” ia mulai meracau dalam kungkunganku. Kuraih tangan porselennya, membalikkan badan mungil yang terasa pas denganku. Setiap bagian tubuhnya memang diciptakan untukku. Lengkung manis kembali kuciptakan.

“Kau akan menyukai ini” ujarku membenarkan letak surainya yang menari terbawa bayu. Kami berlarian di atas deck, yang kurasa orang lain tak memperdulikannya. Ah aku lupa, kami sedang liburan di sebuah kapal pesiar mewah.

Aku merengkuhnya -lagi tepat saat kaki-kaki kami menginjak lantai ujung belakang kapal. Matahari cukup tinggi, angin yang berhembus kencang serta samudera biru. Kurasa tak ada yang lebih indah selain ini.

Ia balas memelukku, meletakkan kepalanya sendiri di depan dada bidangku. “Apa kita sudah berada di ujung dunia sekarang?” ia terkekeh mengabsen sekeliling. “Hanya ada samudera luas tanpa daratan. Uh, untung saja aku tidak mabuk laut”

Kupererat letak tanganku di pinggangnya. Menyunggingkan lengkung kecil menyetujui perkataanya. Dia adalah wanita kuat. Dan aku menyukainya.

Cipratan air mengenai kami berdua. Min Seo langsung berbalik, cepat-cepat menatapku kaget. Aku menggedikkan bahu. Lagi-lagi cipratan itu mengguyur kami.

“Hei” ia merendahkan tatapannya. Dua ekor mamalia, lumba-lumba, mengikuti kapal. Menunjukkan kebolehan mereka melompat ke udara sembari menyembur air garam itu lagi. Min Seo terkikik geli.

“Aku tidak tahu kencan kita akan diganggu dua ekor lumba-lumba” ucapku tenang -tepatnya mencoba bersikap tenang. Hey, aku kan tidak menyuruh dua hewan lucu itu menyita perhatian istriku tercinta? Tch.

***

2012

Banyak dokumen bertumpuk di meja kerjaku. Seharusnya aku hanya perlu membubuhkan tanda tangan setelah sekertaris membacakan inti dokumennya untukku. Belum lagi rapat yang menyita perhatianku. Dan kuharap otakku tidak akan pensiun karena kupaksa bekerja lebih berat dibanding hari biasanya.

Kuambil satu dokumen cepat, membaca rangkumannya cepat dan membubuhkan tanda tanganku dalam tempo cepat pula. Waktu adalah uang, itu yang selalu ditanamkan almarhum ayahku. Kugosok sebentar leherku lalu melanjutkan pekerjaan lagi. Hari yang panjang.

Kudengar teriakan sekertarisku menggema antusias dan setelahnya pintu ruang kerjaku dibuka keras-keras. Aku baru saja hendak mencopot sepatu lalu melemparnya ke siapa saja yang membuyarkan konsentrasiku jika saja ia tidak memelukku sangat erat. Ya, istriku. Lee Min Seo berlari dan tanpa permisi memelukku dengan sangat kencang. Ingatkan aku bahwa kekuatan pelukan yang dimiliki istriku mungkin dapat membuat orang sesak napas.

“Nyonya Lee, kau sungguh mengacaukan konsentrasi Presiden Direktur Lee Corporation dengan perbuatanmu” ucapku sedikit menyindir dengan nada manis. Ia menarik tangannya dari pinggangku berujar maaf.

Aku menggeleng pelan mengajaknya duduk di sofa. “Tak apa, kau adalah istriku sayang. Katakan apa yang membuatmu memelukku seperti tadi”

Ia menggigit bibir ranumnya. Mata hazel miliknya berkilat bahagia. “Aku hamil oppa kau tahu, ia bahkan sudah tumbuh di dalam sini selama lima minggu. Ya Tuhan aku bahagia sekali” -ia menuntun tanganku mengusap perut datarnya.

Lidahku kelu. Senyum tentu saja menguar dari bibirku. Untuk pertama kalinya dadaku menghangat, menyeruak bahagia bahkan rasanya jauh lebih dari pada reaksi yang kutunjukkan saat Min Seo menerima lamaranku. Terimakasih telah menjawab do’a kami Tuhan.

Kali ini aku merengkuhnya dalam. Bahkan sebuah air bening meluncur bebas dari sudut mataku ke bahunya. Yang kugumamkan hanya ucapan terima kasih, aku mencintaimu, dan aku akan jadi ayah. Berulang-ulang dengan kecupan-kecupan ringan.

Hidupku benar-benar sempurna.

***

2013

Musim dingin masih berlangsung saat ia meringis kesakitan memeluk lenganku. Ketubannya pecah kata salah seorang maid di rumahku satu jam lalu, setidaknya itulah yang terus berdengung di kepalaku. Kami berada di rumah sakit setelah perdebatanku dengan mobil sialan yang tak dapat melaju kencang di antara salju usai.

Ia memeluk lenganku intens. Aku tahu ia takut darah dan ya, yang kutahu melahirkan akan melibatkan benda cair berbau anyir itu kan?

Sejujurnya tubuhku menegang saat rintihannya terdengar putus-putus. Seorang dokter wanita terus menyemangatinya sementara aku membeku. Aku, Lee Donghae bersumpah, menemani wanita melahirkan justru lebih menegangkan dibandingkan bergulat dengan seorang ahli sumo.

“Tuan. Tolong bantu beri semangat untuk istri anda!” suara dokter dan beberapa perawat menyentakku. Bagaimanapun aku ada di ruangan ini bersama wanitaku. Aku mengangguk.

Aku mengelus puncak kepalanya sayang. Kudekatkan bibirku ke telinganya “Bertahanlah sayang. Ini impian kita, kau pasti bisa”

Dan selang beberapa menit suara tangis menggema memadati ruangan. Aku menangis lagi. Ayah, aku telah menjadi seorang ayah sekarang! Kau pasti tersenyum dari surga untukku kan?

Kukecup dahinya singkat. Nafasnya sedikit tersengal kelelahan. Tuhan, sekali lagi kau memberikan karunia lebih untukku. Terima kasih.

***

“Min Seo-ya..”

“Tidak oppa” ia menyilangkan kedua tangannya, menyidekapkannya di dada. Memberikan tatapan mematikan yang entah sejak kapan dimiliki wanita cantikku ini.

Aku mendengus kasar lagi-lagi. Ia kembali berjalan mendahuluiku. Demi Jong Woon hyung yang berkepala besar, ini hanya tentang membeli kereta bayi untuk Haru, anak kami. Tapi seperti yang pernah kukatakan, ia adalah wanita yang perfeksionis, segalanya harus sesuai keinginannya.

Dan di sinilah kami, di mall ke lima dan sudah sepuluh -sebelas dengan yang terakhir- toko peralatan bayi namun satu pun tak ada yang menggugah hatinya. Ini belum seberapa jika dibandingkan persiapan pernikahan kami dua tahun lalu, -ia bahkan menghabiskan waktu dua puluh hari hanya untuk menentukan rancangan dan bolak-balik mencari desainer sebelum akhirnya mantap memakai jasa Yuri.

Kulangkahkan kakiku panjang-panjang mensejajarkan langkah cepatnya. Ia bahkan tidak merasa lelah sedikitpun padahal ia memakai heels yang kuperkirakan tingginya 10 cm.

“Min Seo sayang, ini hanya masalah kereta bayi” -aku membuka pintu samping kemudi mempersilahkan wanitaku masuk. Ia tak menjawab membiarkanku duduk kembali di kursiku.

Diam. Bahkan ia tak berniat menanggapi ocehanku sama sekali. Kunyalakan audio mobil dengan tangan kiriku yang bebas. Segera terdengar lagu berirama beat-pop mengalun keras, menghentak-hentak dashboard mobil karena volume yang lupa kusetel ulang. Sial. Audio mati sebelum aku mengganti lagu, -ia mematikannya.

Aku menghela nafas saat ia berbalik menatap jalan raya. Sungguh aku lebih memilih mencium anak harimau dibandingkan harus didiamkan oleh macan -MAma CANtik maksudku.

“Aku..” kugosok leherku perlahan, nyatanya ia tak kunjung berbalik menatapku. Oh Tuhan. “Aku minta maaf”

-Ya benar. Terima kasih lidah, kau bekerja sama baik dengan otakku.

Sial. Ia masih tak bergeming barang sedikitpun.

Kuputar setirku ke kiri menyisir jalan cukup lengang sore ini. Tak ada musik, tak ada ocehan cerewet ataupun manjanya. Hanya pemandangan biasa, pertokoan, halte bus, lampu merah.. Ini adalah perjalanan paling buruk kurasa.

Kugerakkan tangan bebasku menyentuh tangan putihnya. Lampu lalu lintas memberikanku akses lebih. Baru kali ini aku berterima kasih dengan lampu sialan itu.

“Min Seo-ya aku benar-benar minta maaf” segera kupalingkan wajah masam istriku ke arahku. Aku bersumpah kecantikannya bertambah berkali lipat di saat seperti ini. “Ya sudah baiklah, selanjutnya kita akan ke mall mana?” kumainkan jariku meremas jemari porselennya. Pasang wajah manismu Donghae, ini tidak sulit.

Senyum sumringah muncul di wajahnya. Lekuk sama yang kulihat saat pernikahan kami berlangsung pun ketika tangis pertama Haru menggema.

“Ke mall yang pertama oppa, kurasa aku menyukai kereta yang sama-sama kita tunjuk tadi” ia memamerkan gigi rapihnya.

Aku mengangguk mengiyakan. Kepalan tinjunya melayang di udara. Dan lagi, lengkung sabit kembali jadi penghias di paras ayunya.

Tunggu. Tadi dia bilang apa? Mall pertama?

APA?

-Tenangkan dirimu Donghae. Pikirkan kepala besar Jong Woon hyung, jambang Siwon hyung, panci kreditan Ryeowook.

**

2014

Tak ada yang lebih menyenangkan selain membawa keluarga kecilmu piknik. Sederhana, hanya mengajak ke kebun binatang dengan bekal yang repot-repot dipersiapkan dari rumah. Tapi itu sungguh benar-benar berharga untuk seorang Presdir sepertiku.

Aku mengangkat Haru tinggi-tinggi. Tawa renyahnya sungguh menenangkan. Buru-buru kuturunkan jagoanku sesaat setelah cubitan keras melayang di pinggangku. Siapa lagi jika bukan Min Seo pelakunya?

Kugendong Haru di atas bahuku. Kubiarkan tangan mungilnya berpegangan pada surai tebalku sementara aku memegangi kakinya erat.

“Go Papa!” teriaknya antusias sesaat setelah kunjungan kami ke anjungan buaya selesai. Kurasa jagoanku memang tak menyukai buaya.

Lee Haru berumur satu setengah tahun dan baru belajar berjalan. Ia termasuk balita yang lancar bicara dahulu dibanding kemampuan berjalannya.

Miniaturku sekarang jadi pemegang kemudi. Kudengar kikikan lolos begitu saja dari bibir tipis Min Seo.

“Kurasa kau mendidiknya menjadi seorang diktator sayang” aku masih melangkah mengikuti kemauan Haru untuk berhenti di anjungan kandang harimau.

Min Seo mencubitku -lagi dan deraian tawa membuncah setelahnya. “Dia bertingkah atas kemauannya sendiri tuan Lee Donghae”

“Papa, come on. Go! Go!” Aku cinta anakku ini.

Dengan tempo cepat kuganti langkah pendekku dengan jangkah panjang. Haru tergelak karena badannya ikut bergoyang bersamaan langkah cepat yang kuambil. Jangan tanya Min Seo karena ekspresinya, ya dia mengerucutkan bibirnya. Bermuka masam dan tentu saja menyeramkan. Oh sayang, ini demi Haru!

**

“Haru-ya, papa lelah. Digendong mama saja ya?” Min Seo mencoba menggapai Haru yang masih betah memeluk kepalaku sejak satu setengah jam lalu.

Dapat kurasa Haru menggeleng keras. Ia mempererat pelukannya di leherku.

“Biarkan saja” potongku cepat. Kami beristirahat di bawah pohon Oak rindang.

Min Seo mengeluarkan dua kotak bento dan satu botol susu saat aku memindahkan Haru ke pangkuanku. Kuraih botol susu bergambar singa, memberikannya pada Haru segera setelah kubuka penutupnya. Ia langsung menyambarnya dengan senyum lebar. Menandaskan minuman favoritnya dalam diam.

Aku menyumpit sebuah telur gulung dan segera mengunyahnya. “Mm, masakanmu enak seperti biasa”

“Habiskan dulu baru berbicara. Kau bisa ditegur Haru karena tak mengindahkan pasal dua puluh tujuh undang-undang tata krama saat makan”

***

2015

Tuhan memberikanku sebuah karunia lagi tahun ini. Di usiaku yang ke dua puluh sembilan dengan status beristri dan memiliki anak satu, aku sudah memiliki perusahaan inti -warisan ayahku dan sekarang aku mampu menciptakan anak cabang baru yang benar-benar hasil jerih payahku sendiri.

Min Seo kembali mengajar setelah mempercayakan ibuku merawat Haru. Dengan dalih beliau bersedia pindah ke rumah kami tentu saja. Beliau kesepian karena dua putranya sama-sama sudah berkeluarga. Bedanya, kakak memilih menetap di Kyoto bersama istrinya Lee In Young dan dua anak mereka. Sedangkan aku mengambil alih bisnis ayah.

Aku tersenyum menatap foto keluarga kecilku. Aku, Min Seo dan Haru. Mereka benar-benar seperti malaikat yang melengkapi kehidupanku. Kukecup lagi bingkai foto itu sebelum akhirnya kembali memusatkan pikiran dengan setumpuk laporan yang membutuhkan perhatianku.

**

October 10, 2015

Ponselku bergetar di atas meja kantor. Membuat beberapa dokumenku ikut bergetar juga dibuatnya. Kuraih benda pipih keluaran vendor Apple menggeser tombol hijau yang tertera di sana.

“Apakah seorang guru honorer di sekolah dasar elit mengganggu pekerjaan Presiden Direktur Lee Corporation saat ini?” dapat kudengar Min Seo terkekeh. Lengkung bulan sabit muncul begitu saja. Aku bahkan lupa dengan laporan-laporan yang belum kutanda tangani.

“Tidak sayang. Harusnya kau hanya perlu menjadi nyonya besar dan menyerahkan semua kebutuhanmu di pundakku” ya. Aku tahu dan bahkan sangat tahu ia adalah wanita keras kepala. Tunggu saja penolakan-

“Tidak. Karena menjadi pengajar adalah cita-citaku”

-aku benar kan?

“Mm, lalu apa yang membuat istri cantikku menelepon saat seharusnya kau mengajar hm? Apa aku berhasil membuatmu mengandung adik untuk Haru?” aku melangkah dari kursi kerjaku. Menatap jendela dan segala panorama di bawah. Kubenarkan letak dasiku yang mulai terlihat kusut.

“Bagaimana ya..” Min Seo menggantungkan kalimatnya. Aku tahu ia berusaha tak memutar matanya sekarang. “… Tapi tebakanmu sayang sekali meleset suamiku”

Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan kalimatnya. “Apa kau keberatan jika aku mempersiapkan pesta kecil untuk ulang tahunmu? Aku tahu ini bukan ide yang bagus tapi Haru terus mendesakku. Kurasa ia sedikit cemburu dengan sepupunya Song Mingyu karena ulang tahun adikku Minho dirayakan beberapa bulan lalu” kudengar ia mendesah kasar nafasnya.

“Aku setuju. Lagipula cuti satu hari untuk Presdir sepertiku tak apa kan?” nada suaraku kubiarkan sedikit jenaka dengan aksen yang kubuat-buat.

Ia tertawa dari seberang. Sungguh menyenangkan mendengar tawa renyahnya seperti ini. “Baiklah Tuan Presdir. Kau bisa melanjutkan dokumenmu dan ah ya aku ada kelas sekarang”

Sambungan terputus setelah kami sama-sama melempar kata perpisahan. Seberkas senyum terpetak jelas dari bibirku. Aku benar-benar mencintai hidupku.

###

“Papa” pria kecil yang mirip denganku beringsut naik ke ranjang king size kamarku. Kelelahan nampak jelas di mata sipitnya.

“Boleh aku tidur denganmu?” ujarnya mengucek mata. Ia menguap.

Aku mengangguk mengiyakan. Membawa bocah lima tahun itu ke dekapanku. Kuusap punggungnya sama seperti yang sering Min Seo lakukan. Tak lama ia kembali terlelap, deru nafasnya terdengar teratur.

Ini sudah larut malam -sepertiga malam bahkan. Tapi iris cokelat gelapku sama sekali enggan mengatup. Aku adalah seorang pecandu kopi, tapi sungguh kopi tak berguna mengatasi rasa kantuk. Dan faktanya malam ini aku tak meminum kopi.

Kubiarkan Haru tetap dalam pelukanku. Ia tak bisa lepas dariku saat tidur. Aku menghela nafas.

Pandanganku kosong menatap langit-langit. Cahaya bulan menelusup dari celah tirai yang memang tak kututup rapat. Ada rasa lain menguar menyebar ke seluruh tubuhku. Mengirimkan sinyal-sinyal aneh yang menurutku itulah penyebab kenapa insomniaku semakin parah.

Kosong dan hampa. Pernah aku merasa seperti berada dalam ruang hampa udara yang menghimpit. Membuatku kesulitan bernafas hingga bulir-bulir bening menyeruak memenuhi netraku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak kembali jadi Lee Donghae yang cengeng namun aku mengingkarinya.

Aku lemah. Bahkan jauh lebih lemah sekarang. Setelah dua tahun kewajiban negara kutuntaskan, nyatanya justru tak menyurutkan sifat kekanakan yang kumiliki.

Aku mencoba memejamkan mata. Mungkin dengan begini aku benar-benar bisa tertidur.

**

Aku terbangun saat tepukan keras menyerang pipiku berulang-ulang. Sinar keemasan surya menyambut iris cokelat kelamku. Terik. Refleks kugerakkan tangan menutup retinaku. Jam berapa sekarang?

Kudapati Haru memegang botol susu. Tersenyum sumringah mengucap sambutan pagi yang selalu diajarkan ibunya. Wanitaku bahkan mendidiknya dengan begitu baik.

Aku menggendongnya sebentar. Memutar-mutar tubuhnya seperti mainan pesawat terbang. Ia terkikik keras. Ah, jika Min Seo tahu aku pasti akan diceramahi habis-habisan.

“Kau akan terlambat papa” ucapnya sepersekian detik setelah tubuhnya kembali memijak lantai. Kugaruk tengkuk yang sebenarnya tak gatal. Kadang ia lebih pintar dari anak-anak seusianya.

**

Kuikat dasiku dengan bantuan kaca besar. Kumanfaatkan pantulan bayanganku untuk membuat simpul yang sebenarnya tidak terlalu rumit ini. Hanya saja aku tak terbiasa melakukannya sendirian.

Haru kutempatkan di samping kemudi, tempat favorit Min Seo biasanya. Pukul 07:45 KST. Kutolakkan mobil Porsche kesayanganku membelah jalanan Seoul. Hari ini Haru memilih ikut denganku dibanding bersama babysitternya.

“Papa” suaranya terdengar serius. Ekor mataku mengikuti arah pandang iris hazelnya. Toko bunga. “Bisakah setelah pulang nanti kita mampir ke toko bibi So Yun?”

Kuanggukkan kepalaku cepat. Toko bunga ya.

“…Aku ingin membeli bunga untuk mama” ada pancaran rindu dibalik huruf-huruf penyusun kata sederhananya. Bisa kutangkap tangan kecilnya menghapus kasar bulir bening yang mengalir dari sudut matanya.

Kualihkan pandangan ke jalan raya setelah sebelumnya mengangguk mengiyakan. Begitu banyak endapan sesak yang kusimpan rapi untukku sendiri.

Ini semua karena kesalahan fatalku. Sebuah dosa yang bahkan tak kuketahui dapat terampuni atau tidak. Hidupku sempurna, ya. Memiliki istri yang baik, anak yang tampan, perusahaan, jabatan tinggi, keluarga harmonis. Aku mencintai Min Seo dan ia pun demikian.

Benar-benar sempurna bukan?

Tapi aku sendiri yang mengacaukannya. Tuhan menyayangiku dengan mengirim cobaan yang menghantui tidur malamku, mengacaukan tiap-tiap konsentrasiku. Aku menghela nafas sekali lagi. Setidaknya untuk saat ini aku tak akan menjadi ayah yang rapuh untuk Haru.

###

Aku mengerang frustasi. Rambutku mungkin sudah amat kusut karena sedari tadi tanganku tak henti menarik ujungnya kasar. Hari ini aku terlambat bangun lagi dan bahkan Haru tak bisa menikmati susu hangat menu sarapan paginya.

Lingkaran hitam jelas tercipta di kedua mata sipitku. Efek insomniaku semakin parah saja. Kuraup wajah dengan kedua tanganku, menggosoknya kasar.

Tiga puluh menit lalu aku memesan susu hangat untuk anak usia lima tahun lengkap dengan merek susu formula yang biasa kuberikan pada Haru. Namun pesanan semudah itu saja tak juga datang. Haru menangis dan terus saja merengek. Bahkan Jong Woon hyung yang datang dengan segudang mainan Yeon Woon putranya tak juga menyurutkan tangisnya.

Konsentrasiku menguap entah kemana. Di atas mejaku berjejal dokumen-dokumen terbuka -yang belum juga kusentuh sejengkalpun. Hanya gumaman maaf yang bisa kuucapkan saat ini. Frustasi. Tentu saja.

Aku benar-benar tak bisa memaafkan diriku yang tak becus merawat Haru. Bagaimana reaksi Min Seo nanti? Aku adalah papa terburuk sepanjang sejarah.

Pintu ruang kerjaku diketuk setengah jam kemudian. Mungkin saja itu pesanan susu gelas ketigaku. Segera aku menyuruhnya masuk. Seorang wanita dengan setelan jasnya dan dua orang laki-laki berjas membungkuk hormat. Aku bahkan tidak tahu sekertarisku Nichan tak membatalkan pertemuan dengan kolegaku hari ini.

“Ada sesuatu mendesak yang harus segera saya sampaikan Sajangnim, saya–”

Kutekan interkom menghubungkan langsung dengan sekertarisku. Peduli setan. Aku benar-benar dalam mood buruk. “Aku sudah bilang aku tak menerima tamu dalam bentuk apapun nona Shin, apa kau tak mengerti juga?” suaraku menggelegar dalam ruangan. Haru terlelap di sofa setelah salah satu pegawaiku Sura memberikan parasetamol anak dan plester kompres demam untuknya. Duplikat kecilku demam. Betapa bodohnya aku tak menyadari hal itu cepat.

Seharusnya aku tahu Haru tak seaktif biasanya. Di hari-hari biasa ia tak akan menggangguku bekerja. Ia akan berkeliling kantor dengan sikap bossy yang dibuat-buat. Menyapa seluruh pegawaiku dengan suara berat yang akan mengundang tawa siapapun.

Pesonaku menurun padanya. Tak heran jika semua pegawai menyukai putra kecilku. Dan kurasa itulah alasan yang mendasari beberapa pegawai wanita datang ke ruanganku dengan obat, mainan, makanan ringan dan sejenisnya. Putra kita benar-benar dicintai sayang.

“M-maaf, kami akan segera undur diri” ucap wanita itu lagi. Aku bahkan tak melihat ekspresinya. Kubiarkan kedua tangan menangkup wajahku. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu Min Seo-ya.

**

Jantungku tak bisa berhenti berdetak normal sejak satu jam lalu kepulanganku dari kantor. Banyak pekerjaan menumpuk yang tak bisa kutinggal dan kurasa aku benar-benar tak bisa memanage waktu dengan baik.

Haru dijemput ibu mertuaku setelah jam makan siang. Demamnya sudah hilang dua hari lalu. Aku bersyukur tidak akan dicap sebagai menantu tidak becus oleh orang tua istriku tercinta Min Seo.

Aku menyambar kunci Porsche metalik hitamku. Memutar-mutarnya di udara. Jantung bodohku tak juga berhenti berdetak abnormal. Yang sejujurnya membuat ketakutanku semakin bertambah saja.

Setelah perdebatan kecil di dalam diriku kuputuskan kakiku untuk melangkah. Ya. Bagaimanapun juga aku tak boleh ragu menyikapi hal ini. Segera kuhela nafas bersamaan injakan pedal gasku tertancap. Kulajukan mobil kesayanganku dalam tempo sedang.

Hatiku bergemuruh. Sorak sorai tercipta bagai euforia pesta kembang api di sana.

Otakku bahkan mendadak macet untuk sekedar memikirkan kata pertama apa yang harus kukeluarkan nanti. Aku gugup dengan semua situasi tiba-tiba ini. Namun aku juga tak menyangkal perasaan gembira keluar dari hormon yang meningkat di tubuhku.

Kuparkirkan mobil tepat di depan toko kecil rapi bertulis Himawari Florist. Kulenggangkan kakiku masuk. Aku tak boleh membung waktu. Terdengar bunyi lonceng saat kakiku menapaki satu lantai marmer cokelat apik.

“Buket mawar putih lagi?” tanya So Yun langsung pada intinya. Aku mengangguk. Wanita seumuran istriku lantas mengambil beberapa tangkai mawar, membungkusnya dengan kertas berwarna cokelat.

Kusodorkan sejumlah uang ke genggamannya, ia memberiku satu bucket Hyacinth dengan warna senada mawarku. Empat siku lurus tercipta di dahiku. Aku tak mengerti.

“Untuk Min Seo, dariku” ia menjawab cepat seolah tahu gelagatku yang tak mengerti.

“Terima kasih”

Kembali kukemudikan mobilku masih dengan dentuman keras irama dari organ pentingku sendiri. Hey jantung bodoh, berhentilah berdetak!

Ah tidak, jangan berhenti. Aku bisa mati jika kau berhenti berdetak. Aku sudah gila sepertinya.

Keringat dingin juga enggan sirna dari kedua telapak tanganku. Beberapa kali kuusap cucuran itu ke celanaku. Benar-benar memalukan.

Mulai dari petugas keamanan, office boy, resepsionis, perawat, dokter dan entah apa lagi jabatan mereka membungkuk hormat. Tersenyum padaku seperti aku adalah orang paling penting di negeri ini. Kupaksa bibirku memblokade senyum manis. Jantungku masih saja bodoh andai kau tahu, dan semakin dekat rasanya semakin tak normal saja.

Haru menghambur memeluk kakiku. Wajahnya terlihat lelah namun sunggingan lengkung manis itu membuatku yakin ia dalam keadaan baik-baik saja. Kedua mertuaku duduk di kursi tunggu bersama ibuku yang entah sejak kapan kembali dari Kyoto. Bahkan anaknya sendiri pun lupa beliau beri tahu.

“Tou-san” Haru mengejutkanku dengan bahasa Jepang -bahasa asing yang bahkan aku tak pernah mengajarkannya. Kuusap puncak kepalanya sayang. “Kau tak memberiku hadiah tou-san?”

Aku mengernyit bingung. Hadiah? Bukankah ulang tahunnya baru digelar satu bulan lalu?

“Anakmu memintaku mengajarinya menyebut ‘Papa’ dan ‘Mama’ dalam bahasa Jepang. Kubilang ia harus mempraktekkannya padamu dahulu maka kau akan memberinya hadiah” ibuku memberi penjelasan. Kerjaan ibu-ibu memang merepotkan.

“Baiklah, nanti papa belikan hadiah untukmu”

Haru kembali memelukku erat. Aku meminta ibuku mengambil alih dua bucket yang kubawa. Antisipasi jika tidak ingin bunga-bunga cantikku layu.

“Bagaimana Min Seo?” ujarku lirih entah untuk siapa. Kupandangi sepatu yang membungkus kakiku seolah itu adalah pemandangan paling menarik. Bodoh. Bukan suara seperti ini yang ingin kukeluarkan.

Ayah mertuaku berdiri menjangkau Haru dari pangkuanku. “Beberapa refleks kecil belakangan menunjukkan reaksi yang signifikan. Ia sudah sadar. Hanya sedang tertidur sekarang”

“Temuilah dia Donghae-ya, kalian berdua sama-sama memendam rindu” imbuh ibu mertuaku menguatkan. Hatiku berbinar bahagia. Aku mengangguk memasuki ruang rawat istriku tercinta.

**

Hari ini aku membantu Min Seo membereskan bungkus kado yang berserakan. Haru dengan semangat membuka hadiah-hadiah ulang tahun kelimanya sesaat setelah menghabiskan sarapan pagi. Banyak mainan, mainan edukasi, dan berbagai macam lainnya tersebar di ruang keluarga. Termasuk satu skuter warna biru tanpa pembungkus kado juga tertera disana. Kado adik iparku memang berlebihan.

Kuputuskan membawa skuter itu ke garasi. Mengingat Haru masih belum cukup umur mengendarainya, mungkin aku bisa memanfaatkannya untuk pergi ke kantor. Boleh juga.

Kudengar Haru, ibuku dan Min Seo berceloteh ria. Aku terus melangkah dengan skuter dalam tuntunanku tanpa mempedulikan guyonan yang mereka bicarakan.

Aku hendak menutup garasi sebelum Haru dan Min Seo menghambur ke arahku. Disusul ibuku yang berjalan santai di belakang mereka.

“Papa, apa kau percaya mama bisa naik skuter itu?” tanya Haru polos. Aku terkekeh. Tidak sayang, ibumu adalah nona muda keluarga Song yang tak bisa mengendarai jenis kendaraan roda dua kecuali sepeda.

Min Seo memberi kode padaku dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku yakin istri cantikku tidak ingin terlihat bodoh di depan anaknya.

“Mm.. Ya” dengan ragu akhirnya jawabanku lolos. Haru memalingkan wajah ke arah Min Seo.

“Lihat, papamu saja bilang mama ini handal. Kau masih tidak percaya hm?”

Haru menaikkan kedua tangannya, berkacak pinggang masih tidak percaya. Bagus, jangan percaya bualan mamamu sayang. “Kalau begitu tunjukkan padaku dan nenek”

Bisa kulihat air muka Min Seo berubah -sedetik kemudian semangat kembali menyala dalam dirinya. Ia menyetujui tantangan Haru dan segera melesat mengambil skuter. Kuputuskan untuk ikut dengannya sebelum ia benar-benar takut dan berbuat konyol.

Aku duduk tepat di belakangnya. Sedikit gugup ia menekan gas dengan tangan kanannya. Kupegang erat pinggangnya setelah ia mempercepat skuter. Haru melompat gembira menyoraki kami.

Ia membawa skuter keluar dari halaman, menyusuri jalanan kompleks. Kurasa ia tidak terlalu gugup sekarang. Cengkeramanku di pinggangnya sedikit memudar.

Seorang anak umur empat tahun berlarian di jalan. Tubuh Min Seo tegang terbukti dengan laju skuter yang mulai oleng.

“Rileks sayang. Kendurkan gas dan tekan rem perlahan” ucapku mencoba tenang meskipun aku juga gugup. Aku benci sifat keras kepalanya yang tak mau mengalah hanya karena ejekan putra kami.

Hal tak terduga terjadi. Anak kecil yang berlarian tadi mampu ditangkap ibunya namun tak menyurutkan ketakutan di diri Min Seo. Ia masih tegang dan sepertinya kata-kataku tadi tak berarti.

Skuter semakin bergerak liar saat Min Seo memutar gas. Aku terjungkal ke belakang. Min Seo menekan rem mendadak. Setelahnya kudengar suara hantaman skuter beradu dengan pagar besi. Tubuh Min Seo juga terpental ringan, seperti tak memiliki bobot. Jatuh tepat sebelum aku sigap menangkapnya.

**

Kuusap punggung tangan halusnya. Setelah kejadian itu Min Seo mengalami koma selama hampir satu bulan ini. Haru menyesal. Ia selalu membeli bunga Hyacinth putih dan meletakkannya di nakas. Tepat di samping mawar putih yang selalu kuganti setiap hari.

Aku meremas jemarinya. Mataku memanas, yakin sebentar lagi air mata akan jatuh menuruni pipiku. Aku begitu merindukan senyuman hangat menghiasi di wajahnya. Rindu suara manja maupun keluhan marahnya. Bahkan aku juga merindukan rengekannya. Sebuah aliran bening menelusuri pipiku.

Ia telah bangun dari tidur panjangnya selama ini. Ia akan kembali lagi menghangatkan keluarga kami dengan tingkahnya yang selalu tak bisa kuduga. Keluarga kami akan benar-benar utuh kembali. Keluarga kecil kebanggaanku.

Aku menepati janjiku sebagai laki-laki sejati. Tak akan pernah meninggalkannya dan berpaling dengan yang lain. Itu mengingatkanku pada mini seri yang dulu kami tonton bersama. Pemeran laki-lakinya bernama sama denganku, Lee Donghae.

Hurt. Mini seri yang membuatnya banyak mengeluarkan air mata. Membuatku tercengang karena dengan angkuhnya Donghae di drama itu meninggalkan istrinya yang koma untuk menikah dengan kakak perempuan istrinya.

Aku pernah berjanji padanya untuk tak berlaku demikian. Dia adalah satu-satunya wanita yang meluluhkan hati juga jiwaku. Bagaimana bisa aku berpaling dari seorang yang bahkan membawa hatiku ikut serta dengannya?

Kutoleh kepalaku ke arah pintu saat tak sengaja kudengar decitnya pelan. Haru bergeming menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan. “Kemarilah sayang” ucapku mengayunkan tangan.

Ia mengangguk berlari mendekat ke arah kami. “Papa, mama menerima permintaan maafku kan?” ia mendongak setelah kududukkan tubuhnya di atas pahaku.

“Pasti sayang. Apa tadi kau sudah mengajak mama bicara?”

Ia menggeleng pelan. Raut wajahnya sedikit kecewa. “Kakek tidak memperbolehkanku berbicara. Katanya mama masih perlu diperiksa bibi Chae Rin”

Sebuah gerakan menyita perhatianku. Perlahan kelopak indah itu kembali terbuka, menampilkan dua iris hazel berkilat rindu favoritku. Matanya berair, beberapa bahkan sudah tumpah di kedua pipi gembilnya.

“Aku tidak akan mau mengendarai skuter lagi” lirih ia bicara dengan lancar. Ditatapnya bergantian aku dan Haru. Ia kembali terisak dalam senyuman yang begitu kurindukan.

Kunaikkan Haru ke bangsalnya. Tangan kecilnya buru-buru mengusap lelehan yang tercipta di wajah ibunya. “Maafkan aku mama” Haru memeluknya intens. “…Aku merindukanmu”

Ia kembali menangis dalam senyumnya. Peganganku dari tangannya tak pernah mengendur sedari tadi.

“Aku juga merindukanmu sayang. Rumah sepi tanpa kehadiranmu. Dan kau lihat, aku menepati janjiku seperti pria sejati” cairan bening juga terpetak dari sudut mataku sendiri. Kuikuti jejak Haru merengkuhnya. Merengkuh keluarga kecil yang paling kucintai.

Tuhan, terima kasih atas kesempatan kedua yang kau anugerahkan untukku.

“Mama, papa tak pernah memberiku susu hangat karena selalu bangun telat”

Anak pintar. Ia akan mengacaukan reuni rindu antara kami.

“Benarkah itu tuan Presdir?”

Kulepas rengkuhanku. Aku menggosok leherku sendiri. Sepertinya hariku akan panjang.

-FIN-

Pembaca yang Baik Adalah Pembaca yang Meninggalkan Jejak *NgilangbarengDonghae wkwk

Glosarium :
– Sajangnim: Presiden Direktur (bahasa Korea)
– Tou-san / Otou-san: Ayah (bahasa Jepang)
– Mini Seri “Hurt”: Project FF Pertama Saya Dengan kak JApple’s
– Hyacinth: Nama Bunga. Hyacinth Putih artinya “Aku berdoa untukmu”

A/N: Bagaimana romance saya? Bad? Saya tahu itu wkwk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s